
Aku mulai mengerjapkan mataku perlahan, aku membaca arah jarum jam pada dinding kamar ini, sekarang sudah pukul 08.00 itu tandanya Aku sudah tidur sekitar dua jam, ternyata benar apa yang dikatakan Mama Elsa tadi, dengan tidur sebentar tubuhku sudah terlihat segar kembali. Aku segera menyingkirkan selimut yang ada di tubuhku kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Mas Sadam ketika melihat aku yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya Mas, Maafkan aku karena tidak menyiapkan kamu dan juga yang lainnya sarapan pagi," ucapku padanya.
"Tidak masalah, Aku tahu kamu sudah sangat lelah karena menjaga Liora semalaman," sahut Mas Sadam padaku.
"Mas, apakah Liora sudah bangun?" tanyaku pada Mas Sadam yang kini mulai beranjak berdiri dari sofa.
"Dia baru saja bangun, dan dia mencari kamu." Mas Sadam menaruh salah satu tangannya di pundak ku.
"Ayo kita ke kamar Liora sekarang," pintaku padanya.
Mas Sadam menjauhi tangannya dari pundak ku, lalu aku melihat Anggun dan juga Liora yang kini sedang duduk di atas ranjang menatapku dengan senyuman manisnya. Mama Elsa dan juga Papa Damar juga ikut tersenyum.
"Mama Sifa, sudah bangun?" tanya Liora ketika Aku baru saja mendudukkan tubuh ini di sisi ranjangnya.
"Iya, Sayang." Aku tersenyum renyah padanya.
"Mama Sifa, pasti merasa lelah karena sudah menjaga Aku semalaman," ucap Liora.
"Semua itu tidak penting. Karena yang terpenting sekarang Liora sudah sembuh lagi," sahutku padanya.
"Liora tentu akan sembuh dengan cepat karena Mama Sifa selalu menjaga dan juga merawat Liora," ucap Liora.
"Liora, bukan hanya Mama Sifa saja yang menjaga kamu, tapi semua orang menjaga kamu dan juga menyayangi kamu, jadi jangan pernah takut pada apapun lagi, karena kami semua akan selalu ada untuk mendukung kamu," aku memberikan jeda sejenak untuk kalimat yang Aku ucapkan. "Kamu harus ingat jika kami semua sangat-sangat menyayangi kamu."
"Liora, akan ingat," sahut Liora sembari tersenyum padaku.
__ADS_1
Hati yang sempat gundah ini seketika langsung menghangat tatkala pupil mata ini dipenuhi dengan senyuman manisnya.
***
Tiga hari kemudian.
Kondisi Liora sekarang sudah membaik dan gadis kecil itu juga sudah kembali ceria, Mama Elsa dan juga Papa Damar memutuskan untuk tinggal di rumah ini mulai sekarang karena mereka mengatakan jika tidak ingin jauh dari kami semua. Aku dan juga Mas Sadam tentu sangat senang sekali mendengarkan kabar baik itu, karena setahuku ketika Mas Sadam dan juga Mbak Tasya masih bersama Mama Elsa dan juga Papa Damar tidak pernah mau berlama-lama menginap di rumah ini.
Kedua orangtuaku mungkin sudah pergi ke sisi Tuhan, akan tetapi Tuhan menggantinya dengan memberikan Mama Elsa dan juga Papa Damar di kehidupanku dengan Anggun.
“Mbak Anggun, Ayo.” Aku mendengar Liora sedang melambaikan tangannya pada Anggun yang saat itu sedang duduk di gazebo dekat taman bunga yang ada di halaman rumah ini.
“Liora kita mau kemana?” tanya Anggun pada Liora. Aku dan juga Mama Elsa yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum senang.
“Biar, Liora bonceng mengunakan sepedah,” ucap Liora sembari menaiki sepedahnya yang sudah berada di pinggir taman.
