Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Perhatian Mas Sadam


__ADS_3

Aku memeluk tubuh Liora sembari mengusap punggungnya lalu aku


berkata jika semua akan baik-baik saja. Gadis kecil itu mengecup kedua pipiku secara bergantian kemudian berlalu pergi begitu saja sepertinya Liora takut jika sampai Mbak Tasya melihat kami sedekat ini, kadang aku juga sedikit ragu apakah benar Liora itu anak kandung Mbak Tasya karena wanita itu selalu saja bersikap kejam dan tidak segan mencubit ataupun memarahi Liora, tapi mungkin


ini hanya pemikiran konyolku saja.


Aku melangkah masuk menuju ke pintu utama, aku berharap tidak melihat Mbak Tasya karena entah apa yang akan wanita itu katakan jika


melihat aku tiba-tiba kembali ke rumah ini, aku melangkah perlahan hendak memasuki kamar, tapi aroma gosong menyeruak masuk kedalam indra penciumanku sontak langkah kakiku langsung terhenti dan aku menaruh tas yang aku genggam sejak


dari tadi di depan kamar kemudian melangkah menuju ke dapur dan secara kebetulan Mas Sadam juga melakukan hal yang sama.


Aku dan juga Mas Sadam melangkah masuk ke dapur secara bergantian, dan aku melihat api yang sedikit membesar menghanguskan panci yang ada di atas kompor sedangkan dapur ini penuh dengan asap aku hendak berlari untuk mematikan kompor itu akan tetapi Mas Sadam langsung meraih tanganku dan


menyuruhku menjauh.


“Mas Sadam, biar saya saja nanti, Mas bisa terluka,” ucapku dengan air muka kelihatan khawatir. Sekilas aku melihat lelaki itu mengerutkan


keningnya sembari menatapku lalu berkata.


“Kamu pikir, aku akan membiarkan kamu terluka,” tanpa menunggu jawaban dariku Mas Sadam langsung berlari cepat menuju ke wastafel


membawa ember yang berisikan air lalu ia tuangkan ke atas kompor yang masih menyala.


Api itu langsung lebur bersama dengan asap yang mulai memenuhi dapur, aku terbatuk-batuk dengan satu tangan mengibas asap yang ada


didepan wajah. Mas Sadam langsung menarik ku keluar dari dapur ini. Entah mengapa aku merasa jika Mas Sadam sedang mengkhawatirkan aku ataukan itu pikiranku saja? Tapi aku berharap pemikiran ini tidak salah, aku tahu cinta ini akan membunuhku karena aku mencintai lelaki yang salah dan aku akan menanggung resikonya.

__ADS_1


“Sifana, apakah kamu tidak pa-pa?” kedua tangan Mas Sadam memegangi pundak ku lalu ia menyibakkan anak rambutku yang menutupi wajah sebab


aku masih terbentuk-batuk dengan posisi kepala tertunduk. Aku tersenyum getir melihat Mas Sadam pergi begitu saja setelah berlagak perhatian dan khawatir padaku, akan tetapi sesaat kemudian lelaki itu kembali lagi dan memberikan aku


satu gelas air minum.


“Terima kasih,” ujarku sembari menerima air tersebut lalu meneguknya sampai tandas.


“Apakah sekarang sudah lebih baikan?” tanyanya lagi memastikan kondisiku sekarang dan aku menjawabnya dengan satu kali anggukkan kepala.


“Apa ini yang terjadi?” tanya Mbak Tasya heboh sendiri. Wanita itu menatapku tajam dan aku segera menundukkan kepala tidak mau melihatnya. Mungkin saja dia masih belum menyadari jika semua ini karena kecerobohannya yang meninggalkan dapur dalam keadaan kompor yang masih menyala.


“Harusnya aku yang bertanya pada kamu, kenapa kamu menyalakan api lalu pergi begitu saja, jika saja aku tidak datang mungkin seisi rumah ini akan hangus terbakar.”


Aku terjingkat usai mendengarkan suara Mas Sadam yang begitu lantang dan penuh intimidasi. Ini untuk kali pertama aku melihat Mas Sadam berbicara kasar pada Mbak Tasya, mungkin memang ini tidak sepenuhnya salah karena Mbak Tasya sudah teledor.


