
Aku melirik kearah jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangan suamiku, ini sudah pukul 06.00, tapi kenapa Anggun masih belum bangun juga, Aku mulai berdiri dari posisi duduk berjalan kesana-kemari sembari tidak henti mengucapkan doa agar adik yang aku sayangi segera membuka mata. Mas Sadam mulai beranjak berdiri dari kursinya menghampiriku yang kini sedang mengintip dari kaca transparan di pintu ruangan Anggun berada.
“Kamu jangan panik, semua akan baik-baik saja.” Kualihkan pandangan melihatnya. Wajah Mas Sadam terlihat pucat mungkin karena lelaki ini tidak tidur semalaman jadi tubuhnya terasa lemas hingga wajah tampannya mulai kehilangan rona merah.
“Mas Sadam sebaiknya beristirahat saja, biar Aku yang menjaga Anggun sendirian,” ujarku sembari meneliti wajahnya yang terlihat sayup.
“Aku tidak mungkin membiarkan kamu sendirian.” Lelaki ini langsung menarik aku dalam dekapannya.
Dokter melangkah menghampiri kami berdua selang beberapa waktu setelah pelukan kami terlepas. Dokter Heru mengatakan jika kami bisa bergantian menjenguk Anggun. Usai mendengarkan ucapan Dokter Heru, Mas Sadam langsung menyuruh aku masuk kedalam ruangan Adikku berada sebab ia tahu jika sejak semalam aku ingin melihat Anggun dan berada disampingnya.
Dengan langkah perlahan aku mengajak kaki ini mendekat kearah ranjang Anggun berada, Aku menghirup nafas dalam mencoba untuk menahan air mata yang sudah siap jatuh dari singgasananya. Aku menatap tubuh kurus yang kini sedang terkulai tidak berdaya itu dengan perasaan yang pilu, biasanya jika Aku masuk kedalam ruangan ini Anggun akan menyambut aku dengan senyumannya. Tapi kini senyuman itu sudah tidak bisa aku lihat lagi yang ada hanya sunyi yang merambati ruangan ini. Bunyi alat deteksi jantung membuat hatiku lega setidaknya dengan alat itu Aku merasa jika kondisi Anggun akan baik-baik saja. Aku mendudukkan tubuh di kursi dekat ranjang Adikku dengan manik mata masih tidak bergeming melihatnya.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang sudah membasahi kedua pipiku, Aku menggenggam lembut tangannya yang tidak tertancap infus, Aku mengusap tangan Anggun yang terasa hangat lalu Aku mengecup beberapa kali punggung tangan lemahnya sampai air mata ini jatuh membasahi punggung tangannya. Tapi dengan cepat segera aku singkirkan cairan bening yang tadi sempat membasahi kulit putihnya.
“Anggun, kamu harus segera sadar,” ucapku sembari mengigit bibir bagian bawah agar tidak gemetar ketika berbicara. “Jika kamu pergi maka bawa Mbak Sifa ikut juga, Mbak Sifa tidak mau berada di dunia ini kalau kamu tiada. Anggun apakah kamu masih ingat jika kita berjanji akan saling melindungi dan kalau sampai Mbak Sifa tidak berhasil melindungi kamu maka, Mama dan juga Papa akan merasa kecewa pada Mbak Sifa karena tidak bisa melindungi adik satu-satunya yang Mbak Sifa miliki.”
Aku mengusap punggung tangannya lalu mengecupnya lagi, manik mataku tidak henti melihat kearah pelupuk matanya yang masih terpejam. Dokter mengatakan walaupun Anggun dalam keadaan tidak sadar tapi dia masih bisa mendengarkan ucapanku dengan sangat jelas.
__ADS_1
“Anggun, apakah kamu masih ingat jika Mbak Sifa pernah mengatakan kalau sampai Anggun sembuh, maka Mbak Sifa akan membawa Anggun tinggal di rumah mewah yang mirip dengan negeri dongeng bahkan Mbak Sifa juga pernah mengatakan kalau Anggun akan kembali bersekolah lagi,” ucapku mencoba untuk memotivasinya agar segera membuka mata.
1 jam kemudian.
Aku hanya bisa menangis tanpa suara ketika menyadari jika Anggun masih belum sadar juga, Dia masih menutup matanya tanpa ingin membukanya. Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dari posisi duduk lalu mengecup keningnya sebelum pergi, tangannya masih aku genggam lembut hampir saja aku melepaskan tangannya akan tetapi aku merasa ada gerakan kecil dari jari telunjuknya yang mengenai kulit tanganku perlahan. Aku langsung mengalihkan pandangan kearah manik mata Anggun yang tiba-tiba terbuka sedikit demi sedikit. Dengan perasaan yang senang Aku segera memencet tombol di samping ranjang Anggun untuk memanggil para dokter untuk memeriksa kondisinya. Tidak butuh waktu lama beberapa dokter masuk kedalam ruangan ini lalu memeriksa kondisi Anggun sedangkan Aku berdiri di kaki ranjang pasien bersama Mas Sadam.
