Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Hanya Menginginkan Harta


__ADS_3

Aku menatap wajah Mbak Tasya dengan pandangan yang buram


sebab manik mata ini sudah tertutup oleh Kristal bening, air mataku jatuh tanpa jeda membasahi kedua pipi. Tapi hal itu tidak membuat Mbak Tasya merasa kasihan aku justru melihat senyuman puas di bibirnya yang merah, kenapa sikap Mbak


Tasya bisa seperti iblis begini jika sudah marah bahkan dia juga tidak bisa merasakan penderitaan wanita lain? Aku tahu aku salah, akan tetapi tidak seharunya ia melakukan semua ini padaku.


“Mbak Tasya, saya mohon lepaskan ini sakit sekali bagaimana jika nanti Liora sampai melihatnya,” ucapku dengan isak tangis yang terdengar


memilukan. Kulit kepala ini seakan ikut terkelupas bersama dengan tarikan kasar jari tangannya pada rambut panjang ku ini.


“Kau mencoba mengganggu kehidupanku, jadi hiduplah bagaikan


di neraka, satu hal lagi sesungguhnya aku tidak perduli mengenai kedekatan kamu dengan lelaki bodoh itu, akan tetapi aku tidak rela jika sampai harta lelaki bodoh itu dibagi dengan kamu,” aku melihat kedua bola mata Mbak Tasya membulat penuh saat menatap seisi rumah ini seakan dia sedang mengabadikan semua benda mahal


yang di klaim miliknya itu. Sungguh aku tidak pernah menyangka jika Mbak Tasya tidak pernah mencintai Mas Sadam tapi wanita itu hanya menginginkan uang dan juga harta, kasihan sekali Mas Sadam entah kebohongan apa lagi yang sedang Mbak Tasya sembunyikan.


“Mama … mama dimana?” suara Liora sayup-sayup mulai terdengar


dan aku melihat wajah panik Mbak Tasya, wanita itu lekas melepaskan tangannya dari rambutku bahkan membantu aku mengusap air mata dan juga membenahi rambutku


dengan kasar.


“Bersihkan tubuh kamu dan masuk kedalam kamar, ingat olesi kedua pipi kamu ini dengan salep agar bekasnya lekas hilang,” wanita itu mengacungkan satu jari telunjuknya padaku dengan penuh ancaman.

__ADS_1


Aku langsung menjauh darinya usai wanita itu mendorongku pergi, aku mengigit bibir bagian bawahku agar isak-tangis ini tidak terdengar


oleh Liora, Tuhan kenapa kamu berikan aku cobaan sebanyak ini, aku bisa mengadukan semuanya pada Mama Elsa dan juga Papa Damar akan tetapi itu tidak akan pernah menyelesaikan keadaan dan malah akan memperburuk semuanya. Mas Sadam sudah mau menerima aku menjadi istri keduanya dan sebagai gantinya aku akan menjaganya dari kejahatan yang telah Mbak Tasya lakukan, ya aku pasti bisa dan aku akan mencari cela perahan untuk melawan Mbak Tasya.


Sore hari ini matahari mulai meredup karena sang mentari mulai tertutup oleh awan hitam, ya sama seperti hati ini yang sedang gundah, aku menyambut Mas Sadam di halaman rumah bersama Mbak Tasya dan juga Liora, tidak lupa aku tersenyum manis pada suamiku bahkan Mbak Tasya dengan baik hati juga membantu aku memoles wajah ini dengan bedak dan juga lipstick tipis, awalnya aku menolak tapi wanita itu berkata jika dia akan menyiksa Liora kalau sampai aku tidak mau memakan make up sebab wajah polos ku akan terlihat memar dan kemerahan-bekas tamparan Mbak Tasya tadi masih tercekat jelas di kedua pipi ini, bahkan pipiku juga terlihat bengkak walaupun hanya sedikit saja.


Aku melihat Mas Sadam melangkah kearah kami bertiga awalnya lelaki itu melihat Mbak Tasya lalu menatapku lebih lama hingga kini langkah


kakinya berhenti di depan Mbak Tasya akan tetapi manik matanya masih tidak berhenti melihatku, apakah dia mengetahui kedua pipiku yang memar ini? Ataukah karena


aku terlihat jelek jika memakai make up seperti ini dan jujur saja jika ini


baru kali pertama aku mengunakan make up di wajahku dan aku juga merasa kurang nyaman bahkan terbersit perasaan tidak percaya diri dengan wajahku yang mengunakan make up ini.


