
Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mataku sebelum mengangkat kepala dan melihat siapa orang yang tidak sengaja aku tabrak, aku lebih dahulu mengusap air mata ini. Dengan bibir mengucapkan kata maaf aku
mengangkat kepala ini perlahan dan langsung melihat Mas Sadam adalah orang yang tidak sengaja ku tabrak tadi, lelaki itu memberikan tatapan tajam pada penjaga toko yang sempat mempermalukan aku.
“Hei, kau kenapa masih berdiri dihadapan pelangan kami lekaslah menjauh dasar wanita miskin yang tidak punya malu, sudah tahu tidak
punya uang masih berani menyentuh barang di toko kami,” Dengan bibir yang gemetar dan rasa sesak di dada aku berusaha sebisa mungkin tidak menjauhkan cairan bening yang kini sudah berkumpul di pelupuk mata.
“Jangan berani kamu sentuh, Istriku.”
Pelayan toko itu hendak menyentuh pergelangan tanganku dan Mas Sadam berbicara dengan nada suara berat penuh intimidasi pada pelayan toko itu, aku tidak menyangka jika suamiku mau mengakui aku sebagai istrinya dihadapan banyak orang. Aku sangat terharu hingga tanpa sadar menjatuhkan air mata ini di kedua pipi padahal pada awalnya aku tidak ingin terlihat lemah tapi pengakuan Mas Sadam kalau aku istrinya
meruntuhkan semua pertahanan yang ada.
Aku mengedarkan pandangan sesaat kearah para pengunjung toko yang kini sedang berbisik-bisik pasti mereka tidak percaya dengan apa yang Mas Sadam bilang barusan mungkin karena baju yang aku gunakan adalah baju murah yang aku beli di pinggir jalan.
“Kamu jangan menangis,” suara Mas Sadam terdengar lembut bahkan salah satu ibu jarinya mengusap kedua cairan bening ini bergantian di
kedua pipi.
“Mas, maafkan aku-aku telah membuat malu Mas Sadam dihadapan banyak orang,” aku bicara dengan bibir yang gemetar bahkan cairan bening jatuh semakin tidak bisa aku kendalikan lagi.
“Kamu tidak perlu meminta maaf, dia yang harusnya meminta maaf,” aku melihat Mas Sadam menatap pelayan toko itu dengan tatapan membunuh
__ADS_1
dan sang pelayan toko langsung pucat pasih seakan dia baru saja mengenali siapa Mas Sadam.
“Panggil manager kalian!” Mas Sadam berteriak pada semua
penjaga toko dan selang beberapa waktu seorang wanita paruh baya keluar dari toko itu dengan tergopoh-gopoh ia langsung membungkukkan tubuhnya hormat dihadapan suamiku dan aku juga melihat wanita itu sepertinya ketakutan sekali sampai keringat dingin sudah membanjiri wajah piasnya.
“Tuan Sadam, mohon maafkan pelayan kami, dia pasti tidak
mengerti sedang mencari masalah dengan siapa,” Mas Sadam langsung melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarik ku lebih dekat dengannya hingga tidak ada
jarak diantara kami sekarang.
“Pecat pegawai itu dan pastikan kelak tidak ada kejadian serupa. Dan bawakan baju dengan ukuran ini ke kediamanku dan jangan lupa semua
adalah toko milik suamiku.
“Mas, tidak perlu seperti itu,” ucapku sembari mengusap air mata di kedua pipi ini.
“Kamu adalah istriku apa yang kamu sentuh adalah kewajiban ku untuk mewujudkannya,” aku memeluk Mas Sadam dengan berlinangan air mata, aku bahkan tidak perduli dengan tatapan semua orang padaku. Aku hendak melepaskan pelukan ini akan tetapi Mas Sadam justru menarik balik tubuhku kemudian memelukku
dihadapan semua orang.
_ _ _
__ADS_1
Aku dan juga Mas Sadam kini sudah berada didalam rumah Mama Elsa. Mama Elsa mengambilkan aku satu gelas air mineral dan aku pun meneguknya sedangkan Liora terlihat cemas melihat mataku yang sedikit bengkak karena tadi menangis. Mama Elsa berpamitan padaku membawa Liora masuk kedalam kamar.
Aku duduk bersama Mas Sadam dan sesaat kemudian aku mulai tersadar jika kini kepalaku telah bersandar di pundaknya bahkan lelaki itu juga menaruh satu tangannya di pundak ku. Aku merasakan aliran hangat di tubuhnya mengalir padaku kehangatan yang baru kali pertama aku rasakan, Mas Sadam sungguh membuat aku semakin jatuh hati padanya. Aku menarik balik kepalaku dari pundaknya dan lelaki itu juga membenarkan posisi duduknya, seketika ruangan tamu ini di selimuti oleh kesunyian bahkan helaan berat nafasku terdengar sangat jelas di ruangan ini.
"Mas Sadam, maafkan aku karena telah kurang ajar menyentuh, Mas Sadam tadi," mata tajam lelaki itu membuat aku mengutuk kebodohan ku karena telah memeluknya di toko tadi bahkan dihadapan banyak orang.
"Aku adalah suami kamu, kenapa harus meminta maaf," aku melirik kearah Mas Sadam yang juga menatapku sesaat kemudian aku memutuskan pandangan ini untuk menyelamatkan detak jantung ini dari pensiun dini.
"Mas Sadam, terima kasih karena telah membelikan baju untuk adik saya, saya berjanji akan membayar dengan mencicil harga baju itu," ucapku merasa tidak enak hati aku tahu harganya pasti tidak murah tapi aku tidak ingin jika sampai Mas Sadam merasa kalau aku memanfaatkannya.
Aku menatap kerutan yang semakin dalam di kening lelaki itu sepertinya dia merasa terganggu dengan ucapan ku.
"Kamu adalah istriku, kenapa berbicara seperti itu?"
"Karena kamu membedakan Sifana dengan Tasya pantas saja jika dia berpikir demikian." kualihkan pandangan ini menatap Mama Elsa yang kini berjalan mendekat. Liora tidak ada di sekitarnya mungkin gadis kecil itu sudah tertidur lelap karena kelelahan sebab Liora melewatkan jam tidur siangnya tadi.
"Apa maksud, Mama barusan? Aku sudah mencoba untuk bersikap adil pada kedua istrinya apa lagi setelah aku tahu jika Sifana menikah denganku karena terpaksa demi membayar biasa pengobatan adiknya yang sedang sakit keras. Mama tidak seharusnya memanfaatkan Sifana untuk melancarkan keinginan Mama," aku me dengarkan dengusan kasar keluar dari bibir Mas Sadam ketika selesai bicara.
"Mama, dari awal sudah bilang jika istri kamu itu memiliki lelaki lain akan tetapi kami tidak percaya, dan apakah kamu tahu jika Tasya sering kali menyiksa Sifana!" aku melihat Mama Elsa menjawab ucapan Mas Sadam dengan nada suara lantang.
"Ma, itu dulu sebelum aku bisa menerima kehadiran Sifana di dalam hidup kamu. Tapi sekarang Tasya sudah berubah bahkan dia bersikap baik dan mau belajar menerima Sifana sebagai istriku juga," aku hanya bisa diam melihat betapa keras suamiku membela istri pertamanya tanpa lelaki itu tahu jika Mbak Tasya pandai memainkan drama.
"Sadam, Mama sudah lelah berdebat dengan kamu." Mama Elsa mengambil nafas dalam lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada dihadapan kami kini wanita itu menatap dengan air muka serius. "jika kamu menerima kehadiran Sifana bukankah seharusnya kalian tidur dalam satu kamar."
__ADS_1