
Aku langsung ikut beranjak dari posisi dudukku. Aku melihat Kiera mundur kebelakang pasti wanita itu takut melihat sorot mata tajam yang sekarang di tunjukkan oleh suamiku padanya.
“Ad-ada apa ini?” tanya Bu Ida pada putrinya. Aku melihat Bu Ida buru-buru mengusap air matanya kemudian menatap kearah Aku dan juga Mas Sadam secara bergantian.
“Bu, mereka jahat sekali. Mereka memasukkan pacarku ke dalam penjara dan mereka juga yang membuat Aku di pecat dari pekerjaan. Lihatlah mereka berdua sekarang mendekati Ibu, pasti ada hak buruk yang sedang keduanya rencanakan.” Aku mengandeng tangan Mas Sadam karena takut suamiku gelap mata melihat Kiera begitu pandai memutar balikkan fakta yang ada.
“Kiera, kamu jangan bicara seperti itu. Selama tiga tahun, Ibu mengenal Nak Sifa dan dia adalah wanita yang baik.” Aku tidak menyangka Jika Bu Ida malah membela Aku dan bukan putrinya.
“Ibu, seharusnya membela aku. Tapi malah membela wanita lain sebenarnya anak Ibu itu Aku atau dia,” sergah Kiera tidak terima. Wanita itu juga menunjukku dengan penuh kebencian.
“Jaga ucapan kamu, Aku bisa menjebloskan Kamu ke dalam penjara dengan tuduhan fitnah karena yang barusan kamu ucapkan itu tidak benar dan kita tahu faktanya. Aku membiarkan kamu bebas karena ingin memberikan kesempatan kedua untuk kamu, kau seharusnya bisa memulai hidup yang baru.” Mas Sadam bicara dengan penuh penekanan. Aku menggenggam erat tangannya untuk mengontrol emosi suamiku saat ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Bu Ida meminta penjelasan pada Aku dan juga Mas Sadam. Kasihan sekali wanita paruh baya itu, setelah bertemu dengan putrinya Ia harus mengetahui sikap asli Kiera selama ini.
“Mas Sadam, kita duduk lebih dahulu. Kasihan Bu Ida,” pintaku padanya.
Mas Sadam masih tidak bergeming dari posisinya bahkan kini lelaki itu juga menatap nyalang kearah Kiera tanpa berkedip. Sedangkan Kiera sendiri masih bersembunyi di belakang Bu Ida.
__ADS_1
“Mas, Aku mohon,” pintaku padanya untuk kali kedua.
“Ibu-ibu maaf, warungnya hari ini tutup lebih awal.” Aku melihat para ibu-ibu yang sejak dari tadi melihat apa yang sedang terjadi nampak kecewa mungkin karena mereka tidak bisa gibah lagi nanti.
Kiera duduk di hadapanku sedangkan Bu Ida duduk di hadapan Mas Sadam. Aku menjelaskan mulai dari awal sampai akhir mengenai Putra dan juga Kiera. Bu Ida menangis tersedu-sedu setelah mengetahui tingkah putrinya itu. Kiera hanya diam bahkan jika di lihat dari air mukanya wanita itu tidak merasa bersalah sedikitpun. Entah terbuat dari apa hatinya itu sampai Dia tidak merasa tersentuh melihat tangisan dari ibu kandungnya sendiri.
“Ibu, mewakili Kiera untuk meminta maaf atas apa yang telah Dia dan juga kekasihnya lakukan pada kalian berdua. Ini bukan salah Kiera. Ibu yang salah karena tidak bisa mendidiknya menjadi perempuan yang baik. Sejak dari kecil Kiera selalu saja tidak bisa mendapatkan apa yang Ia inginkan karena Ibu hanyalah orang miskin yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Kiera sebenarnya anak yang baik, andaikan saja Ibu tidak miskin seperti ini pasti Kiera juga tidak akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan.” Aku ikut menitihkan air mata usai mendengarkan apa yang Bu Ida katakan, hati seorang Ibu selalu saja memaafkan kelakuan anaknya bahkan mereka rela terluka hanya untuk membuat anaknya merasa bahagia.
