Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Siapa Itu Gerry


__ADS_3

Aku melihat Mas Sadam mengakhiri panggilan teleponnya setelah mengetahui makanan yang mereka pesan sudah di taruh oleh pelayan restoran ini di atas meja, Mas Sadam mengganggukkan kepalanya mengerti kemudian mengibaskan tangannya di udara sebagai isyarat jika pelayan lelaki itu bisa meninggalkan meja makan itu.


"Sayang, ayo kita sarapan pagi," ucap Mas Sadam sembari menautkan jari-jari tangannya padaku.


"Baiklah," sahutku sembari tersenyum manis.


"Sayang, biar aku saja yang suapi," pinta Mas Sadam ketika mengetahui aku hampir saja memegang sendok yang ada di dalam piringku ini.


"Baiklah." Pasrah saja karena Aku tahu inilah cara suamiku membahagiakanku.


"Sayang, aku dengar mantan kekasih kamu yang bodoh itu masuk kedalam penjara," samar-samar aku mendengar suara wanita berbicara seperti itu ketika melintas di belakang kursi yang Aku duduki.


"Biarkan saja Tasya mendekam di penjara, Dia pantas mendapatkannya. Lagian Dia juga sudah jatuh miskin." Aku langsung mendongakkan kepala ketika mengetahui lelaki itu menyebutkan nama Mbak Tasya dan Aku juga merasa tidak asing dengan suara lelaki itu.


Aku menatap Mas Sadam yang sudah melihat ke arah lelaki itu tajam. Langsung Aku tarik pandangan ini melihat ke asal suara itu, dan benar saja itu adalah Putra dan juga kekasihnya.


"Mas, Sadam jangan sampai terpancing emosi," ucapku sembari mengusap pelan punggung tangannya mengunakan ibu jari.


"Aku punya cara lain untuk membalas, lelaki itu." Mas Sadam bicara melalui sela-sela giginya bahkan Aku dengan sangat jelas bisa melihat guratan kebencian dari kerutan di keningnya itu.


"Mas, Kita lanjutkan makan atau masuk ke dalam kamar saja?" tanyaku padanya. Sebenarnya aku masih lapar sekali tapi ketika melihat air muka kebencian nampak jelas di wajah suamiku lebih baik kami segera pergi dari restoran ini sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi misalnya Mas Sadam sampai menghajar Putra di tempat umum.


"Sayang, kita selesaikan saja sarapan pagi, Aku tidak ingin melihat kamu kelaparan," ujarnya padaku.


Di dalam kamar.


Aku melihat Mas Sadam sibuk menghubungi asistennya, Ia berjalan mondar-mandir kesana-kemari sembari terus berbicara. Sedangkan Aku duduk berselonjor di atas ranjang. Mas Sadam mengusap kasar wajahnya kemudian melangkah menghampiriku Aku.


"Mas," panggilku padanya sembari mengulurkan tangan di udara.

__ADS_1


Mas Sadam menggenggam tanganku lalu duduk di sisi ranjang. "Aku meminta asistenku mencari tahu di mana putra bekerja. Ternyata dia bekerja di bagian keuangan salah satu perusahaan besar di kota ini. Aku meminta pada asistenku untuk mencari tahu mengenai kesalahannya, sebab aku yakin sekali orang sepertinya pasti tidak jujur dalam bekerja dan kecurigaan ku memang benar." Menghentikan sejenak kalimatnya untuk mengambil nafas dalam. "Putra memanipulasi data keluar masuknya barang dan Dia juga mengelapkan banyak uang perusahaan."


"Apakah Mas Sadam akan mengunakan itu untuk memasukkannya kedalam penjara?" tanyaku pada Mas Sadam.


"Ya benar. Biarkan lelaki kurang ajar itu menemani Tasya mendekam dalam jeruji besi. Sedangkan untuk selingkuhan putra sendiri, Aku biarkan dia bebas namun Dia juga akan di keluarkan dari pekerjaannya."


Aku menggenggam ke dua tangan Mas Sadam sembari berkata, "Mas, Aku akan selalu menemani kamu dalam keadaan apapun. Aku tahu Mas Sadam pasti sedih melihat nasib Mbak Tasya meskipun bagaimana juga wanita itu pernah menemani hari-hari kamu sebelum Aku hadir."


"Sayang, semua itu sudah berlalu. Ketika Aku mengetahui Dia hendak membunuh kamu, percayalah bersamaan dengan itu perasaan cintaku sudah lebur."


