Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Mau Makan Malam Atau Menggoda Pengunjung Restoran


__ADS_3

Mas Sadam mengambil sisir lalu membenarkan rambutku yang tadi sempat berantakan karena ulahnya, Aku hanya diam dengan mengerucutkan bibir ini sebal melihat tingkahnya itu.


“Begini baru benar.” Itulah kata menyebalkan yang keluar dari bibirnya.


“Mas, apa yang kamu lakukan, aku sudah berdandan cantik sekitar satu jam, seenaknya saja menghapus riasan ku tanpa rasa bersalah sedikitpun, menyebalkan sekali,” cecarku sembari mundur beberapa langkah kebelakang.


“Sayang, kamu itu mau makan malam atau mau menggoda para pengunjung restoran,” tuduhnya padaku dengan tatapan penuh intimidasi.


“Mas, Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku merasa bersalah saja karena tadi pagi sudah mengira kamu jahat pada Bu Ida dan juga Kiera dan karena sebab itu Aku mau menebus kesah ku dengan berdandan cantik,” ucapku padanya dengan mencebikkan bibir ini.


“Kalau mau berdandan cantik, nanti akan aku belikan 20 pasang lingerie dalam berbagai bentuk, kamu pakai itu ketika malam saat kita mau bermain,” ucap Mas Sadam dengan senyuman evilnya.


“Selalu saja membahas hal itu, menyebalkan sekali,” ucapku merajuk sembari mendudukkan tubuh pelan di sofa.


Kini Mas Sadam berjongkok di hadapanku, kedua tangannya menggenggam tanganku dan manik mata kami saling menatap, aku melihat tatapan hangat dari binar matanya menembus sampai ke hati ini. “Sayang, Aku tidak suka jika kamu dilihat oleh lelaki lain, jadi kelak jika keluar rumah tidak perlu berdandan cantik cukup berdandan sederhana saja,” ucapnya padaku lalu Mas Sadam mengecup punggung tangan ini.


“Seharunya kamu bicara padaku Mas, bukan malah membuat aku salah paham seperti ini,” ucapku padanya.


“Lain kali Aku tidak akan membuat kamu salah paham lagi, jadi lain waktu Aku akan langsung berbicara agar tidak ada lagi kesal pahaman diantara kita.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju.


***


Aku dan juga Mas Sadam melangkah masuk ke dalam restoran yang ada di puncak hotel tempat kami menginap. Ini adalah sabtu malam minggu dan tempat ini terlihat ramai sekali ada pemuda-pemudi dan ada juga beberapa pekerja yang bersantai dengan teman-temannya mungkin karena besok adalah hari libur. Untung saja Mas Sadam tadi sudah memesan meja yang letaknya paling pojok dan dekat dengan dinding yang terbuat dari kaca transparan ini supaya Aku bisa menatap permandangan yang ada di bawah sana.


Setelah kami datang, para pelayan langsung menaruh makanan yang tadi sudah Mas Sadam pesan dari pesan singkat dalam ponselnya. Aku melihat ada soto daging dan juga ayam bakar di atas meja kami.

__ADS_1


“Mas, kamu masih ingat saja jika tadi siang Aku ingin makan ayam bakar,” ucapku padanya.


“Aku akan selalu mengingat apa yang kamu inginkan,” sahut Mas Sadam padaku.


“Terima kasih, Mas.”


“Ayo kita langsung makan saja, keburu dingin,” ucap Mas Sadam padaku dan Aku langsung menganggukkan kepala mengerti.


Aku merasakan rambut panjang ini yang tergerai bergerak mengikuti hembusan angin membawanya, maklum saja karena kami berada di lantai paling atas yang langsung beratapkan langit dan letaknya juga berada di puncak hotel jadi anginnya juga cukup kencang dan beruntung sekali Aku mengunakan dress yang memiliki lengan panjang jadi tidak kedinginan. Aku melihat Mas Sadam memakan soto daging khas Madura dengan sangat nikmat sekali, sesekali Ia menatapku dan aku membalas dengan senyuman manis.


