
Aku menatap kearah Mas Sadam sembari melepaskan tanganku yang masih di genggam olehnya, mungkin lelaki itu tahu jika kini aku kurang
nyaman hingga Mas Sadam melonggarkan pegangan tangannya.
“Ma-mas Sadam, kenapa bisa berada di sini?” tanyaku dengan gagap. Entah sejak kapan aku sering melakukan ini saat dekat dengannya.
“Mama Elsa, kemarin malam menyuruh aku untuk tidur dengan
kamu dan aku tidak bisa menolaknya,” ucapnya sembari melihatku lalu lelaki itu menepuk ruang kosong yang berada disampingnya. “Duduklah aku ingin berbicara dengan kamu sebentar saja, aku tidak akan menyakiti kamu sungguh.” Aku menyelidiki air mukanya yang terlihat tenang dan juga serius dan aku memutuskan untuk duduk disampingnya tetapi tetap menjaga jarak.
“Bicaralah, Mas aku tidak punya banyak waktu,” ucapku padanya dan aku melihat kening lelaki itu langsung berkerut dalam.
“Memangnya kamu mau kemana sepagi ini?” aku melihat Mas Sadam masih menatap aku dengan penuh selidik.
“Saya mau membuat sarapan pagi, memangnya mau kemana lagi,”
sahutku sembari mengalihkan perhatian kearah lain.
Aku mendengarkan lelaki itu terkekeh sebelum akhirnya aku merasakan tangannya membelai lembut puncak kepalaku seperti gerakan seorang kakak yang sedang gemas pada adik kandungnya sendiri.
“Kamu itu bukan pelayan di rumah ini, kenapa harus sibuk di dapur apakah perlu aku mencari satu pelayan lagi untuk menyiapkan semuanya?” aku melihat Mas Sadam berbicara dengan nada yang bersungguh-sungguh lelaki ini sekarang selalu bersikap lembut padaku terutama setelah malam mengerikan itu, mungkin benar jika dia akan berubah lebih baik dari sebelumnya akan tetapi aku masih belum bisa memaafkannya.
“Tidak perlu repot karena aku suka memasak dan jika aku tidak melakukan pekerjaan dapur lalu apa yang harus aku lakukan di rumah ini,”
ucapku dengan mengerutkan kening bingung sembari menatap Mas Sadam.
“Sifana, kamu itu lucu sekali sih kenapa aku baru tahu,” entah ini pujian atau hinaan yang di lontarkan oleh Mas Sadam, aku tidak tahu
__ADS_1
pastinya. “kamu itu adalah istriku jadi kamu mau melakukan apapun di rumah ini, ya terserah kamu bahkan jika kamu ingin melakukan perawatan atau membutuhkan apapun tinggal bilang saja, aku sebisa mungkin akan memberikannya.”
“Aku ingin, Mas Sadam ceraikan aku.” Air muka lelaki itu langsung berubah suram usai mendengarkan ucapan ku. Aku melihat kegelisahan yang
nampak jelas dari air mukanya itu.
“Untuk yang satu ini, aku tidak akan pernah melakukannya.”
Aku hendak membuka mulut untuk berbicara tapi suara ketukan pintu dari luar kamar ini membuat aku mengurungkan niat untuk menjawab ucapannya. Aku hendak beranjak berdiri dari posisi duduk untuk membukakan pintu akan tetapi Mas Sadam mengurungkan niatku dan dia sendiri yang membuka pintu kamar.
Ceklek!
“Sayang, aku mencari kamu ternyata kamu di sini,” aku melihat Mbak Tasya yang langsung memeluk Mas Sadam. Aku langsung mengalihkan pandangan kearah lain tidak ingin melihat keduanya bermesraan sebelum aku mengalihkan wajah aku melihat Mas Sadam melepaskan pelan pelukan Mbak Tasya seakan lelaki itu tidak ingin menunjukkan hal ini padaku.
“Tasya, jangan berlebihan seperti ini.”
