
Aku masih menatap kearah punggung Liora dan juga Anggun yang mulai berjalan menjauh dariku keduanya selalu bergandengan tangan paling tepatnya Anggun yang mengandeng tangan Liora seakan ia takut jika adiknya itu jatuh. Aku merasa tenang sekali melihat kedekatan keduanya setelah menatap kedua bocah itu duduk kembali di sofa aku kembali melanjutkan langkahku menaiki anak tangga rumah ini menuju ke kamarku. Setelah membuka pintu kamar ini manik mataku langsung dipenuhi dengan sosok Mas Sadam yang kini sedang memijat pelipisnya sendiri
suamiku pasti merasa pusing sekarang. Kasihan sekali dia harus merasakan mengidam, tapi nggak papa juga sih biar adil eheheh.
“Mas, ini coklat hangat yang kamu inginkan,” ujarku kemudian mendudukkan tubuh perlahan di samping suamiku.
Aku melihat Mas Sadam masih memijat pelipisnya yang terasa pusing lalu satu detik kemudian suamiku buru-buru berlari menuju ke kamar mandi dengan tangan yang membekap mulutnya sendiri. Aku buru-buru mengikuti langkah Mas Sadam masuk kedalam kamar mandi, aku melihat Mas Sadam tidak muntah dia hanya berdiri saja di depan wastafel. Aku berinisiatif untuk memijat punggungnya tapi belum sempat hal itu aku lakukan Mas Sadam langsung muntah-muntah dia bahkan mendorong tubuhku perlahan menjauh darinya.
“Mas, ada apa?” tanyaku padanya.
Lelaki itu masih diam dia sibuk mengeluarkan air dari dalam mulutnya sebab pagi ini Mas Sadam belum sempat sarapan pagi. Aku masih berdiri mematung di posisiku sekarang dan kini aku melihat Mas Sadam mulai membasuh wajahnya dengan menggunakan air lalu lelaki itu menatap ke arahku dari pantulan cermin yang ada di wastafel.
“Sayang, baumu seperti ikan aku ingin muntah, lekas lah mandi aku mohon,” ucapnya padaku.
Aku langsung menganga mendengar penuturan suamiku barusan, ia mengatakan bauku mirip seperti ikan padahal tadi aku hanya memasak sayuran saja, dia benar-benar aneh sekali eh tunggu sebelumnya Mas Sadam tidak pernah seperti ini, semua itu pasti karena anak kita yang menginginkannya, aku langsung tersenyum geli ketika mengetahui akan hal ini emosi yang tadi sudah terkumpul di ubun-ubunku mulai terkikis dan berganti dengan senyuman geli. Hahahah lucu juga jika seorang lelaki sedang ngidam seperti ini.
__ADS_1
“Sayang, kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apakah kamu senang melihat aku seperti ini.” Usai bicara Mas Sadam langsung berjalan keluar dari kamar mandi meninggalkan aku begitu saja dengan wajah kelihatan kesal.
Aku hanya bisa mengangkat satu alis, lalu aku tertawa melihatnya marah seperti itu sungguh biasanya dia selalu bersikap pengertian dan juga penuh kasih sayang tapi lihatlah itu sikapnya. Aku mencium aroma tubuhku sendiri dan tidak berbau apapun tapi ia mengatakan jika bauku seperti ikan. Suamiku sangat hebat sekali setelah aku hamil indra penciumannya semakin tajam saja dan tidak hanya itu saja bahkan Mas Sadam juga lebih suka marah namun aku masih bisa memahami kondisinya sekarang. Aku tidak ingin membuatnya mual lagi jadi aku langsung mandi saja.
Setelah selesai mandi aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan mengunakan handuk saja, aku melihat Mas Sadam sedang berbaring di atas ranjang. Aku berjalan menuju ke lemari pakaian untuk mengambil daster dan setelah selesai menganti baju aku langsung melangkah mendekatinya kemudian aku duduk disisi ranjang.
“Mas, apakah kepalanya masih pusing?” tanyaku pada Mas Sadam sembari mengusap perlahan punggung tangannya mengunakan ibu jariku.
“Kepalaku masih pusing,” ujar Mas Sadam dengan memejamkan mata.
Spoiler novel Obsesi Tuan Massimo-Episode 4. Baca gratis diaplikasi Fi*zo.
Massimo turun ke lantai bawah menuju kamar Alker, ia tahu jika tengah malam begini Alker pasti sudah selesai latihan dan biasanya pria itu akan tertidur lelap. “Alker buka pintunya.” Ucap Massimo sembari mengetuk pintu ruangan kamar ini dengan lantang dan juga tidak sabaran. Massimo mengetuknya cukup lama sampai akhirnya pria itu mulai kehabisan kesabaran dan mulai berteriak memanggil-manggil nama Alker, tapi masih tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.
“Apakah ada musuh yang mengetahui markas kita?” tanya Halit dengan wajah panik.
__ADS_1
Lelaki itu berjalan mendekati Massimo yang kini mulai menatapnya. Halit adalah salah satu orang kepercayaan Massimo selain Alker. Jika Alker adalah orang kepercayaan Massimo di dunia mafia maka Halit berbeda sebab ia orang kepercayaan Massimo di dunia bisnis, dan salah satu orang yang sangat ia andalkan di kantor.
Massimo menghentikan ketukan punggung tangannya pada pintu lalu ia menatap Halit yang sekarang sudah berada disampingnya. “Tidak ada musuh yang mengetahui markas kita,” sahut Massimo.
“Lalu kenapa, Tuan Massimo mengetuk pintu ruangan kamar Alker dengan wajah panik seperti ini?” tanya Halit heran melihat sikap majikannya. Massimo biasanya terlihat sangat tenang dalam menghadapi masalah sebesar apapun, tapi baru kali pertama ini wajah panik tergambar jelas di air mukanya.
“Emine sedang demam, aku mau membangunkan Alker untuk memintanya membawakan air hangat dan juga handuk kecil,” ucap Massimo.
Rahang Halit langsung jatuh ketika mengetahui kenyataan ini, hanya karena satu orang wanita saja, lelaki itu sampai panik seperti sekarang sungguh ajaib sekali, sepertinya Halit akan memuja pesona kakak iparnya.
“Tuan Massimo kembali saja kedalam kamar, biar saya yang menyiapkan semuanya sebab jika Anda menunggu Alker untuk bangun dari tidurnya mungkin setelah ada rudal yang meluluhlantahkan rumah ini baru ia akan membuka mata,” ucap Halit sembari membungkukkan tubuhnya sopan.
Massimo mendecakkan lidahnya kesal, kakinya menendang pintu yang ada dihadapannya setelah tahu jika orang yang didalam sana bukan sedang tidur melainkan sedang mati.
“Kenapa aku harus membangunkan orang tuli sepertinya, sungguh menguras tenagaku saja.” Usai bicara Massimo langsung melangkah menjauh dari pintu yang masih tertutup rapat tanpa ada cela sedikitpun.
__ADS_1
Seru loh ceritanya mampir yuks Nisa tunggu kunjungan reader semua dan jangan lupa taruh komentar di setiap bab ya.