“Apakah, Ibu mau mewakili Kiera masuk kedalam penjara?” ucap Mas Sadam sembari melirik nyalang kearah Kiera yang langsung terkejut. Kira yang tadinya menatap kearah lain langsung melihat kearah Mas Sadam.
“Ibu, rela masuk kedalam penjara. Ibu juga tidak tahu akan hidup berapa lama lagi di dunia ini, sedangkan Kiera masih memiliki masa depan yang panjang.” Aku melihat Kiera mulai menatap kearah Bu Ida dengan air muka merasa bersalah.
“Mas, kenapa kamu melakukan hal itu kasihan, Bu Ida dia sudah sangat tua. Tolong Mas jangan lakukan hal ini.” Aku memegangi lengannya dengan air mata yang sudah jatuh semakin deras. Bu Ida sangat baik padaku dan Aku tidak bisa melihatnya dalam masalah.
“Sayang, kamu tau sendiri jika wanita tidak punya sopan ini,” ucap Mas Sadam sembari menatap kearah Kiera. “Dia mana mau masuk kedalam penjara, jadi biarkan Bu Ida saja yang menggantikannya.”
Beberapa detik atmosfir di sekitar kami mulai berubah. Matahari bersinar semakin terik hal itu membuat cuaca semakin panas-sepanas perbincangan kami di pagi ini.
__ADS_1
“Tidak, jangan lakukan itu. Aku akan mempertanggung jawabkan semua kesalahanku.” Aku begitu terkejut usai mendengarkan ucapan Kiera.
Bu Ida langsung menarik pandangannya ke arah Kiera. Aku benar-benar tidak menduga jika Kiera mengatakan hal ini, Ia yang tadinya terlihat cuek dan juga sempat menyakiti hati Bu Ida kini malah rela masuk kedalam penjara.
“Nak, kenapa kamu melakukan itu. Biarkan Ibu saja yang menanggung semuanya, Ibu juga tidak akan lama lagi hidup di dunia ini. Bapak kamu pasti sudah menunggu Ibu di atas sana.” Ya suami bu Ida telah lama meninggal. Dan sejak saat itu Bu Ida mencari nafkah sendiri melalui berjualan nasi pecel di pinggir jalan.
“Ibu adalah satu-satunya keluarga yang Kiera miliki, mana mungkin Kiera tega melihat Ibu masuk kedalam penjara.” Aku bisa melihat penyesalan nampak nyata di wajah itu.
Kiera mulai meneteskan air matanya Aku melihat Kiera memeluk Bu Ida dengan Isak tangis yang terdengar memilukan sekali. Aku melirik sekilas ke arah Mas Sadam, suamiku masih tidak merubah air mukanya seakan lelaki ini tidak tersentuh sedikitpun dengan apa yang terjadi dihadapannya saat ini.
"Ibu, maafkan Kiera yang selama ini hanya bisa menyusahkan Ibu saja. Biarkan Kiera mempertanggung jawabkan apa yang telah Kiera lakukan, maafkan Kiera jika selama ini hanya bisa menyakiti Ibu saja."
"Nak Sifa. Tolong maafkan Kiera, ibu yang akan menjamin jika Kiera tidak akan mengusik kehidupan kalian lagi." Tidak di duga Bu Ida langsung menjatuhkan lututnya di aspal kemudian hendak berlutut dihadapan Mas Sadam.
"Ibu." Aku mendengar nada suara panik keluar dari bibir Kira barusan.
"Bu Ida, jangan lakukan itu." Teriakku sembari berdiri dari posisi duduk. Aku merasakan nyeri di perut karena luka ini ke tarik keatas bersamaan dengan aku yang berdiri dengan gerakan cepat.
__ADS_1
Aku menatap ke arah Mas Sadam yang masih duduk dengan angkuh. Bahkan sorot matanya masih tajam seakan Ia tidak merasa kasihan Bu Ida.
Ada apa dengan Sadam ya? Kenapa Ia tega melihat Bu Ida berlutut di lantai seperti ini?