Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Surprise Untuk Anggun


__ADS_3

Kami semua masuk kedalam rumah, Liora meminta untuk mendorong kursi roda Anggun, kami mengiyakannya sebab kursi roda itu bisa di kontrol oleh Anggun sendiri dari pegangan di dekat tangannya jadi Liora tidak akan merasakan berat ketika mendorongnya. Aku melihat Anggun masih mengedarkan pandangan ke sekitarnya, senyuman manis dan juga bahagia masih mengembang sempurna di bibirnya. Pasti Ia merasa takjub dengan rumah ini yang terlihat besar dan juga megah sekali mirip seperti apa yang ada di dalam imajinasinya selama ini.


“Mbak Anggun, apakah suka dengan rumah Liora?” tanya Anggun dengan polos.


Aku melihat Anggun menoleh kearah Liora yang masih mendorong kursi rodanya. “Tentu saja, Mbak Anggun sangat suka sekali karena rumah ini besar dan juga mewah.” Aku menatap kedua anak itu bergantian dengan perasaan lega akhirnya Aku bisa memenuhi janjiku untuk mempertemukan mereka berdua.


“Anggun, kamu ingin memiliki kamar yang seperti apa?” tanya Papa Damar. Aku melihat lelaki itu mengusap perlahan kepala Anggun dengan sorot mata penuh tanya.


“Kakek, Anggun tinggal di manapun juga tidak masalah asalkan.dengan Mbak Sifa.” Adikku selalu menerima keadaan apapun asalkan denganku, karena selama ini Aku selalu mengajarkan sikap rendah hati padanya hingga dia tidak menjadi serakah seperti sekarang ini.


“Kau sangat baik sekali dalam mendidiknya, hingga dia sederhana seperti ini.” Mama Elsa bicara sembari tersenyum padaku.


“Aku hanya melakukan apa yang, Aku bisa untuknya Ma, dan Aku menginginkan yang terbaik untuk Anggun,” sahutku kemudian.


“Mbak Anggun, kami memiliki surprise untuk Mbak Anggun.” Aku melihat ekspresi wajah Liora sangat antusias sekali.


“Apa itu, Dek?” tanya Anggun penasaran. Aku juga ikut penasaran dengan surprise yang dikatakan oleh Liora barusan.


“Papa, mau apa?” tanya Liora. Gadis kecil itu mengerutkan keningnya ketika melihat Mas Sadam bersiap menggendong Anggun.


“Papa mau mengendong, Mbak Anggun.” Mas Sadam menjawab jujur dengan tatapan sedu pada Liora.


Aku bisa melihat perubahan wajah Liora saat ini. “Papa kenapa tidak adil, Mbak Anggun sudah besar tapi kenapa dia di gendong! Liora adalah Adik, Mbak Anggun jadi harusnya Liora yang di gendong.” Aku melihat semua orang terkekeh setelah mendengarkan apa yang Liora ucapan barusan.


Papa damar berjongkok dihadapan Liora untuk mensejajarkan tinggi mereka lalu berkata, “Liora, biar Kakek saja yang gendong,” Papa damar menyibakkan anak rambut Liora ke belakang telinga. “Mbak anggun sedang sakit dan masih belum bisa menaiki anak tangga ini karena tubuhnya masih lemah, apakah Liora tidak takut jika nanti Mbak Anggun sampai jatuh ketika menaiki anak tangga rumah ini.”


Aku melihat beberapa saat kemudian, Liora langsung mengelengkan pelan.kepalanya sembari berkata, “Liora tidak mau jika hal itu sampai terjadi,” ujarnya polos sembari melirik sekilas kearah Anggun. “Kalau begitu ada syaratnya kalau Papa mau gendong Mbak Anggun.”


Aku melirik Mama Elsa yang hanya bisa mengelengkan pelan


kepalanya ketika melihat tingkah menggemaskan nan polos dari cucu kesayangannya


itu.

__ADS_1


“Syarat apa itu.” Papa Damar masih tidak bergeming menatap


Liora.


“Liora akan membiarkan Mbak Anggun di gendong oleh Papa


kalau Liora juga di gendong oleh Kakek.” Aku dan juga Mama Elsa terkekeh ketika


melihat Liora menaruh kedua tangannya bersedekap di dada dengan wajah Angkuh,


dia sungguh mirip seperti Mas Sadam jika bergaya seperti ini.


