
Seperti janjinya kemarin Mas Sadam kini benar-benar menjemputku di rumah. Aku sudah menunggu di teras rumah sejak dari tadi aku langsung.berpamitan pada Mama Elsa, Anggun dan juga Liora kemudian baru masuk kedalam mobil. Aku membuka kaca mobil sembari melambaikan tangan pada Liora dan juga Anggun begitu juga dengan Mas Sadam.
Mobil ini mulai melaju meninggalkan gerbang utama rumah keluarga Erlanga. Aku melihat kresek berwarna putih yang terdapat buah apel berwarna merah di sana. Mas Sadam menatapku dengan senyuman manis kemudian mengikuti arah pandanganku.
“Sayang, bukankah semalam kamu bilang jika ingin makan buah apel, jadi tadi aku mampir dahulu ke supermarket kemudian membeli buah apel dan aku juga sudah menyuruh pelayan supermarket untuk mencuci buah ini terlebih dahulu agar kamu bisa langsung memakannya,” jelas Mas Sadam panjang lebar padaku.
Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi melihat sikapnya yang penyayang dan juga sangat pengertian. Padahal semalam aku hanya bicara asal saja mengenai buah apel tapi siapa sangka jika suamiku tersayang ini justru membelikan aku buah apel. Ya, memang stok buah apel di kulkas kosong karena besok adalah jadwal belanja semua kebutuhan pokok.
“Terima kasih, Mas.” Aku langsung mengambil buah apel itu dan hendak mengigit nya tapi segera aku hentikan. “Mas,.apakah kamu mau?” tanyaku padanya dan lelaki itu menggangguk.
“Apapun kalau dari tangan kamu itu pasti lezat sekali rasanya,” ucap Mas Sadam padaku, entah dia bercanda atau serius aku tidak tahu tapi satu hal yang aku tahu kedua pipiku mulai memanasnsetelah mendengarkan kata-katanya barusan.
“Sekarang kamu juga makan,” ucap
Mas Sadam padaku setelah mengigit buah apel ini.
“Iya, Mas.” Aku dan juga Mas Sadam mengigit buah apel secara bergantian. “Mas Ada apa?” tanyaku pada Mas Sadam ketika melihat keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya.
Mas Sadam menepikan mobil ini di pinggir jalan kemudian ia turun dari dalam mobil dan berjongkok di pinggir jalan yang kebetulan ada rerumputan. Aku segera ikut turun dari dalam mobil aku.langsung memijat tengkuk suamiku ketika mengetahui jika lelaki itu sedang mencoba mengeluarkan isi perutnya. Setelah melihat Mas Sadam yang sudah tidak muntah aku langsung melangkah ke mobil dan mengambil satu botol air mineral dari dalam sana kemudian memberikannya pada Mas Sadam.
“Mas, kamu minum ini dulu,” pintaku padanya.
“Iya,” sahut Mas Sadam sembari menyambar air itu pelan. Aku mengusap peluh yang membasahi wajah dan juga leher suamiku.
__ADS_1
Umumnya semua wanita yang akan mengalami mual dan juga muntah akan tetapi berbeda dengan kami. Semenjak aku hamil Mas Sadam lebih sering muntah dan juga mual, tapi aku sendiri sangat jarang mengalaminya.
***
Dokter Hera menyuruh aku untuk berbaring diatas ranjang kemudian Ia membuka sedikit bajuku dan mengambil gel lalu menaruh gel itu di atas perutku kemudian meratakan dengan tangannya perlahan lalu ia mengambil alat usg dan memutarnya ke kulit perutku perlahan. Mas Sadam berdiri di sampingku kini tangannya mengengam tanganku.
“Kalian bisa lihat ke layar monitor, dan titik kecil ini adalah janin kalian. Usia janin sekitar tiga minggu diusia ini sangat rawan sekali terjadi keguguran jadi harus ekstra dalam menjaganya.” Aku dan juga Mas Sadam terus saja melihat kearah layar monitor itu.