“Sayang, apakah Sifana terlihat cantik? Aku sendiri loh yang telah memoles wajahnya,” kudengar Mbak Tasya mulai berbicara pada Mas Sadam bahkan tangan wanita itu juga melingkar di lenganku akan tetapi sesaat kemudian dia mulai mencengkram lenganku lebih keras seakan menyuruh aku untuk mendukung kebohongannya.


“Kamu cantik sekali jika menggunakan make up,” puji Mas


Sadam padaku dan aku mulai merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang kini sedang


berterbangan membentuk sebuah lingkaran di perut ini. Aku tidak menyangka jika suamiku akan memujiku cantik.


“Sayang, berarti mulai besok kamu harus membelikan Sifana uang untuk membeli make up dan aku sendiri yang akan mengantarnya untuk membeli,” ujar Mbak Tasya sembari melepaskan genggaman tangannya di lenganku lalu bergelayutan manja pada Mas Sadam.

__ADS_1


“Papa, Liora juga mau di kasih uang untuk membeli coklat dan juga es krim,” sambung Liora sembari mengoyangkan tangan Mas Sadam, aku meringis kesakitan menahan rasa nyeri di lengan ini tapi aku juga terhibur melihat kepolosan Liora.


Kulihat Mas Sadam mulai menepis perlahan tangan Mbak Tasya


lalu ia mengandeng tangan Liora masuk kedalam rumah sembari berkata, “Papa besok akan mengajak, Liora, Mama Tasya dan juga Mama Sifana untuk membeli banyak


barang yang kalian sukai,” tutur Mas Sadam sembari melirik kearah aku dan juga Mbak Tasya secara bergantian. "tapi Liora tidak boleh membeli banyak es krim dan juga coklat," sambung Mas Sadam dengan melihat kearah Liora. Inilah yang membuat aku suka pada Mas Sadam sikapnya yang penyayang pada anak kecil sungguh membuat hatiku hangat andaikan saja Anggun yang diperlakukan seperti itu aku pasti akan sangat bahagia sekali.


Segera aku goyangkan kepalaku mencoba untuk menepis khayalan aneh tadi, karena itu tidak akan mungkin terjadi dan sebaiknya mulai dari sekarang aku harus mengubur harapan itu dalam-dalam jauh di dasar hati ini.


“Mas Sadam, saya di rumah saja sebaiknya Mbak Tasya dan juga


Liora saja yang ikut,” ucapku mengalah karena kau tidak ingin melihat Mbak Tasya semakin marah padaku. Ya, besok adalah hari libur pantas saja Mas Sadam mau mengajak kami bertiga jalan-jalan tapi aku lebih baik di rumah saja. Begitu


pikirku.


“Sifana, sebaiknya besok kamu saja yang pergi bersama dengan, Suami kita dan juga Liora, aku sudah sering kali berjalan-jalan dengan Mas Sadam dan juga Liora sekarang kamu juga istrinya jadi sebaiknya kita gantian saja,” ujar Mbak Tasya. Aku mengerutkan kening heran usai mendengarkan kata-katanya barusan. Bukankah dia tidak suka jika aku dekat dengan Mas Sadam,


tapi kenapa sekarang dia malah berkata demikian sungguh aneh sekali sepertinya ada sesuatu yang sedang wanita itu rencanakan, tapi aku tidak tahu itu apa.


“Kenapa, Mama Tasya tidak ikut saja bersama kami besok?” tanya Liora sembari mengandeng tangan Mbak Tasya sedangkan aku sendiri berjalan


dibelakang mereka mengamati gerakan ketiganya.

__ADS_1


“Mama, di rumah saja karena tidak enak badan,” bohong Mbak Tasya. Mana mungkin dia tidak enak badan sedangkan tadi menjambak rambutku saja dengan penuh semangat seperti itu dan aku hanya bisa mencebikkan bibir ketika mendengar bualannya itu.


'Taukah kamu, ribuan kupu-kupu seakan berterbangan di perut ini ketika kau memujiku cantik, Mas Sadam.'


__ADS_2