
Sudah sekitar 30 menit aku membacakan dongeng putri tidur
untuk, Liora. Aku mulai menutup buku dongeng ini lalu menatap kedua pelupuk mata gadis kecil ini, ternyata Liora sudah tidur ku pindahkan kepala Liora yang bersandar di dadaku keatas bantal lalu tidak lupa ku selimuti tubuh kecil ini seakan tidak rela jika tubuh kecilnya di jamah oleh dinginnya ac didalam kamar
ini lalu kukecup puncak kepala Liora dan melangkah menuju ke sakral lampu kemudian memencet tombolnya dan dengan sekejap mata ruangan kamar ini langsung
gelap-gulita perlahan aku menutup pintu ini agar tidak menimbulkan bunyi.
Kini aku melangkah menuju ke ruangan tamu, Mas Sadam, Papa
Damar dan juga Mama Elsa diam saja entah apa yang sedang ketiga orang itu pikirkan sekarang suasana didalam ruangan ini terlihat canggung sekali, aku yang hendak ikut bergabung dengan mereka bertiga segera memutar tubuh hendak
menjauh tapi suara Mama Elsa menginterupsi langkah kaki ini untuk berhenti, aku memutar tubuh lalu Mama Elsa menyuruh aku untuk duduk disampingnya. Aku menoleh
sesaat kearah Mas Sadam, lelaki itu hanya menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca.
“Kamu adalah bagian dari keluarga ini, tidak perlu sungkan,” ujar Mama Elsa padaku setelah aku duduk disampingnya.
“Iya, Ma,” sahutku dengan mengulas senyuman tipis.
“Lihatlah sekarang sudah pukul 22.00, akan tetapi istri kamu masih juga belum pulang! Apakah pantas seorang wanita meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan suaminya apa lagi hingga larut malam seperti ini.” Kudengar Papa Damar berbicara dengan nada suara yang terdengar berat seakan lelaki itu sedang berusaha menahan emosinya agar tidak meledak.
“Pa, jangan berpikir macam-macam, aku percaya pada wanita yang aku nikahi sendiri dari pada wanita pilihan Mama dan juga Papa,” aku langsung menundukkan kepala dengan kedua tangan mencengkram kuat dress yang sedang ku kenakan untuk
melampiaskan sakit hati ini.
“Sadam, jaga ucapan kamu. Mama pastikan jika suatu saat kamu
akan menyesal telah memperlakukan istri kedua kamu dengan tidak hormat seperti ini,” kudengar Mama Elsa mulai angkat bicara bahkan kini dia juga menggengam tanganku seakan sedang mencoba untuk menyalurkan energi positif dalam diri ini.
“Sekuat apapun, Mama menunjukkan jika dia begitu baik, aku juga tidak akan perduli sebab kami menikah karena terpaksa dan sampai kapanpun istri, Sadam hanya Tasya saja.”
Terdengar suara langkah kaki mengetuk-ngetuk lantai marmer
__ADS_1
melangkah mendekati ruang tamu. Manik mata kami semua menatap kearah pintu utama rumah ini. Kulihat senyuman mbak Tasya mengembang sempurna ketika manik mata wanita itu sibuk membaca pesan dari ponselnya bahkan dia juga tidak menyadari jika kini kami berempat menatapnya dengan dahi yang berkerut. Kualihkan pandangannku
menatap, Mas Sadam jelas sekali terlihat jika lelaki itu mengeraskan rahangnya melihat sikap Mbak Tasya yang seperti ini.
“Sayang,” kini Mas Sadam langsung berdiri dari posisi duduknya, kulihat lelaki itu menatap Mbak Tasya dengan tajam sedangkan Mbak tasya
langsung mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel melihat wajah Mas Sadam.
Aku melihat perubahan air muka Mbak Tasya yang kini terlihat panik sekali pasti dia tidak menyadari jika kini Mama dan juga Papa ada di rumah ini. Mbak Tasya berganti menatapku dengan tajam seakan secara tidak langsung wanita itu menuduh aku yang memanggil papa dan juga Mama untuk berkunjung ke rumah ini.
