
Mas Sadam langsung bertanya pada Mbak Tasya apakah wanita itu perlu di antar ke dokter, tapi Mbak Tasya menjawab jika ini hanya pusing
kepala biasa dan hanya butuh beristirahat nanti juga sembuh. Sungguh alasan yang tidak masuk akal sekali sebab kami bertiga pergi ke mall besok bukan hari ini jadi kenapa harus menolak ikut sekarang sedangkan nanti malam bisa
beristirahat dan bisa ikut jalan-jalan bersama kami, kenapa aku mulai berpikir buruk mengenai Mbak Tasya yang akan pergi bersama kekasih gelapnya itu ataukah mungkin dia akan mengajak kekasih gelapnya datang ke rumah ini, aku segera
menggelengkan kepala pelan mencoba menepis pemikiran jahat itu.
Malam hari ini aku ikut makan di meja makan seperti biasanya dan sekarang adalah rutinitas awalku setiap harinya menjadi bagian dari keluarga ini. Aku tidak banyak berbicara selama di meja makan ini karena tidak ingin membuat Mbak Tasya semakin marah padaku, bahkan aku juga selalu menundukkan kepala seakan sibuk dengan makanan yang ada di dalam piringku ini, tapi aku mulai mendongakkan kepala saat Mas Sadam mulai mengajak aku berbicara
contohnya seperti sekarang ini.
“Sifana, kenapa kamu hanya diam saja sejak dari kemarin? Apakah kamu merasa kurang nyaman?” aku menatap lelaki itu sembari menggelengkan kepala.
“Tidak, Mas Sadam, aku hanya tidak bisa memulai perbincangan,”
sahutku jujur tanpa menatap kearah Mbak Tasya yang kini pasti sedang menyimak perbincangan kami berdua.
“Sifana, anggaplah kami berdua sama seperti keluarga kamu, karena kamu sekarang adalah istri dari, Mas Sadam juga,” Mbak Tasya sungguh
pandai sekali melakukan perannya menjadi istri pertama yang baik dan aku hanya bisa tersenyum getir saja.
“Iya, Mbak,” aku tidak mau banyak bicara dan lebih baik menghindari perbincangan dengannya.
__ADS_1
“Apakah, Tasya masih sering bersikap kasar pada kamu? Kenapa aku melihat air muka kamu seperti tertekan sekarang?” pertanyaan Mas Sadam barusan seakan seperti belati tajam yang langsung menghunus jantung ini tapi tidak menimbulkan bekas yang nyata namun rasa sakitnya tidak bisa di ragukan
lagi. Entah kenapa aku baru kali ini menyadari jika Mas Sadam adalah sosok lelaki yang sangat peka sekali hingga tebakannya tepat dan juga akurat. Ataukah mungkin sebelum Mas Sadam hanya berpura-pura tidak mengetahui semuanya? jawaban itu hanya Mas Sadam saja yang tahu.
Aku melirik sekilas kearah Mbak Tasya yang kini sedang membulatkan kedua matanya seakan wanita itu sedang mengancam aku mengunakan sorot matanya itu, bahkan rahang wanita itu juga mengeras seakan dia ingin
mengoyak tubuhku ini kalau sampai aku mengatakan yang sejujurnya pada Mas Sadam.
“Mbak Tasya, sangat baik padaku dan dia juga sudah menganggap aku seperti keluarga sama dengan apa yang Mbak Tasya katakan tadi,” aku berusaha berbicara dengan nada suara yang terdengar tenang. Sesaat tatapan mata Mas Sadam seakan sedang menyelidiki ucapan ku apakah benar ataukah tidak, tapi satu detik kemudian ia mulai melirik Mbak Tasya.
“Sayang, walaupun aku masih tidak bisa menerima keberadaan Sifana sepenuhnya akan tetapi, aku tetap bersikap baik padanya apa lagi setelah kamu menjelaskan kejadian yang sebenarnya kenapa Sifana mau melakukan skandal itu.”
