Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Tidak Seharusnya Aku Berada Di Sini


__ADS_3

“Ma, Mbak Tasya tidak ikut ke mall karena dia sedang sakit kepala,” sahutku dengan tatapan serius untuk meyakinkan Mama Elsa jika aku


tidak sedang berbohong padanya.


Aku melihat Mama Elsa mengerutkan keningnya dalam sembari tidak berkerdip menatapku. “Mama, sangat


yakin jika itu adalah Tasya, bahkan Mama juga melihatnya berjalan sendirian di toko penjual pakaian dalam lelaki,” aku semakin penasaran mengenai apa yang dilakukan oleh Mbak Tasya di toko pakaian dalam lelaki sedangkan Mas Sadam


tidak sedang bersamanya, ataukah mungkin wanita itu sedang ke mall ini bersama dengan selingkuhannya, ya Tuhan kenapa aku berpikir buruk seperti ini.


“Ma, sebaiknya kita sudahi perbincangan ini karena sekarang


Mas Sadam dan juga Liora sedang menunggu di luar dan sebaiknya kita tidak mengatakan ini pada Mas Sadam karena Mama tahu sendiri jika dia tidak akan mau percaya dengan apa yang Mama ucapkan,” aku mencoba memberikan saran pada Mama Elsa karena aku paham betul bagaimana pun Mas Sadam akan tetap membela Mbak Tasya.


“Iya, kamu memang benar.”


Aku dan juga Mama melangkah keluar dari toilet mall, Mas Sadam dan juga Liora sangat terkejut ketika mengetahui jika aku bersama dengan


Mama Elsa keluar bersamaan dari dalam toilet. Liora langsung menghambur kedalam pelukan Mama Elsa, aku melihat senyuman manis terukir polos dari bibirnya sedangkan Mas Sadam sendiri menatapku dengan penuh tanya. Aku mengatakan jika tidak sengaja bertemu Mama di Mall dan Mas Sadam mengganggukkan kepalanya mengerti mungkin karena lelaki itu sudah tahu jika Mama Elsa memang


sering berbelanja sendirian.


Mama Elsa mengajakku membeli make up di toko langganannya


awalnya aku menolak akan tetapi Mas Sadam membujuk aku untuk membeli make up agar apa yang Mbak Tasya gunakan aku juga menggunakannya sebab Mas Sadam ingin bersikap adil pada kami berdua, ketika asyik memilih make up, aku dan juga Mama Elsa tidak sengaja mendengarkan Mas Sadam memanggil nama Mbak Tasya.


“Tasya, bukankah itu Tasya,” Aku melihat Mas Sadam sudah berlari menjauh dari kami.


Aku langsung mengandeng tangan Liora mengikuti langkah Mas Sadam yang sudah berada jauh dihadapan kami sedangkan Mama Elsa sendiri masih sibuk membayar apa yang kami beli di kasir. Jantungku berdetak hebat ternyata Mama memang tidak salah lihat bahkan Mas Sadam juga melihat Mbak Tasya akan tetapi aku tadi tidak melihat siapapun yang berada dihadapan Mas Sadam.

__ADS_1


“Ma, apakah Mama Tasya ada di sini?” tanya Liora padaku ternyata anak kecil ini juga mendengarkan Mas Sadam menyebutkan nama Mbak Tasya tadi.


“Mama, juga tidak tahu, Sayang.”


Aku menghentikan langkah dibelakang Mas Sadam. Aku mencoba untuk mengatur nafas karena berjalan cepat mengikutinya tadi sedangkan Liora sendiri kini berjongkok di lantai ikut merasa lelah. Aku melihat Mas Sadam masih celingukan kesana-kemari seperti sedang mencari seseorang aku menepuk pelan lengan tangannya lalu berkata.


“Mas, dimana Mbak Tasya?” tanyaku pada Mas Sadam setelah bisa mengatur deru nafasku lagi.


“Mungkin aku salah lihat, aku melihat Tasya sedang mengandeng lelaki lain tapi waktu aku mengikutinya dia berlari dan aku tidak bisa melihatnya lagi pasti aku sedang berhalusinasi melihatnya tadi,” aku melihat lelaki itu mengusap pelan keringat yang sudah membasahi keningnya sekarang Mas Sadam menatapku dan juga Liora yang nampak lelah sekali sedangkan


Mama Elsa berjalan menuju kearah kami dengan langkah cepat.


“Apakah kamu sudah menemukan, Tasya?” aku melihat Mama Elsa


ikut celingukan kesana-kemari mencari keberadaan Mbak tasya.


“Ma, sepertinya Sadam tadi salah lihat, karena mana mungkin Tasya bersama lelaki lain.”


sedang berada di toko pakaian dalam lelaki, Tapi Mama tidak melihat siapa yang bersamanya,” aku melihat air muka Mas Sadam mulai merah padam seperti menahan amarah.


“Papa, Liora haus,” rengek Liora sembari masih berjongkok di lantai. Aku mengalihkan pandangan melihat Mas Sadam yang langsung mengusap kasar wajahnya seakan lelaki itu sedang mencoba membuang emosi yang sudah berkumpul di puncak ubun-ubunnya kemudian mengendong tubuh kecil Liora.


“Maafkan, Papa sayang. Liora mau minum apa?” aku begitu kagum sekali melihat Mas Sadam yang sedang marah akan tetapi sikapnya masih


tenang jika sedang bersama dengan Liora.


“Liora mau es krim itu, Pa," aku mengarahkan pandangan kearah yang di tunjuk oleh Liora dan aku menawarkan diri untuk membeli es krim yang di minta oleh Liora namun mas Sadam menolaknya dan memilih membeli sendiri.