“Kamu bisa mematikan apinya terlebih dahulu,” ujar Mas Sadam


masih merasa kesal jika di dengar dari nada ucapannya barusan.


“lain kali, aku tidak akan melakukannya lagi,” aku mendengarkan suara Mbak Tasya sengaja di buat menggoda untuk meluluhkan hati Mas Sadam.


Aku hanya berdiri mematung seperti orang bodoh di antara keduanya. Mungkin aku juga sudah mirip seperti obat nyamuk yang mengganggu


keduanya, sebaiknya aku lekas pergi karena jujur saja hatiku terasa sakit sekali ketika melihat Mas Sadam bermesraan dengan Mbak Tasya, tapi apa yang bisa aku lakukan selain diam dan berpura-pura tidak melihatnya. Miris sekali bukan.


“Sifana, dari mana saja kamu selama beberapa hari ini? Kamu tidak memberikan kabar kepada kami berdua dan sekarang kembali seenaknya memangnya siapa kamu di rumah ini?” suara Mbak Tasya menghentikan langkah kakiku dan kini aku kembali mengharap keduanya seperti anak kecil yang sedang

__ADS_1


dimarahi oleh kedua orangtuanya karena melakukan kenakalan.


“Saya adalah pelayan di rumah ini, maaf jika satu minggu ini saya tidak meminta ijin terlebih dahulu,” ucapku tanpa mau mengatakan apa alasan yang sebenarnya toh meskipun aku menjelaskan wanita seperti Mbak Tasya tidak akan mau perduli dan justru akan semakin menghinaku.


“Jika kamu ada di rumah ini maka kejadian di dapur tadi tidak akan terjadi! Secara tidak langsung ini semua adalah kesalahan kamu,”


tuduh Mbak Tasya padaku. Wanita ini benar-benar pandai sekali mengkambing hitamkan orang lain.


“Sayang, kamu tidak boleh melimpahkan kesalahan kamu pada


orang lain, ini tidak baik.” Ucapan Mas Sadam penuh dengan teguran bahkan aku melihat lelaki itu menatap tajam kearah Mbak Tasya.


“Sayang, bu-bukan begitu maksudku.”


Aku masih menundukkan kepala dan aku juga masih bisa melihat jika kini Mas Sadam pergi meninggalkan Mbak Tasya, dan selang beberapa detik Mbak Tasya mengikutinya dan aku seperti orang bodoh yang pergi masuk kedalam kamarku. Sabar Sifana semua akan berakhir ketika Anggun sembuh, aku akan keluar


dari rumah ini dan sebelum hal itu terjadi semoga saja perasaan cintaku pada Mas Sadam lembur bersama harapan-harapan yang sudah memudar sejak dari awal.


***


Malam ini aku memasak soto daging dan juga ayam bakar kesukaan Liora. Aku baru saja selesai menaruh hidangan makan malam ini di atas meja makan kemudian aku hendak melangkah keluar dari dapur untuk memberitahu tubuhku dari sisa keringat karena aku belum mandi sejak pulang dari rumah sakit tadi siang.


Mas Sadam melangkah masuk kedalam dapur, aku yang semula berjalan dengan mengangkat pandangan segera menundukkan kepala. Kami hampir saja berpapasan akan tetapi langkah Mas Sadam terhenti dan dia menatapku.


"Makan malam bersama kami, di meja makan," ya kata itu yang keluar dari bibirnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang telah aku dengar barusan, aku langsung mengangkat kepalaku menatapnya.


"Maaf, bisa ulangi lagi karena saya takut salah dengar," ucapku sembari mengigit bibir bagian bawahku menahan rasa malu bercampur penasaran yang kini sedang merayapi tubuhku.

__ADS_1


Kira-kira Sadam akan mengulangi ucapan itu tadi apa nggak ya. Dan jangan lupa komentar supaya di kasih banyak update setiap harinya dan wajib berikan love serta vote ya. Terima Kasih


__ADS_2