
Apa yang Mas Sadam lakukan benar sekali, ini adalah kamarnya karena aku istrinya. Aish, apa yang harus aku katakan lagi padanya sedangkan
aku memakai baju seperti ini apa lagi aku masih belum bisa memaafkan lelaki itu sepenuhnya aku langsung bergidik ngilu ketika bayangan dia memasuki tubuhku dengan paksa menyeruak seisi kepala ini dan menari-nari kejam di sana. Mas Sadam berjalan menuju lemari lalu mengambil baju tidur di sana kini tubuh lelaki itu sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari kamar dan tidur saja di kamar, Liora, ya itu lebih baik dari
pada harus satu kamar dengannya. Dengan cekatan aku menyingkirkan selimut di tubuhku, bahkan aku dengan sengaja tidak mengunakan alas kaki dan lebih memilih
memeganginya saja agar suara langkah kakiku tidak terdengar olehnya. Bagus ini sempurna satu tangan aku taruh menutupi dada sedangkan satu tangan lainnya aku
gunakan membawa alas kaki dan kini aku mulai berjalan berjinjit agar tidak
terdengar. Ya, Tuhan adegan ini sangat mendebarkan sekali mirip seperti di film horor.
Ceklek!
“Kamu mau kemana?” sia-sia apa yang aku lakukan sekarang ketika ucapan suamiku mulai menendang gendang telingaku lalu memupuskan harapanku untuk bisa keluar dari dalam kamar ini.
Aku menjatuhkan alas kaki yang aku bawa ke lantai marmer ruangan ini begitu saja lalu memakainya kini aku berbalik badan masih dengan tangan menutupi dada agar benjolan belakang tangan ini tidak nampak olehnya. “Mas, aku mau mengambil air minum,” ya, aku tidak pandai berbohong dan aku hanya sedang berusaha berbohong saja meskipun gagal total.
Kulihat Mas Sadam mengangkat satu alisnya lalu melangkah mendekati aku kini dia sudah berganti piyama tidur. “Apakah kamu kira aku ini mudah di bohongi? Jika kamu berniat untuk mengambil air minum mana mungkin kau tenteng sandal rumah itu dan berjalan berjinjit seperti pencuri yang kabur setelah melihat sosok majikannya,” benarkan apa yang aku bilang jika aku tidak
__ADS_1
pandai berbohong. “aku tidak akan pernah melukai kamu, aku juga tidak akan menyentuh kamu kalau kau tidak menginginkannya aku hanya butuh teman saja tidak lebih,” jelasnya padaku dengan wajah bersungguh-sungguh.
“Berjanjilah jika, Mas Sadam tidak akan melakukan hal kejam itu lagi,” lelaki itu langsung mengganggukkan kepalanya setuju. “baiklah jika begitu tapi aku akan menganti baju dulu.”
Aku melangkah melewatinya tapi siapa sangka jika lelaki itu langsung meraih pinggangku kemudian ia menarik aku dalam pelukannya, kini aku semakin gugup saja dibuatnya. “Tidak perlu berganti baju aku bukan orang lain.” Tanpa menunggu jawaban dariku Mas sadam langsung memegangi tanganku dan beranjak
naik ke tempat tidur.
“Mas, kau sudah berjanji untuk tidak melakukannya,” aku mencoba mengingatkan.
“Aku tahu dan aku masih ingat jadi tidak perlu kamu ulang,” aku melihatnya sedang bersandar di punggung ranjang sembari menatap aku yang mulai mendudukkan tubuh di sisi sampingnya.
“Sayang, aku benar-benar meminta maaf atas semua ucapan dan juga sikapku padamu selama kita menikah, aku akan menceraikan Tasya agar hanya kamu saja istriku satu-satunya.”