Telingaku tidak salah mendengar, bukan? Ini baru kali pertama Mas Sadam menyebut Mbak Tasya dengan panggilan nama apa tandanya semua ini? Apakah diam-diam lelaki itu mulai menyukai aku ataukah ini hanya firasat ku yang berlebihan saja.
berdiri di hadapanku dengan mata tajam tapi senyuman wanita itu terbit sempurna untuk menyamarkan kekejaman dari manik matanya.
“Baik, Mbak,” sahutku tanpa berbasa-basi.
“Mulai sekarang setiap tiga hari dalam satu minggu, Mas Sadam akan tidur di kamar bersama kamu dan tiga hari setelahnya dia akan bersama denganku lalu satu hari sisahnya biarkan suami kita bersama dengan
Liora. Bukankah adil jika seperti ini, apakah kamu setuju dengan apa yang aku katakan?” tanya Mbak Tasya padaku. Aku hanya diam sejenak kemudian mengalihkan padangan kearah Mas Sadam yang menatap aku dengan penuh permohonan seakan lelaki itu meminta aku untuk mengiyakan ucapan Mbak Tasya.
Aku mengelengkan kepala pelan sebelum berbicara. Ketika aku hendak membuka mulut untuk berbicara tapi Mama Elsa sudah menyela kata-kataku barusan.
__ADS_1
“Tentu saja, Sifana akan setuju,” wanita paruh baya itu langsung berjalan mendekatiku sembari menggengam tanganku dan jelas aku lihat sorot matanya meminta aku mengiyakan ucapan Mbak Tasya barusan.
“Terserah apa yang, Mbak Tasya katakan saja,” sahutku pasrah. Aku memang tidak menginginkan tinggal dalam satu kamar dengan Mas Sadam tapi aku juga tidak mau melawan keinginan Mama Elsa sebab aku tahu wanita itu hanya ingin yang terbaik untukku dan aku mencoba untuk menuruti permintaanya selagi aku bisa. Tapi aku juga yakin jika Mas Sadam tidak akan pernah berani
melakukan hal itu lagi.
“Sifana, ayo kita pergi ke dapur sekarang kamu ajari aku memasak juga,” Mbak Tasya hendak menggapai tanganku akan tetapi Mama Elsa
langsung menarik aku mundur dibelakangnya.
“Kamu pergi ke dapur saja dulu biar, Sifana bareng, Mama saja.” Aku melihat manik mata Mama Elsa menatap kearah Mbak Tasya sarkas
seakan wanita yang sedang berada dihadapannya adalah musuhnya dan bukan menantunya.
“Baiklah, Ma jika begitu Tasya pergi ke dapur dahulu,” aku mengerutkan kening melihat sikap Mbak Tasya yang dengan santai menjawab ucapan Mama Elsa bahkan wanita itu juga bersikap jika tidak pernah terjadi
pertengkaran tempo hari diantara keduanya sungguh Mbak Tasya pandai sekali mencari muka dihadapan Mas Sadam.
“Sadam, jika sampai Mama mengetahui kamu mengulangi hal yang sama maka, Mama sendiri yang akan membawa Sifana menjauh dari kamu.” Ancaman yang Mama Elsa lontarkan mampu membuat Mas Sadam tertunduk malu sekaligus menyesal.
“Ma, percayalah malam itu Sadam di kuasai oleh alkohol jadi tidak sadar telah melakukan hal keji itu. Sungguh demi apapun Sadam sangat menyesal telah melakukannya karena sadam tahu jika waktu tidak bisa diputar kembali maka dari itu Sadam akan memperbaiki segalanya.
Lelaki itu kini telah menatapku dan aku menatapnya dengan wajah datar walaupun sebenarnya dada ini terasa sesak sekali ketika mengingat kejadian memilukan itu-saat kehormatan ku direnggut paksa olehnya.
“Sifana tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki
segalanya dan bolehkan aku bertemu dengan adik kamu, aku ingin melihatnya?” aku terdiam sesaat lalu Mama Elsa mengusap punggung tanganku perlahan seakan menyuruh aku untuk memberikan kesempatan pada putranya dan akhirnya aku
__ADS_1
mengganggukkan kepala setuju.
Sekilas Aku melihat Mas Sadam tersenyum padaku tapi aku memutuskan pandangan itu tanpa membalas senyumannya.