Dokter Heru bilang jika kondisi Anggun sudah mulai stabil tapi dia tidak boleh terlalu banyak bicara karena masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat lebih lagi kami juga harus memastikan jika Anggun tidak tertekan karena suatu hal karena, itu bisa menghambat proses penyembuhannya. Aku mengganggukkan kepala mengerti dan Dokter Heru berserta rekan kerjanya yang lain keluar dari ruangan ini usai melakukan tugasnya dengan baik.
Aku dan juga Mas Sadam melangkah mendekati Anggun yang kini sedang menatap kami berdua dengan sendu. “Sayang, apakah kamu baik-baik saja?” tanyaku padanya sembari menggenggam tangannya. Aku menghirup nafas dalam ketika merasakan dada ini sesak sampai membuat rongga paru-paruku menyempit karena kehabisan oksigen.
"Mbak Sifa, menangis bahagia karena melihat Anggun sudah kembali membuka mata," sahutku sembari menyibakkan beberapa sulur rambutnya kebelakang telinga.
"Anggun akan sembuh," sahutnya lirih dengan wajah yang sudah di penuhi oleh tekad kuat.
"Kamu harus sembuh, karena nanti jika Anggun sudah sembuh Mas Sadam akan mempertemukan Anggun dengan Liora." Mas Sadam ikut menimpali kata-kata kutadi dan kini aku melihat Anggun mulai menatap Mas Sadam sembari mengerutkan sedikit keningnya.
"Liora, siapa itu?" tanya Anggun pada Mas Sadam. Aku melihat binar matanya seakan sedang meminta penjelasan akan nama yang ia sebutkan barusan.
__ADS_1
"Liora, adalah adik kamu," sahut Mas Sadam. "nanti jika Anggun sudah sembuh kami akan menceritakan semuanya, tapi sebelum hal itu terjadi jangan pernah percaya dengan ucapan siapapun kecuali ucapan Mbak Sifa dan juga Mas Sadam sendiri." Aku tahu kenapa Mas Sadam mengatakannya hal ini sebab dia tidak ingin jika sampai Anggun kembali drop karena terlalu stres memikirkan masalah orang dewasa.
Aku yakin jika ini semua ada hubungannya dengan Mbak Tasya. Mungkin selama ini aku hanya bisa diam melihat sikapnya padaku. Tapi untuk yang satu ini Aku benar-benar tidak bisa diam lagi, berani sekali dia mengganggu adik yang sangat Aku sayangi. Aku mengepak kedua tangan seakan sedang mencoba menggengam kuat-kuat amarah ini supaya tidak sampai meledak sebelum waktunya.
Suara pintu di ayun oleh seseorang, Aku dan juga Mas Sadam segera mengalihkan perhatian menatap pintu ruangan kamar ini. Mama Elsa mencoba untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Jelas sekali terlihat dari peluhnya yang berjatuhan di pipi kalau wanita paruh baya itu baru saja berlari menuju ruangan ini. Pasti Dokter Heru sudah mengatakan jika Anggun telah siuman.
"Bagaimana dengan kondisi Anggun?" tanya wanita paruh baya itu padaku.
"Anggun sudah lolos dari masa kritis, tapi kondisinya masih harus di pantau oleh Dokter," sahutku cepat sembari memeriksa satu botol air mineral padanya.
"Terima kasih." Aku melihat Mama Elsa langsung membuka cepat tutup botol itu kemudian meneguk isian di dalamnya sampai tersisa setengah di botolnya.
Mama Elsa menaruh botol itu di atas nakas kemudian berjalan mendekati Anggun yang menatapnya dengan senyuman tipis. Ya, senyuman manis itu akhirnya bisa Aku lihat kembali.
Mama Elsa sudah berdiri di samping Anggun kemudian Dia mengecup kening Adikku sedikit lebih lama dari biasanya. Anggun memejamkan matanya seakan Dia baru saja merasa kasih sayang seorang ibu yang telah lama tidak bisa Dia rasakan, sungguh air mata ini tidak bisa dibendung lagi dan meleleh di kedua pipi. Mas Sadam menaruh satu tangannya di pundak ku mencoba untuk memberikan motifasi.
"Sadam, suruh beberapa pengawal menjaga di depan ruangan Anggun mulai sekarang," ucap Mama Elsa sembari melihat Mas Sadam serius. "Mama tidak ingin jika sampai kejadian serupa terulang untuk kali kedua."
__ADS_1