Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Alasan Dibalik Kemarahan Sadam


__ADS_3

Aku menatap ke arah Mas Sadam dengan kristal bening yang masih belum berhenti jatuh dari pelupuk mata ini. Dengan samar Aku masih bisa melihat kobaran api yang tadi sempat memenuhi manik mata Mas Sadam mulai lenyap bersama derasnya air mata yang membanjiri wajahku ini.


Mas Sadam menarik Aku kedalam pelukannya. "Sayang, maafkan Aku-aku sungguh tidak bermaksud berbicara kasar padamu seperti ini."


"Mas, Aku ingin beristirahat," sahutku tanpa mengubris permintaan maafnya itu, hatiku sudah terlanjur sakit sekarang. Aku melepaskan perlahan pelukannya kemudian mengusap kasar cairan bening yang sudah terburai di wajah ini.


Mas Sadam menggapai tanganku kemudian menggengam tangan ini lembut. "Sayang, dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu," pinta Mas Sadam padaku dengan wajah memohon.


"Apa lagi yang harus di jelaskan, Mas. Semua sudah jelas, kamu menuduh aku yang tidak-tidak, demi apapun Mas. Tidak pernah terlintas sedikitpun di benakku akan mencari lelaki lain." Dengan suara yang gemetar Aku berbicara bahkan kristal bening ini juga tidak berhenti tumpah membasahi kedua pipi.


"Sayang, aku takut kamu akan seperti Tasya yang meninggalkan Aku dengan lelaki lain, Aku tidak sanggup jika sampai kejadian ini terulang untuk kali kedua."


Deg!


Seperti ada hantaman keras yang mengenai hatiku, Semua ini Mas Sadam lakukan karena dia takut Aku pergi darinya. "Namun, kamu tidak harus terus memikirkan hal itu, kamu tidak bisa menyamakan Aku dan juga Mbak Tasya. Mas Sadam memilikimu adalah suatu keberuntungan besar dalam hidupku mana mungkin Aku berpikir akan mencari lelaki lain di luar sana."


Emosi yang tadi sempat tersulut bagaikan kembang api yang siap di ledakkan di udara telah lenyap, lebur saat aku mengetahui apa alasan dibalik kemarahan suamiku tadi. Trauma akan perlakuan Mbak Tasya pada Mas Sadam tanpa Aku sadari ternyata membekas sangat dalam dihatinya dan membuat trauma itu timbul di hatinya. Pantas saja tadi Mas Sadam terlihat posesif sekali, bahkan Aku juga sempat menangkap samar kegelisahan yang nampak jelas dari kerutan di keningnya tadi.


"Sayang, maafkan Aku-aku tidak akan meragukan kamu lagi," ucap Mas Sadam sembari mengusap kristal bening di pipi ini mengunakan ibu jarinya.


"Mas Sadam, maafkan Aku juga karena tidak mengerti kondisi kamu yang masih dibayangi masa lalu." Aku memeluknya lalu menaruh kepalaku bersandar di bahunya.


Percayalah Mas, dengan perlahan tapi pasti luka dimasa lalu itu akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Dan Aku akan menunjukkan pada kami jika tidak semua wanita itu sama.


***


Aku membuka mata-mataku terasa berat mungkin karena habis menangis semalam, samar-samar aku melihat Mas Sadam sudah bangun dari tidurnya dan kini lelaki itu sedang menatapku.


"Morning kiss," ucapnya sembari mengecup keningku.


"Mas, tumben kamu sudah.


bangun jam segini?" tanyaku padanya sembari mengucek mata ini. Aku tidak membalas kecupannya lah belum gosok gigi ehehe.


"Aku tidak bisa tidur nyenyak kemarin, aku terus saja dihantui perasaan bersalah karena telah menyakiti hati kamu," ucapnya padaku.

__ADS_1


Aku membenamkan wajah ini di dada bidangnya. "Mas, sudah luapkan hal itu, bagaimana jika pagi ini kita makan pecel di pedagang kaki lima?" tanyaku pada Mas Sadam.


"Sayang, kita pesan makanan yang ada di restoran ini saja." Aku tahu Mas Sadam pasti tidak yakin dengan rasa masakan di pinggir jalan.


"Mas, tapi aku ingin makan pecel yang ada di pinggir jalan dan gorengannya juga enak sekali," pintaku padanya dengan wajah memelas.


***


Aku tersenyum manis ketika tubuh ini sudah mendarat di bangku sederhana yang terbuat dari kayu. Memang bukan kayu jati namun tetap kuat, terdapat meja kayu dan ada beberapa coretan tinta di atasnya mungkin saja ada seorang pembeli yang mengajak anak kecil dan karena bosan si bocah menggambar ayam di atas meja itu.