Aku langsung terdiam sembari mencerna apa yang barusan Mbak
di otaknya hanya harta dan juga harta saja.
Selesai makan malam aku hendak mencuci piring di wastafel akan tetapi Mbak Tasya menyuruh aku untuk duduk di ruang tamu bersama dengan
Mas Sadam dan juga Liora dan secara mengejutkan wanita itu juga mengatakan kalau dia yang akan mencuci piring. Mas Sadam mengganggukkan kepalanya setuju
lalu aku pun mengiyakan permintaan Mbak tasya meskipun hati ini merasa tidak yakin jika Mbak Tasya rela mengotori tangannya hanya agar bisa mengambil simpati dan juga kepercayaan Mas Sadam.
“Mama Sifana, apakah nanti malam Papa Sadam akan tidur bersama dengan Mama Sifana?” aku sedang fokus menonton televisi lalu
__ADS_1
pandanganku menatap kearah Liora yang kini sedang duduk diantara kami berdua. Entah mengapa semburat merah seakan sedang mewarnai kedua pipiku usai mendengarkan ucapan polosnya itu barusan.
“Liora, kenapa bisa bertanya begitu?” aku malah bertanya balik tanpa mau menjawab ucapannya.
“Bukankah sekarang, Mama Sifana adalah istri Papa Sadam juga,” anak kecil itu menatap kearah Mas Sadam. “Papa, selama ini selalu tidur bersama dengan Mama Tasya karena mereka sudah menikah. Nanti jika Papa tidur bersama Mama Sifana, Liora mau ikut,” sambung Liora dengan wajah pemohonnya.
Wajah gadis kecil ini sungguh membuat aku gemas sekali dan ingin mencubitnya. Liora sungguh pandai dan memiliki pemikiran mirip seperti orang dewasa tapi tidak jarang juga sikap kekanakannya suka kambuh juga.
“Nanti kalau, Papa tidur bersama Mama Sifana, Liora pasti akan di ajak,” entah itu hanya perkataan untuk menenangkan hati Liora atau saja
cuman ucapan sesaat yang Mas Sadam lontarkan tapi aku begitu malu mendengarnya.
Sekilas aku melirik kearah Mas Sadam, dan lelaki itu menatapku tanpa berkerdip, dia lelaki yang sangat tampan sekali pantas saja aku
jatuh hati padanya, sesaat kemudian aku langsung memutuskan pandangan itu setelah bisa mendapatkan kesadaran ku kembali.
“Papa, Mama Sifana. Liora mau pergi ke kamar mandi dulu, ya,” aku dan juag Mas Sadam langsung mengganggukkan kepala secara bersamaan.
Kulihat Liora berlari kecil menjauh dari kami. Aku merasa canggung
sekali hanya duduk berdua bersama dengan Mas Sadam saja di ruang tengah rumah ini. Aku melihat sinetron yang ada di depanku tapi entah mengapa aku tidak bisa berkonsentrasi karena merasa gugup hanya duduk berdua dengan Mas Sadam. Beberapa kali kudengar Mas Sadam menghela nafas panjang hal itu semakin membuat aku ingin kabur saja untuk menghindar tapi itu tidak mungkin aku lakukan, nanti apa yang akan Mas sadam pikirkan tentangku. Suara televisi yang menyala membuat
aku bernafas lega setidaknya tidak ada sepi yang mencekam diantara kami berdua. Aku duduk dengan posisi tegak pada mulainya sangking canggungnya hati ini bahkan jantungku malah semakin berdetak dengan kurang ajar sekali membuat aku semakin tidak nyaman olehnya.
__ADS_1
"Sifana, apakah benar Tasya tidak melakukan kekerasan pada kamu? Bicaralah tidak usah takut," mata lelaki itu menatapku dengan sendu, tatapan dingin dan tajam yang sempat menyelimuti manik matanya kini seakan lebur bersama dengan janjinya untuk memulai semuanya dari awal.