“Kenapa Liora harus tidak kuat, nanti ketika Mbak Anggun sudah naik ke atas sepedah, Mama Sifa langsung dorong dari belakang,” ucap Liora dengan polos. Aku mencubit gemas kedua pipinya tapi aku pastikan jika Ia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun.
“Ma, lihatlah cucu kamu ini sangat pandai sekali mencari solusi.” Aku menatap Mama Elsa yang kini ikut terkekeh mendengarkan celotehan cucu kesayangannya ini.
Mama Elsa melangkah menghampiri kami bertiga dengan tertawa renyah. “Liora, itu pandai sekali,” puji Mama Elsa sembari mengecup pipi Liora.
“Nenek, jangan cium Liora terus, Liora ini sudah dewasa,” ucap Liora dengan bibir yang mengerucut lucu.
“Sudah-sudah jangan manyun begitu, sekarang Mama Sifa akan mendorong kalian berdua,” ucapku padanya.
Liora langsung menatap lurus ke depan dan Aku terkekeh melihat sikapnya yang polos nan mengemaskan ini.
Setelah lelah bermain sepedah akhirnya Liora dan juga Anggun Aku suruh masuk kedalam kamar mereka untuk tidur siang. Aku dan juga Mama Elsa duduk di ruang tengah rumah ini sembari menonton televisi.
__ADS_1
“Ma, jika di lihat Liora sudah tidak trauma lagi dengan apa yang terjadi,” ucapku pada Mama Elsa.
“Iya kamu benar, Liora sudah ceria seperti sebelumnya, tapi kita masih harus terus mengawasinya karena kamu tahu sendiri jika Liora itu pandai sekali menyembunyikan isi hatinya,” jelas Mama Elsa.
“Iya, Ma,” sahutku setuju dengan apa yang barusan Mama Elsa katakan.
***
Aku sedang membersihkan tubuhku didalam kamar mandi. Terdengar suara ketukan pintu dari dalam kamar mandi, Aku mematikan shower air kemudian melilitkan handuk ke sebagian tubuhku.
“Siapa?” tanyaku dari dalam kamar mandi. Tidak ada jawaban, akhirnya Aku membuka pintu kamar mandi dan terlihatlah suamiku yang sudah polos tanpa mengunakan satu helai benangpun.
“Mas, tumben kamu sudah pulang jam sedini?” tanyaku padanya.
“Semua pekerjaanku sudah selesai untuk apa aku berlama-lama di kantor,” ucapnya sembari masuk kedalam kamar mandi.
Aku melangkah keluar dari kamar mandi, karena Aku memang sudah selesai mandi akan tetapi Mas Sadam malah menarik aku kembali masuk kedalam kamar mandi kemudian menutup pintunya.
“Mas, aku sudah selesai mandi,” ucapku padanya.
“Kalau begitu bantu aku mandi,” sahut Mas Sadam dengan mengerdipkan satu matanya. Entah sejak kapan suamiku terlihat genit seperti ini.
“Mas, Aku mau menyiapkan makan malam,” tolakku secara halus.
Aku hendak membuka pintu kamar mandi akan tetapi Mas Sadam dengan sikap segera menutup kembali pintu kamar mandi ini dan mengungkung aku dalam dekapannya. Aku hendak berbicara tapi lelaki itu sudah menciumku dengan lembut. Tangan Mas Sadam langsung membuka handuk yang sempat menutupi sebagian tubuhku, kini handuk itu sudah teronggok di lantai dan Aku tahu ciuman ini tidak akan selesai begitu saja.
Adegan Author skip. Reader yang baik bisa bayangkan sendiri.
Selesai melakukan pergumbulan panjang itu Aku turun ke dapur dan membantu Mama Elsa untuk membuat makan malam. Aku malu sendiri melihat Mama Elsa yang sudah hampir menyelesaikan semua masakan ini, tapi Mama Elsa malah bersikap biasa saja seakan Ia sudah tahu apa yang terjadi di kamar atas tadi sampai membuatku terlambat untuk membantunya.
__ADS_1