Aku melihat Mas Sadam menambahkannya cabai dan juga perasan air jeruk nipis untuk menambah nikmat rasa kuah soto berwarna kuning ini.


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar hotel. Berjarak tiga meja dari tempat duduk kami ada segerombolan lelaki yang usianya kira-kira sama dengan Mas Sadam sedang bersenda gurau dengan teman lainnya. Aku melihat mereka menatapku dengan pandangan yang sangat menjijikan sekali, air mukanya


“Ada apa, Sayang?” tanya Mas Sadam padaku.


“Aku langsung mendongakkan kepala melihatnya lalu berkata. “Tidak ada apa-apa, Mas.” Aku tersenyum manis padanya.


“Apakah mereka membuat kamu tidak nyaman?” tanya Mas Sadam sembari melirik kearah yang tadi sempat Aku lihat.


“Tidak Mas, jangan hiraukan mereka,” ucapku padanya sembari menggenggam tangan Mas Sadam.


“Baiklah,” sahut Mas Sadam.


Aku dan juga Mas Sadam sudah selesai makan. Beberapa pelayan membersihkan meja kami. Aku dan juga Mas Sadam berganti duduk di sofa yang mengarah langsung ke pemandangan yang tersuguh manja di bawah sana. Ya di restoran ini tidak hanya ada tempat makan tapi ada juga tempat bersantai dan tidak semua pengunjung bisa makan di sini kecuali yang dari kalangan atas saja.

__ADS_1


“Mas, ini semua masih seperti mimpi bagiku. Aku hanyalah pelayan miskin tapi lihatlah sekarang, Aku malah berada di tempat ini dan bisa dengan mudah menatap dunia dari atas hotel pencakar langit ini,” ucapku


padanya.


“Sayang, percayalah satu hal. Tuhan menjadikan kamu pelayan di rumah Erlanga karena Ia ingin menyatuhkan kita dengan cara lain,” ucap Mas Sadam sembari melihatku.


“Bolehkan aku berbicara dengan jujur,” ucapnya padaku.


“Ya, katakan saja,” sahutku padanya.


“Dari awal Aku melihat cara kamu memperlakukan Liora dengan sangat lembut, aku sudah bisa menebak jika kamu adalah wanita yang baik dan juga penyayang, Liora tidak mudah dekat dengan orang lain tapi dari awal Dia juga sudah merasa jika kamu sangat baik dan juga menyayanginya dengan tulus jadi tidak heran jika putriku itu lebih dekat dengan kamu dari pada Tasya.” Mas Sadam berbicara panjang lebar dan aku bisa melihat kejujuran dari manik matanya saat menatapku saat ini.


“Lalu apa yang kamu pikirkan, Mas ketika mengetahui Aku ikut ambil bagian dalam rencana konyol yang membuat kita menikah?” tanyaku lagi.


“Dari awal, Aku sudah tahu jika Mama dan juga Papa adalah dalang dibalik semua ini. Aku tentu saja membenci kamu waktu itu, tapi jujur saja setelah di pikir memiliki istri yang cantik tidak rugi juga,” ucap Mas Sadam sembari memelukku.


“Mas, kamu menyebalkan.” Aku memukul dadanya tanpa menyakitinya.


“Percayalah, Sayang. Aku tidak pernah menyesal menjadikan kamu istriku.” Mas Sadam mengecup puncak kepalaku dan Aku memeluknya.


“Mas, bukankah ini seperti bulan madu?” tanyaku padanya sembari mendongakkan kepala.


“Tentu saja berbeda, Sayang. Jika bulan madu kita akan menghabiskan banyak waktu di atas ranjang membuat adik untuk Liora dan juga Anggun, tapi selama berada di hotel ini berhari-hari kita tidak melakukan senam sama sekali.” Aish suamiku ini selalu tidak jauh dari hal itu, apakah di otaknya hanya ada adegan ranjang saja. Sungguh menyebalkan sekali.


Apakah suami kalian juga sama? Haha jawab dong reader, tersayang.

__ADS_1


__ADS_2