Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Sahabat Sejati


__ADS_3

Aku melepaskan pelukanku pada Gerry. Mas Sadam melangkah pergi begitu saja menjauh dari pintu ruangan ini. “Gerry, kamu di sini lebih dulu, Aku akan keluar,” pamit ku pada Gerry.


“Ada apa?” tanya Gerry dengan wajah terlihat cemas.


“Tidak ada apa-apa, kau jangan khawatir,” pintaku padanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Gerry Aku langsung melangkah keluar dari ruangan ini. Aku melihat Mas Sadam sedang berbicara dengan Mama Elsa dan juga Papa Damar. Jantungku berdetak sangat kencang sekali Aku takut suamiku salah paham setelah melihat semuanya. Jika saja Aku tadi tidak memeluk Gerry maka hal ini tidak akan terjadi, kedua tanganku saling bertautan satu sama lain dan aku merasakan jika hawa panas mulai menyelimuti tubuhku, aku ketakutan sampai berkeringat berkeringat.


“Ma-mas Sadam,” panggilku dengan suara gugup.


“Sifana, ada apa?” tanya Mama Elsa padaku. Wanita paruh baya itu mendekatiku kemudian mengusap keringat yang sudah membanjiri keningku mengunakan punggung tangannya.


“Apakah kamu sakit?” tanya Papa Damar ikut bingung sendiri.


“Ti-tidak Ma, Pa. Sifana baik-baik saja,” sahutku sembari menatap kearah mertuaku secara bergantian. “Apakah Sifa boleh berbicara berdua dengan Mas Sadam?” tanyaku pada kedua mertuaku.


“Tentu saja boleh,” sahut Mama Elsa padaku. “Pa, ayo kita duduk di sana,” ucap Mama Elsa sembari mengandeng lengan tangan suaminya menjauh dariku dan juga Mas Sadam.


Dengan susah payah Aku meneguk saliva ini, tenggorokanku rasanya kering sekali. Aku menundukkan kepala tidak berani menatap mata Mas Sadam. “Mas Sadam, semua yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu bayangkan, Aku dan juga Gerry tidak ada hubungan apapun,” ucapku sembari masih tertunduk. Tubuhku semakin gemetar ketika mengetahui tidak ada sahutan dari Mas sadam-lelaki itu hanya diam apakah dia kecewa denganku dan Ia mengira jika Aku sama dengan Mbak Tasya yang akan berselingkuh dan melukai hatinya. Tolong siapapun bantu Aku menjelaskan pada suamiku tentang apa yang terjadi sebenarnya, aku tidak ingin Ia salah paham pada Aku dan juga Gerry.


Kedua mataku terbelalak ketika Mas Sadam menarik aku kedalam dekapannya dan Ia mengecup puncak kepalaku beberapa kali. Apakah ini pertanda jika Mas Sadam percaya padaku? Apakah Dia tidak salah paham setelah melihat Aku dan juga Gerry berpelukan? Aku sungguh bingung dan tidak bisa mengartikan dekapan hangatnya ini.


“Sayang, Aku tadi mendengar semuanya dan terima kasih karena kamu masih memilihku walaupun Aku tahu dengan sangat jelas jika kamu pasti pernah memiliki perasaan padanya dimasa lalu. Aku seorang lelaki, dan Aku bisa melihat tatapan sendu kamu padanya, akan tetapi disisi lain Aku juga sadar jika hanya Aku yang ada di hati kamu.” Aku langsung membalas pelukan Mas Sadam dan menangis dalam dekapannya.


“Mas, terima kasih karena kamu sudah percaya padaku.” Akhirnya Mas Sadam percaya padaku, dia percaya jika Aku tidak sama dengan Mbak tasya dan hal itu sudah memuat Aku sangat bahagia sekali.


“Kamu pantas dipercaya,” ucap Mas Sadam sembari memelukku kembali.


“Mas, lepaskan ini di rumah sakit,” ucapku setelah melihat banyak orang yang berlalu-lalang sembari menata kearah kami.


“Kamu benar juga,” sahut Mas Sadam lagi.


“Bagaimana dengan kondisi Liora, Mas?” tanyaku pada Mas Sadam.