"Kenapa anak itu masih juga tidak mau percaya jika istrinya sudah berselingkuh dengan lelaki lain, entah mantra apa yang diberikan oleh Tasya hingga putraku sebodoh itu sampai tidak bisa melihat kebohongan di depan matanya," aku melihat Mama Elsa berbicara dengan nada suara terdengar berat. Garis halus di sekitar matanya terlihat karena dia mengerutkan keningnya saat berbicara, air muka ini pernah aku lihat sebelumnya saat Mama Elsa sedang bertengkar hebat dengan Mbak Tasya tempo hari.

__ADS_1


"Ma, jangan terlalu dipikirkan nanti Mama bisa sakit, sebaiknya kita berdoa saja semoga, Tuhan bisa membuka pintu hati mas Sadam hingga dia bisa melihat siapa Mbak Tasya yang sebenarnya," aku mengajak Mama Elsa duduk di kursi yang memang disediakan untuk pelanggan yang ingin makan sembari duduk di toko ini. Sedangkan Mas Sadam dan juga Liora masih mengantri menunggu penjual memberikan pesanan mereka.


Mama Elsa memegang kedua tanganku dia juga menatapku sendu, tatapan hangat yang selama ini selalu menguat aku bisa melihat sosok Mama kandung yang telah lama tidak bisa aku lihat di dunia ini.


"Sifana, bisakah kamu berjanji pada, Mama?" aku melihat wanita itu menatapku dengan wajah memohon seakan dia berharap besar dari jawaban yang akan aku berikan. padanya.


"Mengenai apa, Ma?" aku tidak langsung menjawab karena takut ingkar janji jadi lebih dulu aku memastikan apa yang ingin wanita paruh baya itu ingin dariku.


Sebelum bicara aku melihat Mama Elsa menyeka kristal bening di sudut matanya lalu ia kembali menatapku dengan mata sayu itu. "Mama, ingin kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkan Sadam dalam keadaan apapun, Mama hanya setuju jika kamu saja yang akan mendampinginya sekarang hingga nanti," aku tidak bisa langsung menjawab, aku memilih untuk menundukkan kepala bingung harus berkata apa.


Setelah aku menemukan jawaban dari permintaan Mama Elsa, aku kembali mengangkat kepala menatap manik mata saya itu sendu dengan berucap, "Ma, Sifana hanya istri kedua saja. Mas Sadam juga tidak pernah menyukai, Sifana hadi mana mungkin Sifana bisa bertahan dalam hubungan ini," lidahku mencecap rasa getir saat kembali teringat kalau Mas Sadam mungkin hanya terpaksa menerima kehadiranku didalam rumah itu, ya Tuhan aku sungguh ingin hidup bahagia seperti pasangan lainnya bisakah kau kabulkan suatu saat nanti.


"Percayalah, Sadam sudah menyukai kamu, tapi anak itu belum menyadarinya, Mama melihat bagaimana caranya menatap kamu tadi dan percayalah insting seorang ibu tidak akan pernah salah, Sifana."


Kami menyudahi perbicangan ini setelah melihat Mas Sadam dan juga Liora melangkah mendekati kami. aku melihat Liora dengan senang menjilat es krim di tangannya sedangkan Mas Sadam sendiri memberikan tatapan sulit untuk bisa dibaca dari manik mata gelapnya itu.


Kami sudah selesai berbelanja jadi memutuskan untuk kembali pulang, Mama Elsa mengandeng tangan Liora sedangkan aku sendiri berjalan dibelakang keduanya bersama dengan Mas Sadam. Aku melihat setiap toko yang aku lewati kemudian aku menatap satu baju yang berwarna pics pas dengan ukuran Anggun. Aku membayangkannya Anggun mengunakan baju itu dan senyumanku pun mengembang sempurna.


"Mas Sadam, saya ingin melihat sesuatu dulu lebih baik Mas Sadam menunggu didalam mobil saja," ya toko baju ini dekat dengan pintu keluar jadi aku tidak akan tersesat lebih lagi kini Mama Elsa dan juga Liora baru saja keluar dari salah satu pintu utama di mall ini.


Mas Sadam mengganggukkan kepala lalu aku langsung melangkah mendekati toko baju anak itu. Aku mengambil baju berwarna pics itu lalu tersenyum sendiri tidak luka aku lihat bandrolnya, wajahku yang semua ceria seketika langsung sedih seakan harga dari baju ini langsung menyerap semua kebahagiaanku dengan begitu cepat.


"Mbak, jika tidak kuat beli jangan pegang-pegang nanti kotor baju ini," aku kaget sekali ketika mendengarkan pelayan toko itu menghinaku dihadapan banyak pengunjung mall lainnya.


Aku sungguh malu sekali karena semua pengunjung menatap aku dari ujung kaki sampai naik ke puncak kepala seakan semua baju yang aku kenakan adalah terbuat dari sampah bekas, begini takdir rakyat kecil selalu di tindas tapi mbak penjaga toko ini tidak salah sebab orang sepertiku memang tidak seharusnya berada di sini-di kalangan orang kaya.


"Maaf, Mbak," aku hanya bisa mengatakan kata itu kemudian hendak menaruh baju ini di tempatnya semua akan tetapi pelayan toko itu langsung merampasnya.


Aku melihat wanita cantik itu membulatkan matanya padaku dan jangan lupakan tatapan menghina dan juga merendahkan yang wanita itu tunjukkan padaku. Bahkan dengan kejam dan tidak memiliki hati pelayan toko ini juga mengusir aku bagaikan aku ini ayam yang barusan ketahuan mencuri nasi di rumahnya miris sekali.

__ADS_1


"Maaf," usai berkata aku langsung memutar tubuh dengan kepala yang tertunduk tapi aku langsung mundur kebelakang saat kepalaku tidak sengaja menabrak seseorang.


__ADS_2