“Dokter Hera, makanan apa saja yang harus dihindari oleh istri saya?” tanya Mas Sadam.
Dokter Hera tidak langsung menjawab Ia lebih dahulu menutup baju yang aku kenakan kemudian meminta kami duduk di kuris yang ada tepat dihadapan meja kerjanya. Mas Sadam membantuku turun dari atas ranjang dengan gerakan perlahan.
“Makanan yang harus dihindari ketika hamil yaitu. Makanan mentah, makanan pedas, the herbal, susu yang tidak dipasteurisasi, menghirup asap rokok, alkohol dan juga mandi air hangat,” jelas Dokter Hera secara gamblang.
“Kapan kita bisa melakukan pemeriksaan lagi?” tanya Mas Sadam.
“Baiklah Dokter terima kasih. Kami berdua pamit keluar lebih dahulu,” ucap Mas Sadam sembari mengambil obat yang diberikan oleh Dokter Hera.
Didalam mobil.
“Mas apakah kamu lihat ini, anak kita tumbuh dengan sehat dan ini untuk kali pertama aku melihat hasil usg,” ucapku sembari menatap kearah hasil usg tadi dan aku pun takjub sekali melihat calon bayiku yang masih kecil sekali.
“Sayang, terima kasih karena kamu telah hadir di keluarga Erlanga dan kamu juga memberikan kebahagiaan di kehidupan kami,” ucap Mas Sadam sembari mengengam tanganku.
__ADS_1
“Aku juga berterima kasih pada kamu yang mau menerima aku di kehidupan kalian, bahkan kedua orangtua kamu juga memperlakukan aku dan juga Anggun sama seperti anak mereka sendiri,” sahutku padanya. Aku menaruh kepalaku di bahu Mas Sadam dengan perasaan bahagia sekali.
Ternyata begini rasanya akan menjadi seorang ibu, aku ingin sekali waktu cepat berlalu dan aku bisa dengan cepat melihat bayiku, anak yang selama ini aku nantikan didalam rumah tangga kami.
Aku melihat Anggun, Liora dan juga Mama Elsa sedang duduk di teras rumah. Mereka semua pasti sedang menungguku semua itu bisa aku ketahui dengan sangat mudah ketika melihat Liora dan juga Anggun yang langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian melangkah menghampiri mobil ini ketika sudah berhenti.
“Mama-mama mana foto adek Liora,” tanya Liora dengan antusias sekali.
“Liora, Mama Sifa baru saja turun dari dalam mobil biarkan dia duduk dulu,” pinta Mama Elsa sembari mengusap kepala putrinya.
“Ma, biarkan saja,” pintaku pada Mama Elsa.
Aku membuka tas jinjing ku kemudian memberikan foto usg tadi pada Liora, aku melihat kearah Liora yang langsung mengerutkan keningnya. Gadis lugu itu membolak-balik kertas usg tersebut dengan pikiran bingung.
“Lihatlah, dia sedang mencari foto bayi,” bisik Mas Sadam di dekat telingaku. Aku mendengar dengan sangat jelas jika kini suamiku mencoba menahan tawanya.
“Liora, kamu cari apa?” tanya Mama Elsa yang sudah gemas melihat sikap polos cucunya ini.
“Ma, Liora sedang mencari foto dedek bayi tapi tidak ada,” sahutnya jujur. Dan wajahnya itu menggemaskan sekali aku ingin rasanya mengigit kedua pipinya yang cabi itu.
“Ini adalah dedek bayi kamu,” sahut Mas Sadam sembari menunjuk kearah bulatan kecil yang ada di foto hasil usg itu.
“Papa jangan berbohong,” keluh Liora tidak puas dengan jawaban Mas Sadam barusan.
__ADS_1
“Sayang, yang barusan Papa katakan itu memang benar. Adek kamu masih sangat kecil dan masih butuh waktu untuk kita bisa melihatnya seperti bayi lainnya,” ucap Mama Elsa.
Aku melihat Anggun hanya diam saja sebab Ia sudah tahu semua itu.