***


Tiga hari kemudian.


Aku baru saja selesai melakukan check up ke rumah sakit dan Dokter Heru sendiri yang memeriksa bekas jahitan di perutku. Katanya jahitan itu akan mengering sekitar 7 hari.


Mas Sadam menarik pandangannya padaku sembari berkata. "Sayang untuk apa kamu bertemu dengannya, wanita sepertinya tidak pantas di kasih hati." Mas Sadam melingkarkan satu tangannya di pundak ku dengan posesif seakan Ia tidak ingin jika Aku bertemu dengan wanita yang telah membuat Aku masuk rumah sakit.


"Mas, Aku sudah memaafkan Mbak Tasya," ucapku padanya.


"Sayang, jangan gampang memaafkan orang lain. Apa lagi kesalahan yang Tasya lakukan sangat fatal sekali, Aku tidak akan pernah membahayakan nyawa kamu dengan mempertemukan kamu dengannya."


Jika sudah seperti ini Aku tidak bisa merayu Mas Sadam untuk menuruti keinginanku. Nanti saja Aku berbicara padanya lagi.


"Mas, Aku sangat merindukan Liora dan juga Anggun, bagaimana jika kita pulang ke rumah saja," pintaku padanya dengan wajah memelas.


"Apakah kamu yakin bisa menyembunyikan rasa nyeri itu?" tanya Mas Sadam padaku.


"Tentu saja," sahutku dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Liora dan juga Anggun sudah lama mereka tidak bertemu dengan kamu mereka berdua pasti akan memeluk kamu dengan sangat erat, dan kau tau hal itu bisa saja menekan bagian perut kamu dan akan menimbulkan rasa nyeri yang teramat sangat." Mas Sadam menatap mataku dalam. "Dan aku tidak mau kamu sakit jadi lebih baik kita di hotel saja sampai luka itu mengering."


Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, tapi Mas Sadam sangat peka dan juga perhatian sekali dan Aku tidak menyangka Dia sampai memikirkan apa yang akan terjadi kalau sampai Aku bertemu dengan Liora dan juga Anggun.


"Baiklah, Mas terserah kamu saja." ucapku padanya.


"Sayang, apakah kamu ingin membeli baju di mall?" tanya Mas Sadam padaku.


"Tidak, Mas." Dua hari yang lalu Mama Elsa datang ke hotel ini mengantarkan Aku baju dan juga perlengkapan yang Aku butuhkan, padahal Aku tidak memintanya tapi Mama Elsa berinisiatif sendiri katanya sekalian menjengukku.


"Padahal kau kamu mau aku ajak ke mall. Aku berniat akan mengendong kamu, Sayang agar kau tidak lelah," ucap Mas Sadam padaku.


"Itu sih maunya, Mas Sadam aja," sahutku padanya sembari mencubit lengan tangannya pelan.


"Sama istri sendiri nggak masalah dong," jawab Mas Sadam santai.


Tanpa terasa Aku dan juga Mas Sadam sudah tiba di hotel tempat kami menginap beberapa hari ini. Kamu berdua masuk kedalam hotel bersama dan seperti biasa Mas Sadam selalu mengandeng tanganku.


Dari kejauhan Aku melihat seorang lelaki tampan yang sedang berjalan berlawanan arah dengan kami, Lelaki itu kira-kira usianya sama denganku bahkan Dia mulai tersenyum sembari melihatku dengan tatapan hangatnya seolah dia mengenali diriku. Aku mengerutkan kening sedang berpikir apakah aku mengenalinya? Tapi wajahnya tidak asing di ingatanku.


"Sifa," sapa lelaki itu padaku ketika kami sudah berdiri di jarak dekat.


Aku melirik kearah Mas Sadam yang sedang menatap lelaki itu dengan tatapan tak ramah. "Siapa, Ya?" tanyaku padanya.


"Apa kau lupa dengan wajahku yang tampan ini?" tanya lelaki itu dengan begitu percaya diri. Lelaki itu menjentikkan satu jaringan di udara dan hal itu langsung membuat aku ingat padanya.


"Gerry," sahutku sembari hendak menyatuhkan jari telunjuk kami berdua, tapi belum sempat hal itu terjadi Mas Sadam langsung memegangi tanganku dengan posesif.


Wah ada yang cemburu nih.

__ADS_1


__ADS_2