“Tasya, kamu dari mana? Jam segini baru pulang?” tanya Mama Elsa sembari berdiri dari posisi duduknya.
“Ma, ini urusan Sadam dan juga
Tasya jadi biarkan kami saja yang menyelesaikannya,” aku mengangkat kepala menatap Mas Sadam yang langsung menyambar tangan Mbak Tasya untuk menjauh dari kami semua.
Mama dan juga Papa hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat sikap Mas Sadam.
***
membereskan kamarku terlebih dahulu kemudian membuka jendela kamar. Kulihat warna gradasi senja nampak menghiasi langit di pagi hari ini. Ku hirup aroma pagi lalu menghembuskannya perlahan dari hidung seakan mencoba mengganti sirkulasi oksigen didalam rongga paru-paru. Usai membersihkan tubuhku segera ku langkahkan
kaki ini keluar dari tangga menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, aku akan membuat nasi goreng dan juga telor ceplok untuk semua orang sebab itu makanan favorit keluarga ini.
Langkah kakiku langsung terhenti
ketika aku melihat seseorang yang kini sedang duduk di dapur dengan menatapku tajam, sedang apa mbak Tasya sepagi ini sudah berada di dapur tidak biasanya. Dengan ragu aku melangkah melewatinya terdengar suara kursi yang di seret
kebelakang dengan kasar, aku sedikit terjingkat akan tetapi masih berusaha
tetap tenang.
“Jalang! Beraninya kamu mengadu
__ADS_1
pada kedua mertuaku jika aku sedang pergi,” suara Mbak Tasya mulai terdengar dan dengan waktu yang hampir bersamaan jari-jari tangan Mbak Tasya mulai terisi dengan rambutku dan kini dia menjambak rambutku dengan kasar sampai aku
merasakan jika kulit kepala ini hampir saja terkelupas bersama tarikan kuat
tangannya.
“Mbak Tasya, saya tidak mengadukan
hal ini pada kedua orangtua, Mas Sadam. Mbak Tasya, boleh bertanya sendiri pada Mama Elsa,” ujarku dengan suara tertahan karena merasakan sakit di kepala.
“Kau pikir aku akan percaya
dengan wanita penggoda seperti kamu,” wanita ini berteriak dengan begitu kencang di dekat telingaku sampai kurasakan telinga ini mulai berdenging.
“Mbak Tasya, tolong percayalah
dengan apa yang saya katakan, sungguh saya tidak pernah mengadu yang macam-macam, tolong lepaskan rambut saya, ini sakit sekali,” Mbak Tasya melepaskan rambutku namun dengan mendorong kepalaku hingga kepala ini terkena
pinggiran meja dan aku mulai merasakan sakit yang luar biasa sampai membuat pandangan ini berkunang-kunang, aku merasakan ada cairan yang menetes dari bekas
benturan tadi, aku melihat cairan berwarna merah keluar dari luka di pelipis.
“Jika kejadian serupa akan
terulang lagi maka akan aku pastikan kamu mendapatkan,” belum sempat Mbak Tasya melanjutkan kata-katanya kudengar suara seseorang sudah menyelanya.
“Sayang, apa yang kamu lakukan?”
ya, itu suara Mas Sadam, aku melihat lelaki itu menatapku yang masih duduk dilantai dengan iba. Tapi sakit dikepala ini mulai membuat pandanganku kabur, aku melihat Mas Sadam menjadi beberapa bagian hingga aku mulai merasakan semuanya gelap tubuhku tidak bisa lagi menopang rasa pusing di kepala hingga aku mulai menutup mata.
"Sayang, tadi Sifana tidak sengaja jatuh dan kepalanya tersandung meja," sayup-sayup aku dengan Mbak Tasya mengucapkan kebohongan ini agar bisa lepas dari masalah.
Aku sudah menutup mata tapi kesadaran ku belum hilang sepenuhnya dan aku bisa merasakan jika kini tangan seseorang membawa aku dalam gendongannya.
__ADS_1
'Kenapa semua orang selalu menyalahkan ku, apakah karena aku wanita ******. Benar kan, Mas Sadam.'