
Sadam Pov.
Seumur hidup baru kali pertama ini Aku melihat putriku menangis seperti ini. Tubuhnya yang kecil gemetar dengan air mata yang tidak berhenti berproduksi membasahi kedua pipinya. Berkali-kali Aku bertanya mengenai apa yang terjadi, tapi Liora masih diam Ia tidak bisa menghentikan tangisannya itu sampai membuatku hampir gila sendiri. Dengan hati yang kalut, Aku memeluknya dengan erat dan mencoba menenangkannya dan selang beberapa waktu tangisan itu terhenti.
Aku mulai bertanya padanya mengenai apa yang terjadi sebenarnya dan akhirnya Liora menjawab dengan bibir yang gemetar bahwa itu semua karena Tasya. Aku benar-benar sudah kehilangan kesabaran pada wanita itu, darahku seakan mendidih ketika mengetahui dia menekan batin putriku sampai seperti ini dan Akan aku pastikan Tasya mendapatkan hukumannya-hukuman yang tidak pernah dibayangkan olehnya bahkan Dia akan memilih mati lebih baik dari pada hidup di dunia ini.
“Liora, pulang saja bersama Mama Sifa dan juga Nenek serta Mbak Anggun,” ucapku padanya dengan mengecup keningnya.
“Liora, ingin bersama Papa,” rengek Liora padaku. Bahkan kini Ia semakin erat memelukku.
Sifana melangkah kearah kami berdua lalu berkata, “Sayang, Papa harus bekerja. Apakah Liora tidak sayang lagi sama Mama sampai tidak mau.ikut pulang?” tanya Sifana dengan nada suara yang lembut pada putriku. Entah mengapa Aku selalu suka melihat perhatian Sifana pada putriku.
“Liora, sayang sama Mama.” Liora melepaskan pelukannya dariku kemudian memeluk Sifana sembari mengecup keningnya.
“Sayang, tolong jaga dia,” pintaku pada Sifana sembari mengusap pipinya. Aku sungguh mencintainya dan akan Aku jaga kalian semua.
“Liora juga putriku, jadi tidak perlu mengatakan itu, Aku tidak suka.” Sifana mengerucutkan bibirnya karena tidak terima mendengarkan ucapanku barusan. Aku yang melihatnya ikut gemas sendiri lalu mencubit pipinya.
“Iya, dia anak kita dan yang satu anak lain masih proses pembuatan.” Entah mengapa Aku malah ingin menggodanya, entah mengapa melihat wajahnya yang marah padaku itu bisa memadamkan kobaran api yang tadi sempat membuat darah ini mendidih.
“Jangan bercanda, ada anak kecil.” Istriku itu membulatkan penuh matanya ketika berbicara.
Untung saja Liora tidak mendengarkan perbincangan kami andaikan anak itu dengar Dia pasti m meminta penjelasan akan apa yang kami berdua katakan barusan.
Kami melangkah keluar dari kantor ini bersama, Aku mengendong Liora sedangkan Sifana sendiri mendorong kursi roda Anggun. Semua orang melihat kearah kami namun Aku tidak perduli. Ketika Aku sudah menceraikan Tasya, disaat itulah akan aku perkenalkan Sifana kepada semua orang.
__ADS_1
“Mas, jauhkan tangan kamu dari pundak ku, lihatlah semua orang menatap kita dan nanti mereka akan mengira jika Aku ini penggoda.” Aku melihat tatapan tidak nyaman yang kini nampak jelas di wajah istriku.
“Biarkan saja, aku tidak perduli dengan orang lain,” sahutku acuh.
“Tapi aku perduli.”
Akhirnya Aku mengalah dan menjauhkan tanganku darinya. Setelah mobil yang di tumpangi oleh Sifana dan juga yang lain meninggalkan halaman perusahaan Aku langsung meminta pengawal menyiapkan mobilku. Dengan perasaan kalut Aku membanting pintu mobil itu dan melajukan kendaraan ini menuju kantor polisi. Selama di dalam mobil beberapa kali Aku memukulkan tangan ini ke setir mobil saat isak tangis putriku kembali terngiang-ngiang di telinga ini seperti kaset yang terus saja di putar ulang hingga membuat emosi semakin memuncak di ubun-ubun ini.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya Aku sampai juga di kantor polisi, mereka sudah tahu jika Aku akan menjenguk Tasya lalu mereka membawaku menuju sel wanita sialan itu berada. Pandanganku tertuju pada wanita yang kini sedang duduk di lantai dengan bibir yang di basahi oleh cairan merah sepertinya para tahanan lainnya baru saja memberikan hadian untuknya.
“Mas Sadam,” panggil Tasya padaku. Tangannya terulur keluar dari jeruji besi seakan hendak menggapai tubuhku.
