Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kesalahpahaman Mulai Terbuka


__ADS_3

Aku sudah selesai membuat dua piring mie instan dan masing-masing piring sudah terdapat telur ceplok dengan setengah matang. Aku


membawa satu piring menuju meja makan sedangkan membiarkan piring lainnya masih di meja dapur karena aku akan makan di sana saja.


“Mas Sadam, apakah perlu saya tambahkan nasi?” tanyaku padanya. Lelaki itu langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatapku kemudian mengerutkan keningnya.


“Bukankah kamu tadi bilang jika lapar, tapi kenapa malah hanya membuat satu piring saja?” lelaki itu tidak berkerdip melihatku dan hal


itu membuat jantungku hampir saja keluar dari kodratnya.


“Saya sudah membuatnya, tapi akan saya makan di dapur saja,” sahutku sembari menaruh piring itu di hadapan Mas Sadam.


“Makan bersamaku saja, dan ada satu hal yang perlu aku katakan pada kamu,” aku tidak langsung menjawab akan tetapi lebih dahulu mengedarkan pandangan ke sekitar Mas Sadam mengikuti arah pandanganku lalu berkata. “Tasya, sudah tidur kamu tidak perlu merasa khawatir.”


“Baiklah.” Usai bicara aku langsung bergegas mengambil piringku di meja dapur dan aku mendudukkan tubuh di kursi kosong yang tepat berada di samping Mas Sadam, ini untuk kali pertama kita makan berdua saja tanpa ada Liora dan juga Mbak Tasya. Aku berharap Mas Sadam tidak akan kembali mengatakan kata menyakitkan dan juga merendahkan seperti biasnya walaupun kami


tidak bisa menjadi suami istri akan tetapi biarkan saja kami menjadi teman dekat atau sebatas pelayan dan juga majikan saja aku sudah sangat bahagia sekali.


Aku dan juga Mas Sadam sama-sama hanya diam kami berdua sibuk menghabiskan makanan di piring masing-masing. Aku melahap dengan sangat kidmat makan di dalam piringku hingga tandas karena aku memang lapar. Mas Sadam


juga menghabiskan makanan di dalam piringnya. Suasana di dalam ruangan dapur ini terlihat sunyi sekali, suara jari tangan Mas Sadam yang mengetuk-ngetuk pelan meja terdengar olehku dengan sangat jelas. Aku hendak berdiri akan tetapi


kembali teringat jika lelaki itu mau berbicara denganku entah apa yang akan ia katakan, aku masih tidak bisa menebaknya. Mas Sadam meraih air putih yang ada di hadapannya lalu meneguknya, aku melihat jakunnya naik-turun mengikuti gerakan air itu yang masuk melalui tenggorokannya. Setelah isian di dalam gelas itu tandas, Mas Sadam mengusap bibirnya untuk membersihkan dari sisa air minum.

__ADS_1


“Sifana, apakah menurut kamu Tasya berselingkuh?” tanya Mas Sadam padaku. Ini merupakan pertanyaan jebakan atau apa? Kenapa Mas Sadam justru malah bertanya padaku, ini sungguh membuat aku bingung sekali di buatnya.


“Sa-saya tidak tahu, Mas Sadam,” aku tidak berani mengambil kesimpulan dengan gegabah sebab ini menyangkut kehidupan rumah tangga Mas Sadam dan juga Mbak Tasya.


“Aku tahu kamu juga memiliki pemikiran yang sama denganku,


akan tetapi kamu hanya diam dan tidak mau ikut campur,” ya benar sekali tebakan Mas sadam barusan, aku memang tidak ingin ikut campur urusan keluarga kalian


berdua.


“Saya, hanya pelayan di rumah ini jadi tidak pantas ikut campur,” ucapku dengan tahu diri seperti biasanya.


