
Aku melihat Mas Sadam mengusap kasar wajahnya dengan tangan, lalu ia memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing setelah mendengar sanggahan dari Mbak Tasya barusan.
"Aku sudah melihat rekaman cctv di rumah sakit kalau kamu memang datang dihari yang sama dengan menurunnya kondisi kesehatan Anggun." Mbak Tasya mulai tersenyum getir seakan wanita itu tidak menduga jika kebohongan yang telah dia lakukan akan terbongkar secepat ini.
Aku mencoba mengatur deru nafas ini, sungguh ingin aku hancurkan senyuman angkuh di wajah wanita itu.
"Mbak Tasya, tolong jangan libatkan Adikku dalam masalah kita," ucapku sembari menatapnya tanpa berkerdip. Aku benar-benar sudah tidak bisa diam lagi melihat sikap yang terlalu santai bahkan wanita itu juga tidak merasa bersalah sedikitpun dengan apa yang ia lakukan.
"Wanita penggoda! Kau berani berbicara padaku!" tegasnya sembari menunjuk satu jarinya padaku.
Kamu tidak akan pernah bisa mengintimidasi diriku lagi Tasya. "Aku menjadi penggoda karna terpaksa hanya agar bisa melihat Adik yang aku sayangi tetap berada di bumi ini," aku memberikan jeda sejenak untuk kalimatku. "Namun, Mbak Tasya menjadi wanita penggoda karena nafsu belaka sampai mengorbankan anak dan juga suaminya. Sekarang siapa wanita penggoda yang sesungguhnya."
Wanita itu mengangkat tangannya di udara, hampir saja dia mendaratkan tamparan itu padaku akan tetapi aku langsung memegangi tangannya sampai Tasya meringis kesakitan. Aku melirik sekilas ke arah Mas Sadam yang hanya diam melihat kamu berdua. Air mukanya tidak terbaca namun, Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri jika tidak akan pernah membiarkan sikapnya lagi, wanita seperti Mbak Tasya tidak patuh di segani.
"Kau, berani sekali melakukan hal ini padaku!" tegas Mbak Tasya sembari membulatkan kedua matanya padaku seakan mencoba mengintimidasi diriku seperti biasanya.
"Selama ini Aku diam bukan karena takut tapi Aku menghargai Mbak Tasya sebagai istri pertama dari suami kita. Namun, aku tidak bisa diam ketika melihat Kamu berani membawa Anggun dalam masalah ini bahkan Kamu juga dengan kejam menyerang mental Adikku."
__ADS_1
Aku hempas tangan Mbak Tasya di udara. Wanita itu memekik kesakitan ketika merasakan nyeri yang teramat sangat di pergelangan tangannya. Ya, pergelangan tangan itu merah membekas tanganku sungguh ini untuk kali pertama aku bersikap kasar pada orang lain, sebenarnya Aku merasa bersalah tapi ketika mengingat Anggun hampir kehilangan nyawanya. Rasa kasihan itu melebur dan tergantikan dengan kobaran api.
"Mas Sadam, lihatlah wajah asli istri kedua kamu ini! Apakah kamu yakin masih mau memilih dia dari pada Aku," ucap Mbak Tasya. Aku mencebikkan bibir melihat wajahnya yang seakan sedang di tindas, Aku tahu dia melakukan semua itu untuk mencuri hati Mas Sadam lagi.
"Mas Sadam, maafkan Aku jika telah membuat kamu kecewa namun, Aku tidak bisa diam melihat Adik yang sangat Aku sayangi di celakai oleh siapapun tanpa kecuali."
"Aku tahu apa yang sedang kamu lakukan, Sayang. Kamu hanya sedang mencoba untuk memberikan pelajaran pada wanita tidak punya hati yang mencoba menyakiti orang yang kamu sayangi." Aku sungguh tidak menyangka jika Mas Sadam berada di pihakku sekarang.
Aku menatap Mbak Tasya yang kini tengah menegang usai mendengarkan jawaban dari Mas Sadam. Bahkan dengan sangat jelas aku bisa melihat rona merah di kedua pipinya mulai memudar dan kini membuat wajah itu pucat pasih bagaikan tidak ada darah yang mengalir di wajah cantik itu.
"Sayang, kenapa kamu bisa melupakan Aku secepat ini?" tanya Mbak Tasya sembari melihat kearah Mas Sadam meminta penjelasan.
Usai bicara Mas Sadam langsung menarik tanganku menjauh dari Mbak Tasya. Aku mengikuti langkahnya dengan senang hati. Aku melihat ke arah belakang dan di sana Mbak Tasya jatuh terduduk di lantai meratapi nasibnya bahkan dengan samar Aku masih bisa melihat butiran air mata jatuh membasahi lantai di dekatnya.
Sore harinya.
"Mas Sadam, aku mau membuat ikan kepiting di bumbu kari apakah kamu mau?" tanyaku sembari menduduki tubuh di samping Mas Sadam yang kini sedang memusatkan pandangannya kearah laptop.
__ADS_1
Lelaki itu menarik pandangannya padaku sembari berkata, "Bukankah Aku sudah pernah bilang, jika akan memakan apapun yang kamu masak."
"Baiklah kalau begitu aku akan membuatnya sekarang," sahutku sembari beranjak berdiri.
"Sayang," ucap Mas Sadam. Aku langsung mengurungkan niat untuk berdiri dari sofa ini.
"Ada apa, Mas?" tanyaku padanya.
"Aku suka sekali melihat sikap tegas kamu pada Tasya tadi. Wanita sepertinya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sikap Tasya pada Anggun sudah sangat keterlaluan sekali."
"Jika ada orang yang menindas ku atau mengatakan hal buruk tentang Aku, maka Aku hanya akan diam tapi jika orang tersebut berani menyentuh apa yang aku sayang, maka aku akan membuatnya mengerti jika diriku tidak selemah itu."
Mas Sadam mendekatkan tubuhnya padaku sampai Aku terpojok di sudut sofa. "Sayang, aku semakin bergairah melihat sikap kamu yang tegas seperti ini."
"Mas Sadam, jangan Aku mau membuat makan malam nanti tidak keburu jika harus melakukan hal itu." Aku tahu jika manik mata suamiku sudah gelap seorang ini, itu tandanya jika lelaki ini ingin menyalurkan hasratnya padaku.
"Lebih baik pesan makanan dari luar sana agar kamu memiliki banyak waktu untuk melayani suami kamu ini." Aku hendak membuka suara menolak, tapi Mas Sadam malah memanfaatkan hal itu untuk mencium bibirku, dia mengajak lidahnya untuk mengabsen deretan gigiku yang rapi. Aku membalas kecupannya dengan lembut entah mengapa setiap kali Mas Sadam melakukannya hal ini Aku tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
Mas Sadam mulai mengendong Aku dalam dekapannya lalu dengan perlahan lelaki itu menjatuhkan aku di atas ranjang tanpa melepaskan pungutannya. Dengan lihai tangannya membuka baju yang Ia kenakan tanpa mengalihkan tatapannya padaku.
Tadi Aku sempat berpikir jika Mas Sadam pasti akan kembali pada Mbak Tasya, tapi siapa sangka jika lelaki itu malah melupakannya begitu saja.