Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Apa Itu Ngidam


__ADS_3

Mas Sadam memejamkan matanya, aku tahu ia selalu merasa nyaman jika aku pijat seperti ini. Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan ini, aku langsung menyuruh seseorang itu masuk dan terlihatlah Mama Elsa mulai melangkah masuk kedalam kamar kami. Mas Sadam yang semula menutup mata langsung membuka matanya dengan tangan yang gesit menutupi hidungnya. Aku melihat Mas Sadam yang mulai duduk dengan tegak sembari melihat kearah Mama Elsa.


“Sifana, Sadam kenapa kalian belum turun juga untuk sarapan pagi?” tanya Mama Elsa sembari menatap kearah aku dan juga Mas Sadam bergantian.


“Hoek,” Mas Sadam mulai mual. “Ma, kenapa tidak mandi dahulu, bau Mama mirip seperti ikan membuat aku mual.” Usai bicara Mas Sadam langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.


Aku menepuk jidatku sendiri sedangkan Mama Elsa langsung bengong seperti orang bingung, jelas saja Mama mertuaku kaget melihat sikap mas Sadam yang seperti ini.


“Sifa, kenapa dengan suami kamu?” tanya wanita paruh baya itu padaku,


“Ma, dia sedang ngindam mengantikan ku dan Mas Sadam tidak suka bau ikan, aku tadi aja langsung di suruh mandi,” jelasku padanya.


“Hahahaha , lucu juga melihat dia yang mual-mual seperti ini,” ujar Mama Elsa dengan terkekeh geli.


“Ma, kasihan Mas Sadam nanti kalau dia kerja bagaimana,” ujarku bingung sendiri.


“Sudah, kamu jangan bingung masalah itu malah lebih bagus lelaki yang mengidam jadi kamu tidak merasakan sakit sendiri selama mengandung,” ujar Mama Elsa. “Mama akan mandi dulu, jika Sadam tidak mau ada bau ikan sebaiknya kamu ambilkan saja ia makan dan bawa ke kamar.” Aku langsung mengganggukkan kepala kemudian Mama Elsa keluar dari ruangan kamar ini.


Aku buru-buru melangkah masuk kedalam kamar mandi. Mas Sadam sedang membasuh wajahnya dengan kucuran air dari kran lalu lelaki itu bersandar di wastafel sembari menundukkan kepalannya aku meraih handuk kecil lalu mengangkat wajah suamiku dan dengan gerakan perlahan aku membersihkan air yang masih membasahi wajah tampannya. Selesai melihat kondisinya yang baik-baik saja aku langsung menyuruhnya untuk mandi. Suamiku sangat patuh sekali entah mengapa itu membuatku gemas melihat sikapnya sekarang dan aku langsung melangkah keluar dari kamar. Kini aku sudah berada di dapur aku melihat Anggun dan juga Liora menghentikan makan mereka ketika melihatku.


“Mama, kemana Papa? Kenapa tidak ikut sarapan dengan kita?” tanya Liora sembari menatapku dengan wajah penuh tanya.

__ADS_1


“Papa, akan makan di dalam kamar,” sahutku dengan mengulas senyuman manis.


“Apakah Mas Sadam sedang sakit?” tanya Anggun kemudian.


“Hanya kurang enak badan saja, tapi nanti juga akan sembuh,” sahutku sembari menuangkan air mineral di gelas Anggun yang masih kosong.


“Dia sakit apa?” tanya Papa Sadam dengan air muka terlihat cemas.


“Sadam sedang merasa mual mencium bau ikan,” ujar Mama Elsa dengan tersenyum geli.


Papa Damar terlihat mengerutkan keningnya ia tidak mengerti apa yang barusan diucapkan oleh Mama Elsa. “Maksud Mama itu apa? Papa baru dengar jika ada sakit seperti itu,” ujar lelaki paruh baya itu bingung.


“Sadam sedang mengidam, Pa,” ujar Mama Elsa.


“Iya. Tadi Mama masuk kedalam kamarnya dan ia mengatakan jika Mama ini bau ikan dan sejak Sifana hamil sepertinya Sadam memiliki hidung yang tajam seperti ikan hiu yang mencium bau darah di dalam air,” ujar Mama Elsa.


“Hahaha, Papa jadi penasaran melihatnya secara langsung.”


“Nenek, Kakak mengidam itu apa?” tanya Liora yang merasa penasaran.


“Mengidam itu bawaan dari adek kamu yang masih berada didalam kandungan Mama Sifa,” ujar Mama Elsa memberikan pengertian yang akan mudah di cerna oleh cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


“Berarti adek Liora nakal dong,” ujar Liora dengan melirik kearah perutku.


“Kenapa adek yang masih belum lahir itu nakal?” tanya Anggun dengan tatapan tidak mengerti.


“Karena adek sudah membuat Papa mual,” sahut Liora dengan polos.


Aku dan juga Mama Elsa mengelengkan kepala melihat pemikiran polos Liora. Mama Elsa menyuruhku untuk mengambil makanan untuk Mas Sadam. Aku mengambil sayuran dan juga nasi dengan lauk tahu tempe sebab aku takut jika Mas Sadam juga akan mual jika melihat ayam goreng atau ikan jenis lainnya. Aku melangkah keluar dari dapur ini dan terdengar Mama Elsa masih mencoba menjelaskan pada Liora mengenai apa itu mengidam.


Spoiler novel Obsesi Tuan Massimo-Episode 5. Baca gratis diaplikasi Fi*zo. Sudah sampai 105 bab loh yakin nggak mau baca?


*


“Sampai kapan kita akan duduk di sini, aku sudah lapar sekali,” ucap Alker dengan meneguk salivahnya, tapi tenggorokannya terlalu kering sekali sebab Massimo tidak mengijinkan Alker dan juga Halit makan ataupun minum sebelum Emine datang.


“Bertahanlah sebentar lagi,” ucap Massimo dengan melirik Alker.


“Tuan Massimo, Anda tadi sudah mengatakan itu hampir 20 kali dan gadis itu masih belum juga menunjukkan batang hidupnya,” tegas Alker yang sudah tidak sabar untuk menyantap makanan dihadapannya ini. “ Alker mengarahkan tangannya untuk mengambil roti gandum namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat tatapan intimidasi yang diberikan oleh Massimo.


“Sabarlah, sebentar lagi,” bisik Halit di samping Alker.


Alker menatap Halit dengan wajah memelas sembari berkata, “Kau tahu, aku tidak tahan lapar.”

__ADS_1


“Itu derita kamu,” jawab Halit dengan jahat. Alker yang merasa kesal langsung memukul lengan Halit tanpa menyakiti sahabatnya itu.


Ketiga lelaki bertubuh kekar itu menutup mulutnya rapat kini ketiganya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing selang beberapa waktu suara langkah kaki seseorang mengetuk-ngetuk lantai marmer masuk ke dalam ruangan dapur ini. Ketiga lelaki itu menatap kearah pintu dan ketiganya langsung memelototkan matanya tatkala pandangan mereka di penuhi dengan wajah seorang gadis yang lebih mirip seperti hantu. Ya, itu adalah Emine-istri dari majikan mereka.


__ADS_2