“Kau tahu, kamu bukan pelayan kamu adalah istriku,” sahutnya dengan cepat dan juga lugas. Entah apa yang terjadi tapi ini bukan kali pertama Mas Sadam mengatakan kata itu padaku, mungkin ini kali ke tiga dia menyebutkan sebagi istrinya.


semua yang saya inginkan tercapai,” ucapku dengan kedua tangan saling menggenggam satu sama lain. Ya ini untuk kali pertama aku jujur pada Mas Sadam mengenai malam naas itu, dimana aku dan juga kedua orangtuanya melakukan skandal untuk membuat kami menikah.


“Tidak pernah aku sangka jika kamu berani mengakuinya, lalu apa alasan kamu menikah denganku. Apakah karena uang?” aku mendengar suara Mas Sadam mulai terdengar berat dan aku juga sangat yakin sekali jika kini lelaki itu sedang mencoba untuk menahan emosi yang sudah hampir meledak di dalam dirinya.


“Saya membutuhkan uang, tapi saya tidak bisa mengatakan untuk apa,” ucapku dengan menyeka keringat yang sudah membanjiri jidat ini.


“Apakah karena adik kamu?” aku langsung mengangkat pandanganku


ketika mengetahui jika Mas Sadam tahu mengenai Anggun.

__ADS_1


“Mas Sadam, tahu dari mana mengenai Anggun?” tanyaku dengan


gelagapan. Aku memberanikan diri untuk menatap manik mata lelaki itu dan Mas Sadam kini menyandarkan punggungnya di kursi meja makan sembari menaruh kedua tangannya di dada.


“Apakah kamu pikir aku akan membiarkan kamu keluar di malam


itu tanpa ada pengawal, aku mungkin tidak menyukai kamu akan tetapi kamu tetaplah istriku walaupun sekuat tenaga aku mencoba menolaknya tapi nama kamu


berada di surat nikah denganku,” jelas lelaki itu panjang lebar.


Aku tidak pernah menyangka jika selama ini Mas Sadam tidak sekejam yang pernah aku bayangkan, aku mungkin terlalu berpikiran buruk pada hingga tidak bisa melihat kebaikan di hatinya.


Mas Sadam sudah mengetahui tentang Anggun lalu untuk apa aku menutupi semuanya.


"Ya, benar apa yang Mas Sadam pikirkan aku terpaksa menyetujui pernikahan ini karena adik yang sangat aku sayangi sakit dan dia membutuhkan banyak biaya," aku memutar kedua bola mataku mencegah agar cairan bening tidak menetes dari manik mata ini. "Mama Elsa dan juga Papa Damar juga membutuhkan wanita agar Mas Sadam tidak terus-menerus di tipu oleh Mbak Tasya, tapi sungguh sedikitpun dalam hati ini tidak pernah satu kali pun terpikirkan olehku untuk menjadi pengganggu kalian berdua, aku terpaksa melakukan semua ini hanya Anggun saja yang aku miliki di dunia ini, hanya dia saja kerabat yang aku miliki dan aku akan melakukan semua cara agar dia sebut termasuk menjual harga diri ini pada kedua orangtua Mas Sadam."


Aku mulai kehabisan oksigen didalam lingkup paru-paru, aku mulai menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan dari mulut beberapa kali. Aku juga tidak lupa memutar kedua bola mataku agar kristal bening yang sudah menganak sungai tidak sampai jatuh dan menghancurkan pertahanan diri yang sudah susah payah aku bangun.


"Apakah orang yang kamu panggil dengan sebutan, Sayang di malam itu adalah dia-adik kamu?" aku memberanikan diri menatap Mas Sadam dengan mata yang samar. Aku melihat perubahan air muka lelaki itu manik matanya seakan tidak sabar menunggu aku membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya barusan.


"Ya, dia adalah Anggun-adik kesayanganku dan hanya dialah cinta dalam hidupku sekarang hingga nanti,"


'Dia adalah cinta dalam hidupku. Apakah dari sini kamu paham, Mas Sadam?'

__ADS_1


__ADS_2