Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Mereka Semua Terlihat Aneh


__ADS_3

“Apakah benar mereka mau pergi ke mall, tapi kenapa dandanan mereka terlihat mencolok sekali ke mall saja masak harus mengunakan gaun mewah seperti itu,” gumam ku lirih sembari menggaruk kepala ini.


Aku mengarahkan manik mata ini untuk melihat kearah lemari baju dan aku mengambil dress berwarna merah kemudian mengenakannya, seperti biasa aku hanya mengunakan lipstik tipis kemudian mengaplikasikan ke bibirku. Setelah selesai Aku langsung keluar dari ruangan kamar ini tanpa membawa tas, karena Aku tidak berniat membeli sesuatu jadi tidak usah membawa tas hanya perlu membawa beberapa lembar uang saja.


“Mama, ayo kita berangkat sekarang,” ucapku pada Mama Elsa ketika sudah berdiri di depan pintu rumah ini.


Mama Elsa menatap kearah baju dan juga make up di wajahku, Ia hanya tersenyum kemudian mengganggukkan kepalanya dan kami semua masuk kedalam mobil. Setelah kami berada di dalam mobil, Liora dan juga Anggun yang sering mencengkram terlihat diam, aku semakin kebingungan melihat tingkah mereka yang aneh bahkan kedua bocah itu juga tidak banyak tingkah seperti biasanya.


“Liora, apakah kamu sakit? Kok tumben sekali tidak banyak bicara?” tanyaku pada Liora yang kini langsung menarik pandangannya kearah ku.


“Mama, Liora tidak sakit hanya malas bicara saja,” sahutnya. Dan aku langsung menarik salah satu alis ini merasa aneh dengan jawabannya.


“Anggun, apakah kamu merasa sakit Kenapa hanya diam saja,” tanyaku pada Anggun sembari menatapnya.


“Anggun baik-baik saja.” Anggun menatapku sekilas kemudian kembali menatap lurus kedepan.


“Ma, ada apa dengan mereka?” tanyaku pada Mama Elsa. Dan wanita paruh baya itu hanya mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.


“Aku merasa semua orang terlihat aneh pagi ini. Bahkan sudah sekitar tiga hari Mas Sadam juga mengabaikan aku dan Papa Damar juga tidak banyak bicara, namun Ia selalu menjawab jika Aku tanya. Apakah Aku melakukan kesalahan hingga semua orang terkesan menjauh dariku.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil ini sampai juga di salah satu mall terbesar di Kota Surabaya. Aku dan juga yang lain langsung turun dari dalam mobil. Anggun dan juga Liora berjalan dengan bergandengan tangan, mereka berdua tidak berlari-lari seperti biasanya. Mama Elsa melangkah di sampingku, dan aku hanya diam saja mengikuti kemanapun Mama Elsa melangkah dan sekarang kami tiba di salah satu butik langganan Mama Elsa.


“Bantu dia mengunakan baju,” pinta Mama Elsa pada sang penjaga toko.


“Ma, Sifa tidak perlu membeli baju karena di rumah sudah banyak baju,” ucapku yang tidak mau melakukan pemborosan.


“Sudah jangan banyak bicara, kita akan menghadiri acara penting tidak mungkin kamu mengunakan baju seperti ini,” ucap Mama Elsa sembari tersenyum kecil diakhir kalimatnya.


Sekilas aku melihat banyak sekali gaun mewah yang melekat di tubuh manekin yang berjejer rapi di dekat kaca transparan yang mengelilingi toko ini.


“Mbak, mari saya antar untuk menganti baju,” ucap seorang penjaga toko yang usianya sudah setengah baya.

__ADS_1


“Baik,” sahutku dengan tersenyum tipis.


Aku melangkah menjauh dan terdengar sama-samar suara Mama Elsa yang sedang berbicara pada Liora dan juga Anggun, tapi Aku tidak bisa mendengar dengan jelas ucapan mereka. Aku tidak mau banyak berpikir dan langsung masuk kedalam ruangan ganti bersama penjaga toko yang nantinya akan membantu aku mengunakan gaun ini.


Gaun berwarna merah dengan desain elegan dan tidak banyak hiasan sudah membentuk lekuk tubuhku dengan begitu sempurna. Aku baru menyadari jika tubuhku lebih gemuk sekarang ini, aku merasa kurang nyaman karena atasan gaun ini mirip seperti kemben dan menunjukkan sempurna kedua gunung kembar ku.


