
Aku terus melangkah dibelakang resepsionis perusahaan ini tanpa bersuara, wanita itu juga sangat profesional sekali dalam bekerja bahkan dia juga tidak mencoba mengorek informasi tentang siapa diriku dan apa alasan aku datang ke ke perusahaan ini, aish kenapa aku lupa tadi Mama Elsa menelepon jelas saja dia tidak bertanya apapun.
“Mbak Sifana, ini adalah ruangan kantor, Pak Sadam,” aku langsung mengganggukkan kepala pada resepsionis cantik itu yang kini sedang tersenyum ramah padaku.
“Terima kasih, sudah mengantarkan saya-saya akan mengetuk sendiri pintunya,” sahutku dengan mengulas senyuman manis.
“Baiklah,” usai bicara aku melihat resepsionis itu pergi meninggalkan aku di depan pintu ruangan suamiku berada.
Kutarik nafas dalam lalu menghembuskannya dari mulut, aku
memegangi jantungku yang bodoh ini agar tidak berdetak kencang seperti biasanya setelah aku rasa sudah cukup melakukan pemanasan aku langsung mengarahkan punggung tangan ini untuk mengetuk pintu bercat coklat tua tersebut. Aku
mendengar suara sahutan dari dalam ruangan, pun langsung aku arahkan tangan ini memutar handle pintu dan masuk kedalamnya. Manik mataku langsung di suguhkan dengan permandangan elegan dinding yang bercat putih tulang dan juga perabotan berwarna hitam nampak tertata rapi di dalam ruangan ini. Aku juga melihat sebagian dinding di
dalam ruangan suamiku terbuat dari kaca transparan sehingga kita bisa melihat dengan sangat mudah permandangan dibawah sana. Ini adalah salah satu gedung tertinggi di Surabaya dan lantai yang suamiku tempati berada di paling atas sendiri
bisa kalian bayangkan betapa indah pemandangannya.
Aku melihat Mas Sadam masih belum menyadari kehadiranku karena semenjak aku masuk kedalam ruangan ini lelaki itu masih sibuk membaca berkas dihadapannya dengan sangat teliti. Aku menaruh rantang berwarna putih di atas meja kemudian melangkah menghampirinya.
“Ada apa,” lelaki itu mengangkat pandangannya ketika aku hampir saja sampai di meja. Bisa kulihat manik mata Mas Sadam langsung terkejut
melihat aku sudah berdiri di ruangannya. Dia menaruh bulpen yang sempat di genggam begitu saja di atas berkas yang tadi sempat ia baca kemudian ia menyeret kursinya kebelakang beranjak berdiri dan menghampiriku.
__ADS_1
“Mas Sadam, maaf jika aku mengganggu waktu kamu,” ujarku sembari mengecup tangannya bersalaman. Aku memperhatikan keningnya yang berkerut seakan lelaki itu sedang takut jika apa yang dia sembunyikan aku ketahui dan jika aku tidak salah tebak ini pasti mengenal kedatangan Mbak Tasya tadi.
"Kamu tidak pernah mengganggu justru aku sangat senang sekali jika kamu datang andaikan tadi kamu memberitahukan jika akan datang ke kantor ini pasti aku sendiri yang akan menjemput kamu di depan perusahaan," lelaki itu memelukku lalu mengecup keningku sekilas kemudian dia mengandeng tanganku menuju ke sofa.
“Mama Elsa, tadi meminta aku untuk membawakan makan siang anggaplah ini sebagai kejutan,” aku dan juga Mas Sadam duduk di sofa
lalu aku membuka rantang yang ada di sana. “aku memasak kari ayam dan juga ayam goreng kesukaan, Mas Sadam jika nanti sudah tiba waktunya makan siang akan aku siapkan lalu kita makan bersama,” sambung ku sembari membuka isian di dalamnya untuk menunjukkan menu yang aku buat tadi.