Mas Sadam berbaring sembari memiringkan tubuhnya menatapku. “Apakah kamu tahu selama ini hubunganku dengan Tasya tidak harmonis, tidak seperti apa yang kamu lihat. Aku dan juga Tasya sebenarnya hanya sedang berpura-pura baik-baik saja dihadapan orang lain. Padahal yang terjadi sebenarnya aku dan juga dia tidur secara terpisah didalam kamar, aku tidak pernah menyentuhnya
waktu kali pertama kedua orangtuaku menunjukkan bukti jika dia berselingkuh. Selama ini aku masih mempertahankannya karena mengingat Liora dia yang akan
menjadi korban dalam sikap tegas yang aku ambil, tapi setelah kamu datang aku mulai memiliki harapan-harapan agar Tasya bisa berubah dan aku dengan senang
__ADS_1
hati akan memaafkan semua kelakuannya, tapi Tasya semakin menjadi-jadi bahkan berani menunjukkan kekasihnya di hadapanku dengan menyuruh lelaki itu mengganggu kamu, dari awal aku sudah tahu siapa lelaki itu tapi aku hanya bisa diam.”
“Kenapa kamu masih bisa bertahan setelah melihat sikap Mbak Tasya yang seperti itu, Mas?” tanyaku tidak habis pikir Aku baru tahu jika beban
yang suamiku tanggung sangat besar bahkan dia sampai berpura-pura tidak perduli dengan semua bukti yang kedua orangtuanya tunjukkan hanya agar tidak mengorbankan Liora dalam keputusannya.
“Karena aku sangat mencintainya, ya, awalnya sangat mencintainya tapi perasaan itu mulia terasa hambar saat dia terus saja memupuskan semua harapanku agar dirinya bisa meninggalkan lelaki itu tapi sikapnya semakin menjadi-jadi dia bahkan dengan terang-terangan membelanjakan lelaki itu mengunakan uang yang aku berikan dengan nominal besar, aku masih
bisa terima tapi lambat-laun cintaku mulai sirna tergantikan dengan kebencian hingga aku tidak ingin tidur satu ranjang dengannya bahkan aku juga tidak menyentuhnya sama sekali meskipun Tasya mencoba menggodaku,” entah mengapa ada
perasaan senang di hati ini saat mengetahui jika Mas Sadam tidak pernah menyentuh mbak Tasya, kenapa aku jadi jahat seperti ini.
Mas Sadam menceritakan semuanya padaku tentang kesedihannya
dan aku mendengarkan dengan senang hati, aku mulai menguap beberapa kali sampai membuat mataku berair lelaki itu melihatnya dan menyuruh aku untuk tidur. Aku
mengganggukkan kepala karena rasa kantuk ini sudah tidak bisa aku bendung lagi. Mas Sadam melingkarkan tangannya di pinggangku dan aku menoleh padanya sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Aku mohon biarkan saja seperti ini," aku hanya bisa pasrah mengiyakannya sebab aku tahu dia sedang sedih sekarang dan membutuhkan seseorang untuk berbagai kesedihan, aku beruntung bisa memilikinya dan akan menjaganya sampai kapanpun.
__ADS_1
Senja yang indah mulai nampak di langit, ini adalah waktunya untuk aku menyiapkan sarapan pagi, aku merasakan ada tangan yang memelukku kemudian aku menolak kearah samping dan nampak Mas Sadam sedang tidur dengan sangat lelap. Kenapa aku lupa jika kemarin dia tidur bersamaku perlahan tapi pasti aku memiringkan badan menatapnya, aku melihat pahatan wajah yang begitu kokoh dan juga sempurna memenuhi pandanganku, hidungnya mbangir dan juga buku mata lentik bagaimana wanita sungguh sempurna sekali semakin menambah kadar ketampanannya.
Aku mengarahkan tanganku untuk menyentuh bibirnya yang berwarna pink sungguh mirip seperti bibir wanita, terlihat sensual sekali entah mengapa aku ingin mencicipinya di pagi hari. Aku langsung memukul kepalaku agar pemikir konyol itu segera sirna dengan perlahan aku menyentuh benda kenyal itu dan mengamatinya dengan intens. Usai menyentuhnya perlahan aku mengarahkan pandangan naik ke wajahnya dan terdapat penampakan jika kedua pelupuk mata itu telah terpecah. Mas Sadam menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca, ya Tuhan mau ditaruh dimana wajah ini.