“Ma, ingin sekali Aku cubit kedua pipi cucu Mama yang sangat


mengemaskan itu,” bisikku lirih pada Mama Elsa.


“Mama juga ingin melakukannya, dia lucu sekali,” sambung


Mama Elsa padaku masih dengan berbisik.


itu dalam dekapannya sedangkan Mas Sadam sendri segera mengendong Anggun


menaiki anak tangga rumah ini. Mama Elsa memposisikan diri untuk membuka


pintu kamar Anggun dan sesaat kemudian pintu itu di ayun lebar.


“Surprise.” Aku melihat Liora baru turun dari gendongan lalu


merentangkan kedua tangannya di dalam ruangan kamar itu.


Aku langsung ternganga ketika melihat ruangan kamar Liora


yang berubah drastis Ruangan kamar ini terdapat dua tempat tidur di dua sisi lalu ada tirai yang membatasi keduanya, tempat tidur Liora berwarna pics dengan kelambu senada dengan seprainya dan juga bedcover. Ada juga boneka besar di sudut ranjang itu, sedangkan tempat tidur anggun berwarna serba putih sebab adikku itu memang menyukai warna putih.

__ADS_1


"Mama Elsa, terima kasih karena telah memberikan kejutan ini," ucapku sembari memeluk tubuh Mama Elsa, entah mengapa kejutan ini sangat menyentuh hatiku sampai kedua air mata ini jatuh terus menetes tanpa henti.


Beberapa waktu yang lalu, Aku pernah mengatakannya pada Mama Elsa model kamar yang di inginkan oleh Anggun sejak dulu, tapi siapa sangka jika kini Mama Elsa memberikan kamar yang seperti imajinasi Anggun.


"Sifana, kamu jangan menangis ini hanyalah masalah kecil," ucap Mama Elsa sembari mengusap punggungku perlahan.


"Anggun, apakah kamu suka?" tanya Mas Sadam pada Anggun.


"Suka sekali, Mas Sadam." Anggun bicara sembari mengusap kedua cairan bening yang sudah membasahi wajahnya.


"Sadam, baringkan Anggun di tempat tidurnya." Aku mendengar suara Papa Damar lirih.


"Baik, Pa." Aku melihat Mas Sadam berjalan menuju ranjang dan membaringkan Anggun perlahan di sana.


"Kakek, Liora pingin di gituin kayak Mbak Anggun." Aku menarik pasangan kearah Liora dan melihat jika kini gadis kecil itu sedang menarik tangan Papa Damar dengan wajah memelasnya.


"Tentu saja, akan Kakek turuti dengan senang hati."


"Ye-ye-ye-ye. Kakek, Liora memang yang terbaik sedunia." Aku melihat Liora meloncat kegirangan.


Kini Liora sudah berbaring di ranjangnya, tapi belum ada satu menit dia berbaring anak kecil itu sudah turun dari atas ranjang sampai membuat semua orang menggelengkan kepala melihatnya.


"Mbak Anggun, nanti kita main boneka sama-sama." Gadis kecil itu naik ke atas ranjang Anggun kaku bercerita seperti orang dewasa saja tingkahnya itu.


"Tentu saja. Nanti kalau Mbak Anggun sudah sembuh, Mbak Anggun akan mengajak, Dedek main sepedah," sahut Anggun sembari tersenyum.


"Wah, Dedek sudah nggak sabar menanti hari itu." Aku melihat Liora ikut antusias menyahutinya.


"Anak-anak, kami tinggal keluar dulu ya. Kalian jangan berantem," ucap Mama Elsa lalu mengecup puncak kepala Anggun dan juga Liora secara bergantian.


"Baik," sahut Anggun.


Mas Sadam, Papa Damar dan juga Mama Elsa sudah keluar dari ruangan ini terlebih dahulu sedangkan aku masih berada di dalam ruangan ini. Aku berjalan menuju jendela lalu membukanya lebar agar sirkulasi udara di dalam ruangan ini terganti dengan yang baru. Aku memicingkan mata ketika melihat Mbak Elsa berdiri di depan gerbang utama rumah ini.

__ADS_1


"Mbak Tasya, pasti ingin bertemu dengan Liora. Tapi tadi kenapa dia berada di rumah sakit? Ataukah dia ingin menjemput Anggun?" tanyaku pada diri sendiri dengan perasaan bingung.


__ADS_2