“Mbak, aku merasa tidak nyaman jika memakai baju yang terbuka,” ucapku pada sang penjaga toko kemudian menarik bagian atas gaun ini untuk menutupi kedua gunung kembar ku.


“Ibu Elsa, akan kecewa jika Mbak tidak mau mengunakan baju yang Ia pilihkan,” ucap sang penjaga toko padaku.


Aku menghela nafas pelan, karena tidak ingin mengecewakan pilihan Mama Elsa jadi aku memakainya, dan mungkin Mas Sadam tidak ada di acara itu jadi dia tidak akan marah jika Aku menggunakan baju yang terbuka.


“Ibu Elsa, lihatlah menantu Anda cantik sekali,” puji penjaga toko padaku. Dan aku diam saja masih bingung dengan apa yang terjadi.


“Bawa dia ke dalam ruangan rias,” pinta Mama Elsa pada penjaga toko ini.


Untuk kali pertama Mama Elsa tidak meminta pendapatku terlebih dahulu, dia langsung mengutarakan perintahnya dan Aku mulai merasa ada yang tidak beres tapi lagi-lagi aku hanya bisa mengikuti perintahnya takut mengecewakan Mama mertuaku yang sudah baik hati itu.


“Tentu saja, Ibu Elsa sudah mengatakan pada kami,” sahut salah satu wanita paruh baya.


“Baiklah,” sahutku padanya. Ternyata Mama Elsa sudah merencanakan semuanya.


Selang beberapa waktu. Aku menatap pantulan wajahku di depan cermin, aku sampai menganga tidak percaya jika Aku terlihat cantik sekali dengan polesan make up natural ini. Kedua penata rias membantu aku berdiri dari posisi duduk kemudian kami bertiga keluar dari ruangan ini.


“Jeng, lihatlah hasil polesan kami.” Aku melihat kearah Mama Elsa yang langsung menarik pandangannya dari Liora menatapku.


Aku melihat Mama Elsa menatap mulai dari ujung kaki sampai naik keatas kepalaku. “Kamu memang selalu bisa Aku andalkan, nanti akan aku


berikan tips tambahan untuk kalian semua.”


“Jeng, menantu kamu ini sangat cantik sekali, kami hanya perlu

__ADS_1


memolesnya sedikit saja dan Ia sudah menjadi princess,” puji sang penata rias


dan aku hanya bisa tersenyum malu.


“Sifa, mereka adalah teman kuliah Mama dahulu namanya Ibu


Gina dan juga Ibu Indah.” Aku langsung mengulurkan kedua tanganku pada kedua


wanita itu dengan tersenyum manis.


“Salam kenal,” ucapku pada mereka berdua.


“Kau cantik sekali, andaikan belum menikah akan aku jodohkan


dengan putraku” ucap Ibu indah sembari mengusap pipiku lembut. Dan aku hanya bisa membalas ucapannya dengan tersenyum manis.


Aku melihat Mama Elsa memukul pelan tangan sahabatnya itu lalu berkata, “Hust! Jangan ngelantur kamu cari yang lain saja.” Aku melihat Mama Elsa mulai memberikan tatapan tidak ramah pada sahabatnya.


“Eheheh, aku hanya bercanda Jeng jangan di anggap serius.” Mama Elsa terkekeh.


Sebelum keluar dari toko ini. Mama Elsa membantuku mengunakan satu set perhiasan dan aku yakin sekali jika semua perhiasan ini pasti memiliki harga yang mahal.


***


Ma, ini ada acara apa?” tanyaku pada Mama Elsa ketika mengetahui mobil ini berhenti disalah satu gedung mewah di kota ini.


“Sudah ayo masuk saja, jangan banyak bicara,” sahut Mama Elsa. Sejak dari tadi Mama Elsa tidak mau menjawab pertanyaanku tapi biarkan saja toh nanti juga aku akan tahu sendiri.


Anggun dan juga Liora berjalan di depanku sedangkan Mama Elsa membantuku berjalan karena Aku tidak terbiasa menggunakan hills jadi ajak repot jika berjalan sendiri.


Aku melihat kedua lelaki yang mengunakan jas serba hitam membukakan pintu untuk kami sembari membungkukkan tubuhnya sopan.

__ADS_1


Manik mataku langsung menyisir seluruh ruangan ini, dan ada yang aneh karena semua orang menatap kearah kami, Aku melihat banyak sekali kamera yang menyorot padaku. Aku mundur beberapa langkah kebelakang sebab merasa tidak nyaman tapi Mama Elsa menggenggam tanganku lalu Ia tersenyum manis.


__ADS_2