Aku menatap kearah Mas Sadam yang duduk dengan tegap seakan Ia merasa kurang nyaman makan di pinggir jalan seperti ini.


"Mas, dulu aku sering sekali makan pecel di warung ini dan rasanya enak sekali," jelasku pada Mas Sadam.


"Benarkah?" tanya Mas Sadam balik. Air muka lelaki itu kelihatannya kurang merasa yakin dengan apa yang aku ucapkan barusan.


"Bu, saya pesan dua nasi pecel di kasih banyak sayur dan juga bumbu seperti biasanya," ucapku pada Bu Ida-sang pemilik warung nasi pecel ini tanpa berdiri dari posisi duduk.


"Iya, Nak Sifa," sahutnya dengan ramah padaku.


"Dia mengenal kami?" tanya Mas Sadam.


Bu Ida berjalan ke arahku dengan tersenyum manis. "Nak Sifa, ini pecelnya," ucap Bu Ida sembari menaruh dua piring pecel di hadapan kami. "Nak bagaimana dengan kabar adik kamu yang sedang sakit itu?" sambung Bu Ida.


"Sudah sembuh, Bu malah sekarang sudah keluar dari ruang sakit juga," sahutku pada Bu Ida.


"Bu Ida, ikut senang mendengarkan kabar baik ini." Bu Ida melirik kearah Mas Sadam yang dari tadi tidak berhenti menatapku.


"Eh, perkenalkan Bu ini Namanya Mas Sadam-suami saya." Aku tahu arti dari sorot mata penuh tanya yang di tunjukkan oleh Bu Ida tadi.


"Kenapa Ibu tidak di undang."


"Pernikahan kami di langsungkan secara sederhana," sahutku padanya.


"Oh ... begitu, Ibu berdoa semoga kalian lekas memiliki momongan," ucap Bu Ida sembari mengusap punggungku. "Ya, sudah kalian makan saja biar Bu Ida buatkan dua gelas es teh."

__ADS_1


"Terima kasih, Bu Ida." Aku tersenyum manis padanya. Bu Ida selalu ramah padaku dia bahkan sering memberikan aku makanan gratis.


"Dia sangat baik pada kamu." Mas Sadam bicara sembari mengusap punggung tanganku.


"Bu Ida. Punya satu anak, tapi anaknya entah kemana Bahkan selama kurang lebih tiga tahun aku berlangganan nasi pecel di tempat ini, sekalipun Aku tidak pernah melihat anaknya," ucapku lirih pada Mas Sadam.


"Baguslah dengan begitu, Dia menggangap kamu sebagai Anaknya."


"Iiih, Mas Sadam jangan bilang begitu itu namanya jahat," ucapku sembari mencubit pelan lengannya.


"Aduh ... aduh pengantin baru, maupun bermesraan terus serasa dunia milik berdua sedangkan yang lain ngontrak," goda Bu Ida sembari membawa dua gelas Es teh menuju meja kami.


"Eh, bukan begitu Bu." Aku merasa malu, dan beruntung sekali tidak banyak orang di warung ini.


"Sudah jangan malu, dulu waktu Ibu pengantin baru juga gitu tidak mau jauh-jauh dari suami," jelasnya padaku. Aku merasakan kedua pipi mulai memanas karena kata-kata Bu Ida barusan.


"Mas Sadam. Ayo dimakan pecelnya," ucapku pada Mas Sasak ketika mengetahui Bu Ida sudah beranjak pergi meninggalkan meja kami.


"Sayang, aku tidak berselera makan pagi ini," sahut Mas Sadam sembari mendorong piring berisikan nasi pecel itu menjauh darinya.


"Kalau begitu biar Aku suapi saja." Tanpa menunggu jawaban darinya Aku langsung menyendok sayur bercampur bumbu dan juga nasi nya.


"Sayang, Aku tidak mau," ucap Mas Sadam.


"Baiklah kalau begitu," sahutku dengan wajah kecewa. Aku langsung menundukkan kepala.


"Ya, sudah Aku mau makan tapi satu suap saja." Aku langsung mendongakkan kepala dengan senyuman manis. Aku tahu suamiku ini paling tidak bisa melihat wajahku masam.


"Mas, ini di makan sama peyek ikan teri malah makin mantap rasanya," ucapku padanya.


Mas Sadam langsung memakan peyek yang Aku sodorkan dengan suka rela. Aku begitu terkejut ketika mengetahui Mas Sadam menarik piring nasi pecel itu mendekat padanya kemudian Dia berkata.


"Sayang, biar Aku makan sendiri saja," ucapnya padaku.


"Loh tadi katanya nggak mau Mas?" tanyaku padanya.

__ADS_1


"Sayang, Aku berubah pikiran."


Mangkanya sebelum mencicipi rasanya jangan sok-sokan nolak deh Mas Sadam.


__ADS_2