“Operasinya berjalan lancar, tapi kita harus menunggu sampai Liora Sadar,” jelas Mas Sadam padaku.


“Syukurlah jika begitu,” sahutku padanya.


“Mas Gerry.” Aku mendengar Anggun menyebutkan nama Gerry kemudian ia langsung berlari.


“Mas, bantu dia,” pintaku pada Mas Sadam dan suamiku langsung mengganggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


“Biar Aku bantu,” ucap Mas Sadam sembari membantu Gerry duduk di kursi stainless yang ada di depan ruangan.


“Terima kasih.” Gerry tersenyum manis.


“Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena kamu telah membantu, putriku.” Aku melihat Mas Sadam berbicara dengan tulus.


“Aku hanya melakukan yang aku bisa,” sahut Gerry pada Mas Sadam. Aku melihat Gerry mengusap pelan kepala Anggun dengan senyuman manisnya.


“Nak Gerry, sekali lagi Ibu dan juga Bapak mengucapkan terima kasih, tanpa bantuan dari kamu maka Liora tidak akan bisa bertahan.” Aku melihat Mama Elsa berbicara sembari menggenggam tangan Gerry.


“Saya, senang sekali bisa membantu. Tapi sekarang saya harus pulang karena ada urusan penting,” ucap Gerry sembari melihatku.


“Gerry kamu masih pucat sebaiknya kamu istirahat dulu di sini,” bujuk ku padanya.


“Aku sudah menyuruh supirku untuk menjemput ku dan kini Ia sudah menunggu di depan rumah sakit ini,” sahut Gerry sembari menatapku.


“Kami akan mengantar kamu sampai depan rumah sakit ini.” Aku melihat Mas Sadam membantu Gerry berjalan.


“Terserah kamu saja,” sahut Gerry pada suamiku.


“Anggun, mau kan kamu mengantar Mas Gerry?” tanya Gerry pada Anggun.


“Tentu saja, Anggun akan mengantarkan Mas Gerry,” sahut Anggun dengan antusias sekali.


“Om, Tante. Saya pamit pulang dahulu semoga Liora lekas kembali pulih seperti sediakala.” Aku melihat Mama Elsa dan juga Papa Damar bersalaman pada Gerry.


“Semoga kamu juga lekas kembali pulih, dan sekali lagi terima kasih atas bantuannya.” Aku melihat Papa Damar memeluk tubuh Gerry sesaat.


Mas Sadam melangkah di samping Gerry sedangkan Aku sendiri berjalan di samping Mas Sadam dan di sisi kiri Gerry ada Anggun yang mengandeng tangannya.


“Kau, sangat beruntung sekali karena memiliki istri secantik dan juga sebaik Sifa.” Aku mendengar Gerry mengatakan itu pada Mas Sadam, aku hendak membuka suara Tapi Mas Sadam mengelengkan kepala pertanda jika Ia tidak merasa keberatan dengan perbincangan Gerry barusan.


“Ya, Aku sangat beruntung sekali karena selain cantik dia juga baik.” Mas Sadam melirikku dengan senyumannya yang nampak tulus.


“Apakah kamu tahu, waktu kami masih duduk di bangku sekolah menengah ke atas, sangat banyak sekali lelaki yang mencintai Sifa akan tetapi tidak ada satu orangpun yang berani menyatakan cinta padanya, karena Sifana tipe wanita yang cuek jadi semua lelaki hanya berani menatapnya dari jauh.” Aku tersenyum kecil waktu mengingat di masa itu-masa putih abu-abu yang sangat menyenangkan ketika hidup masih tidak ada beban.


“Tidak semua lelaki, buktinya kamu bisa dekat dengannya,” sahut Mas Sadam pada Gerry.


“Ya, kamu benar. Aku salah satu lelaki yang beruntung bisa dekat dengannya. Tapi hubungan kami hanya sebatas teman, kamu jangan salah paham,” tegas Gerry. Aku melihat kearah Mas Sadam yang langsung mengganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang barusan diucapkan oleh Gerry.


“Tolong, jaga Sifa dan jangan biarkan Dia bersedih.” Aku menatap kearah Gerry degan masih berjalan perlahan.

