Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
14


__ADS_3

Matahari menampakan cahayanya, kehidupan di pinggiran kota itu mulai sibuk. Setiap orang sibuk melakukan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Hasil hari itu, cukup untuk makan satu hari saja itu suatu keberkahan.


Di sebuah rumah yang termakan usia, terlihat seorang laki-laki sibuk memisahkan barang-barang hasilnya memulungnya kemaren.


"Bapak …."


Suara manja itu menyita perhatian laki-laki paruh baya dari kegiatannya.


"Ada apa Rena?"


"Bapak hari ini jualan koran?"


"Iya, sebentar lagi Bapak berangkat."


"Bagaimana kalau Mauren saja yang gantiin tugas Bapak? Saat ini Mauren belum dapat pekerjaan."


"Bapak masih kuat, selama Bapak masih kuat, anak Bapak nggak boleh kerja berat, mimpi Bapakmu ini, kamu kerja di ruang ber AC, tapi Bapak cuma mampu menyekolahkan kamu sampai SMA, apa daya Bapak, mimpi sekedar mimpi."


"Tapi mimpi Bapak tercapai, buktinya Rena kerja di ruangan ber AC juga kok." Rena langsung bersandar di bahu Ayahnya.


"Iya, tapi momong anak orang."


"Tapi, sama-sama ber AC juga Pak."


Tawa keduanya lepas, kebahagiaan itu sederhana, bukan harta melimpah, tapi bisa memberi kebahagiaan untuk orang yang kita sayang.


"Bapak berangkat dulu ya."


"Iya, hati-hati ya Pak."


"Jangan sentuh barang-barang Bapak! Tidak ikhlas Bapak, kalau kamu sentuh sampah-sampah itu."


Wajah Mauren yang tadinya dihiasi senyuman, seketika masam. Ayahnya tidak pernah mengizinkannya melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, padahal dirinya juga ingin meringankan bebas orang tuanya.


"Iya Pak."


Dasman pergi melakukan pekerjaan lain, sedang Mauren, hanya bisa melakukan pekerjaan rumah, menyapu dan mencuci pakaian-pakaian lusuhnya dan milik Ayahnya. Hanya seragam babysitter pakaian Mauren yang baru.

__ADS_1


"Moooooo!"


Mauren menggeleng jika ada yang menirukan suara sapi. Jika dia belum keluar, maka suara itu akan berubah dengan suara lain.


"Mau-mau-mau!"


"Masuk aja magic! Kunci pintu reot itu kamu dorong dengan telunjukmu pun langsung terbuka!" Teriak Mauren.


Tidak berselang lama, sosok cantik yang sebaya dengan Mauren muncul dari arah pintu depan. "Kenapa kamu selalu memanggilku dengan Magic?"


"Group band yang menyanyikan lagu magic siapa coba?" Tanya Mauren. 


"Lyla."


"Nah, sama dengan namamu!" Ucap Mauren.


Wajah Lila seketika masam.


"Hilih, kamu ledek aku dengan apa aja, aku selalu diam, giliran ku balas, wajahmu kek cuka aja, La."


"Jalan yuk," ajak Lila.


"Kemana aja, yang pasti ngukur jalanan."


"Sebentar, aku kelarin cucianku dulu."


Setelah semua pekerjaan selesai, Mauren dan Lila bersiap pergi.


"La, ada pekerjaan lagi nggak? Yang kemaren aku behenti, bapak tu bocil genit, horor ih." adu Mauren.


"Belum ada Ren, ntar aku coba tanya-tanya temenku, semoga secepatnya ada pekerjaan untukmu."


"Aamiin."


Dua gadis itu mulai meninggalkan rumah Mauren dengan sepeda motor matic milik Lila.


***

__ADS_1


Di sebuah rumah besar.


"Mamiii, Nara ikut …."


Rengekan gadis kecil itu seakan menggema di rumah besar itu.


"Nara, sama Mbak Nani dulu, mami kerja sayang."


"Mami selalu kerja, kapan mami punya waktu main buat Nara."


"Cup! Cup! Cup! Anak cantik papi nggak boleh sedih."


Gadis kecil itu langsung digendong oleh seorang laki-laki bertubuh tegap.


"Papi … Nara mau ikut mami …."


"Mami kerja sayang, nanti ya kalau mami sudah libur."


"Kapan mami pernah libur pi?"


"Nanti, pasti ada waktunya sayang."


"Nara mau main sama papi …."


"Pi, bukannya kamu harus menghadiri rapat hari ini? Buruan sana!"


"Rapat ku tunda saja Mar, kamu sudah tidak punya waktu buat Nara, setidaknya aku yang menyisihkan waktuku untuk anak kita."


"Biarkan Nara mandiri! Jangan terlalu manjakan dia!" Maki Marta.


"Aku bukan memanjakan, tapi aku menyayanginya."


"Aku curiga padamu, Kaizen, apa kamu sengaja membatalkan rapat, biar punya waktu tebar-tebar pesona?"


"Otakmu selalu kotor, Marta!"


"Mami, papi, jangan berantem, Nara sama mbak Nani aja nggak apa-apa." Gadis kecil itu menangis dan masuk kedalam pelukan pelayan yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Marta, bisa bicara sebentar?"


__ADS_2