Aku mundur beberapa langkah kebelakang. Aku menyisir bagian dalam sel tahanan itu, terlihat semua tahanan lain sedang melahap makanan dengan begitu rakus sekali dan aku tahu itu adalah masakan istriku. Salah satu tahanan bertubuh gemuk beranjak berdiri dari posisi duduknya lalu melangkah menuju jeruji besi dan aku masih mengamatinya dengan wajah datar.
“Pak, terima kasih. Makanan ini sangat lezat sekali,” ucapnya padaku dengan sangat tulus.
“Baik.” Wanita bertubuh gemuk itu tidak bertanya mengenai alasannya lalu pergi begitu saja.
“Mas Sadam, kenapa kamu tega sekali padaku?” tanya Tasya dengan air matanya yang jatuh. Sumpah demi apapun andaikan dia lelaki sudah Aku habisi dengan tanganku sendiri.
“Berhenti menangis, itu membuatku semakin muak.” Aku bicara melalui sela-sela gigi ini.
“Mas, tolong bebaskan aku dari tempat ini. Aku tahu kamu datang kemari untuk menolong aku.” Entah sudah gila atau apa Dia benar-benar wanita yang sudah kehilangan akal.
"Tasya, bagaimana mungkin kamu memikirkan jika aku akan melepaskan kamu, sedangkan kau tahu Liora tertekan batinnya memiliki ibu sepertimu kau sungguh kejam sekali, kau tidak punya hati. Liora adalah putri kamu sendiri tapi apa yang kamu lakukan ini sudah melukai hatinya dengan sangat dalam." Aku berbicara melalui sela-sela gigiku.
__ADS_1
Aku melihat Tasya hanya mengisi tapi aku tahu itu bukan air mata penyesalan melainkan hanya putar saja untuk membuat aku iba padanya lalu membantunya keluar dari sel ini. Sekilas pandanganku menatap kedalam jeruji besi, aku melihat semua tahanan yang tadi sedang asik makan langsung menatap kearah Tasya sengit sekarang mereka siap menghancurkan Tasya saat ini juga.
"Tasya, kamu tega sekali dengan anak kandung kamu sendiri. Kami semua masuk kedalam sel ini karena mencuri hanya agar bisa membuat anak-anak kami tetap makan dengan kenyang, tapi lihatlah ini yang kamu lakukan sungguh keterlaluan sekali."
Terdengar suara tahanan lain yang menyalah-nyalahkan Tasya. Sedangkan Tasya menatap mereka semua dengan penuh kebencian lalu ia berdiri dari posisi duduknya perlahan.
"Kalian semua tahu apa! Itu urusan kalian jika mau menjaga anak kalian tapi aku hanya ingin hidup bebas." Aku menarik senyuman tipis-sungguh ingin aku bunuh wanita ini sekarang juga.
"Tasya, kamu jangan keterlaluan. Liora anak yang baik dan Dia juga menyayangi kamu. Liora melihat sendiri kami menusuk Sifana, tapi anak itu masih mau menjenguk kamu di penjara bahkan dia sampai merengek padaku, meminta untuk di ijinkan menjenguk kamu. Andaikan kau lelaki sudah Aku pastikan kau akan mati." Aku mengepak kedua tangan ini dengan rahang yang mengeras, sungguh aku bisa kehilangan akal jika terus berbicara dengan wanita gila sepertinya.
"Pak, bolehkan kami membantu kamu?" tanya seorang wanita paruh baya yang aku yakini adalah orang yang berkuasa di sel ini.
"Ya, tentu saja. Sebagai gantinya aku akan mengurus pendidik dan juga kehidupan anak kamu. Tapi pastikan Dia lebih memilih mati dari pada hidup di dunia ini." Setelah bicara Aku langsung memutar tubuhku.
"Mas Sadam. Aku mohon jangan lakukan ini, Aku benar-benar minta maaf."
Buk ... buk ... buk!
Terdengar suara gaduh dari arah belakangku, tapi Aku hanya diam. Beberapa polisi datang mendekat kearah kami usai mendengarkan suara teriakan Tasya yang begitu lantang meminta bantuan.
"Pak Sadam, ada apa ini?" tanya polisi paruh baya dengan rambut botaknya.
"Aku ingin menghukumnya, biarkan saja Dia lantas menerima semua ini." Usai bicara aku berlalu pergi begitu saja tanpa mau menoleh ke arah belakang.
"Hei, wanita gila. Kau itu sudah beruntung menjadi menantu keluarga terkaya di negara ini, lah kok malah cari masalah sekarang Kau tanggung sendiri akhibatnya."
__ADS_1
Samar-samar Aku mendengar suara Pak polisi menyalahkan Tasya, aku mengerakkan gigiku menahan emosi yang masih membara. Hukuman untuk Tasya masih belum setimpal karena apa yang Ia lakukan pada Liora sudah sangat keterlaluan sekali, putriku yang malang, Maafkan Papa yang selama ini terlalu dibutakan oleh cinta dan mengira jika kamu terkena dampak besar jikalau kami berpisah tapi siapa sangka jika batin kamu justru tersiksa.