__ADS_1


“Aku pasti akan menjaganya kamu tidak usah merasa cemas,” sahut Mas Sadam. Aku mulai merasakan jika tangan Mas Sadam meraih jari-jemariku kemudian menautkan kedua tangan kami.


“Itu dia mobilku.” Aku dan juga yang lain melihat kearah Gerry yang menunjuk mobil berwarna hitam dan di luar mobil sudah ada seorang lelaki paruh baya yang menunggunya.


Mas Sadam melepaskan cekalan tangannya dari lengan Gerry kemudian. Gerry melihat kearah Anggun dan dia berjongkok dihadapan adikku itu. Anggun langsung memeluk tubuh Gerry dengan erat. Dan Ia juga mengecup kedua pipi Gerry secara bergantian.


“Mas Gerry, jaga diri baik-baik jika ada waktu jenguk Anggun, Ya,” pinta Anggun pada Gerry kemudian kembali mengecup kedua pipi Gerry.


“Tentu saja, Anggun jaga diri baik-baik dan jangan sampai sakit lagi serta jaga juga Mbak Sifa.” Aku mengusap sudut mataku yang tiba-tiba berair. Aku kembali mengingat kedekatan kami bertiga dimasa lalu dan hal itu membuatku rindu akan masa lalu kami.


Gerry berdiri di hadapanku. Ia mengulurkan tangannya padaku akan tetapi satu detik kemudian Ia menggenggam tangannya sendiri dan menarik uluran tangannya. AKu tahu pasti Gerry takut jika sampai Mas Sadam cemburu.


“Sifa, aku sangat bahagia melihat kamu bisa mendapatkan keluarga yang sangat menyayangi dan juga mengerti kondisi kamu, aku selalu berdoa semoga saja semua kebahagiaan akan selalu mengelilingi hidup kamu,” ucap Gerry sembari tersenyum padaku. Gerry selalu baik padaku bukan hanya di masa lalu bahkan juga dimasa sekarang.


“Semoga kamu lekas mendapatkan pendamping dan jika kamu mau, kau boleh memperkenalkan istri kamu pada kami,” ucapku sembari menatap Mas Sadam sekilas kemudian melihat kearah Gerry dengan tersenyum.


“Amin,” sahut Gerry.


“Aku pergi dulu.” Aku dan juga Mas Sadam langsung menganggukkan kepala dan Gerry berbalik arah melangkah menuju mobilnya yang sudah terparkir dihalaman rumah sakit ini.


“Sayang,” panggil Mas Sadam padaku dan aku langsung menoleh padanya.


“Apa, Mas?” tanyaku pada Mas Sadam.


“Peluk dia satu kali lagi,” ucap Mas Sadam dan hal itu membuatku mengerutkan keningku.


“Tidak mau,” sahutku padanya mantap.


“Aku mohon, dia lelaki yang baik dan dia sudah menyelamatkan Liora anggap saja ini kado untuknya." Melihat wajah Mas Sadam yang bersungguh-sungguh aku langsung mengganggukkan kepala.


"Gerry," panggilku padanya.


Lelaki itu memutar tubuhnya dan Aku langsung memeluk tubuh Gerry dengan erat, Gerry membalas pelukanku dengan sama eratnya.


"Sifa, aku sangat mencintaimu, tapi aku iklas melepaskan kamu untuknya," bisik Gerry di dekat telingaku.


"Aku juga sangat mencintai kamu dimasa lalu, tapi takdir berkata lain kini cintaku hanya untuknya tapi percayalah satu hal, cintaku padamu dimasa lalu akan tetap ada dalam kenangan masa lalu kita," ucapku pada Gerry dengan berderai air mata.


Aku melepaskan pelukan ini pada Gerry dan Aku melihat kilatan kristal bening nampak di manik mata indah itu.


"Sahabat terbaikku," ucap Gerry sembari tersenyum.

__ADS_1


"Kau sahabat terbaikku juga," sahutku sembari mengusap air mata ini.


Gerry melangkah masuk kedalam mobil. Mas Sadam dan juga Anggun menghampiriku dan kami melambaikan tangan padanya dengan perlahan tapi pasti mobil mulai menjauh dari rumah sakit.


__ADS_2