“Sayang, tidak usah di tutup lagi makanan itu, aku merasa sangat lapar apa lagi masakan kamu itu begitu membuat candu, sebaiknya kita makan siang lebih awal saja,” aku mengurungkan niatku menutup
makanan ini ketika mendengarkan ucapannya. Aku menoleh kearah Mas Sadam ketika lelaki itu meneguk salivahnya dengan manik mata tidak sabar mencicipi masakan ku, air mukanya sungguh lucu sekali jika seperti ini dan itu membuat senyuman tipis lolos begitu saja dari bibirku.
“Sayang, kenapa kamu tersenyum?” dia manarik ku dalam dekapannya, aroma parfum mins bercampur
mentol menyeruak masuk kedalam hidungku, sungguh aku menyukai aromanya yang membuatku candu apa lagi ditambah dengan tatapan sendu yang sering kali lelaki itu tunjukkan padaku.
merasakan sakit di hati ini bagaikan ada sebilah pisau tajam yang menancap tepat di dada ketika mengingat jika tidak semua orang mengetahui bahwa aku adalah istri keduanya, bisa saja mereka menggangap aku adalah selingkuhan Mas Sadam saja.
“Aku akan langsung mengatakan kamu istriku jika ada satu pegawai kusaja yang melukai harga diri
kamu,” aku melihat kejujuran terpancar dari air mukanya.
"Kamu tetap harus melepaskan pelukan ini, Mas Sadam lalu bagaimana aku menyiapkan makan siang jika masih berada di dekapan kamu," ucapku dengan bergeliat mencoba untuk melepaskan pelukannya yang semakin erat.
__ADS_1
“Cium aku dulu jika ingin aku lepaskan,” aku langsung membulatkan kedua mata ini kaget
mendengarkan ucapan suamiku. Entah mengapa setelah tidak ada jarak diantara kami aku baru tahu jika Mas Sadam tipe lelaki yang suka menggoda istrinya bisa dibilang juga dia sedikit mesum sih.
Aku menengadahkan wajah melihatnya masih dengan posisi
berada di dekapannya. “Aku tidak mau,” usai bicara aku mengalihkan pandangan kearah lain tidak ingin lelaki ini melihat kedua pipiku yang sudah berwarna merah merona seperti tomat yang hampir busuk.
“Kalau begitu aku akan memeluk kamu seperti ini, biarkan saja
jika ada yang lihat,” kutarik pandangan kearahnya dengan mengerucutkan bibir sebal tidak aku sangka dia menyebalkan juga.
Aku merasakan nafas Mas Sadam berada di dekat telingaku lalu dia meniupkan pelan nafasnya di cekungan telinga ini sampai aku merasakan seluruh bulu halus di tubuh ini mulai meremang sempurna karena ulahnya.
“Setelah aku cium berjanjilah jika akan melepaskan pelukan ini,” ucapku sembari menatap dengan mata tajam. Kulihat lelaki itu langsung
mengganggukkan kepalanya setuju.
Aku mengecup pipinya sekilas tapi Mas Sadam masih juga tidak mau melepaskan pelukannya dia malah memejamkan matanya sembari berkata, cium lagi. Aku menghembuskan nafas pelan kembali mengecup pipi satunya dan kini
manik mata lelaki itu menatapku, mengunci manik mata kami berdua.
Dia hendak mengecup bibirku tapi aku kembali teringat akan tuduhannya padaku waktu itu. Aku mulai kesulitan bernafas aku alihkan pandanganku kearah lain dan bersama dengan itu pegangan tangan Mas Sadam di pinggangku mulai melemas aku tidak mau mengulur waktu dan segera aku gunakan untuk lepas darinya.
__ADS_1
"Maafkan aku jika selalu saja lepas kendali jika kamu berada di sampingku," aku mendengar nada penyesalan dalam ucapannya.
Aku tidak menjawab dan segera menyiapkan makan siang untuk kami berdua, sekilas aku menatapnya dan air muka itu terlihat kecewa sungguh aku juga merasakan sakit yang sama ketika bayangan pemaksaan itu kembali mengambil alih hatiku dan membuat aku harus menjauh darinya untuk sementara waktu menyembuhkan luka ini.