Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Nanti Akan Aku Tagih


__ADS_3

10 minggu kehamilan.


Malam ini aku membantu Mama Elsa membuat makan malam di dapur rumah ini seperti biasa awalnya beliau menolak untuk aku bantu tapi ketika aku memohon beliau tidak tega dan mengijinkan ku untuk membantunya tapi dengan satu syarat aku hanya boleh menyentuh bahan yang nantinya akan dibuat sayur sop sedangkan mengenai ikan dan yang lainnya Mama Elsa sendiri yang membuatnya. Ini memang kehamilan pertamaku akan tetapi aku tidak pernah merasakan mual sama seperti orang hamil muda lainnya, ya aku pernah merasa pusing kepala tapi itu hanya sekali saja diawal-awal kehamilan.


Suara langkah kaki mengetuk-ngetuk lantai dapur ini aku melihat itu adalah Mas sadam yang sedang berjalan kemari lelaki itu tersenyum padaku kemudian menghentikan langkahnya tepat di hadapanku, “Sayang, bisakah kamu buatkan aku coklat hangat,” ujarnya dengan wajah memohon.


Aku dan juga Mama Elsa saling beradu pandang kami menatap dengan pikiran bingung sebab selama ini Mas Sadam tidak terlalu menyukai coklat bahkan semenjak menikah sekalipun aku tidak pernah melihatnya meminum coklat hangat. Eh tunggu apakah dia sedang mengidam sekarang, aku langsung tersenyum geli mengetahui akan hal ini tapi jika di ingat Mas Sadam juga sering mual dipagi hari bahkan aku yang selalu membantunya didalam kamar mandi. Hahaha, Tuhan sungguh adil dia membiarkan suamiku merasakan susahnya menjadi wanita hamil.


“Akan aku buatkan,” ujarku padanya dengan senyuman manis.


“Sayang, aku tunggu di dalam kamar saja aroma ikan ini sungguh membuat aku mual,” ujarnya sembari menutup hidung dan juga mulutnya kemudian berlalu keluar dari dapur ini.


“Ma, lihatlah dia merasa mual dan juga mengidam sekarang,” ujarku pada Mama Elsa.


“Eheheh, ia juga. Tapi lebih enak begitu biar suami kamu merasakan juga apa yang wanita hamil rasakan,” ujar Mama Elsa.


“Ma, aku memberikan coklat hangat ini untuk Mas Sadam,” ujarku padanya.

__ADS_1


“Mama, itu apa?” tanya Liora yang melihat aku keluar dari dapur kini gadis kecil itu sedang duduk bersama Anggun di ruang tamu rumah ini melihat film karton yang mereka sukai.


“Ini adalah coklat hangat untuk, Papa,” sahutku pada Liora dengan terus melangkah.


Liora tidak pergi ia justru mengikuti langkahku sembari berkata, “Tidak bisanya Papa minum coklat hangat,” ujarnya sembari menggaruk kepala seperti sedang berpikir apakah ucapannya ini benar ataukah tidak.


“Kamu benar, tapi sekarang papa.ingin coklat hangat, apakah Liora juga mau nanti akan Mama buatkan setelah ini,” ujarku padanya.


“Tidak mau,” sahut Liora.


“Lalu kamu mau apa mengikuti Mama terus?” tanyaku padanya sembari menghentikan langkah kaki ini dibawah anak tangga rumah.


“Dedek, kamu itu setiap hari bilang mau adek terus,” ujar Anggun yang kini melangkah menghampiri kami berdua. “Dedek kamu itu akan keluar setelah perut Mama membesar,” ujar Anggun mencoba memberikan penjelasan yang singkat dan juga gampang dimengerti oleh Liora.


Liora menganggukkan pelan kepalanya sembari berkata, “Baiklah, nanti kalau perut Mama Sifa sudah membesar maka akan Anggun tagih lagi,” ujar Liora kemudian mendekatkan wajahnya ke perutku dan mengecup perutku lembut seakan ia sedang mencium adeknya yang masih belum lahir ini. “Dedek, sabar-sabar dulu ya berada didalam perut Mama nanti kalau dedek sudah keluar akan Mbak Liora ajak main.” Aku yang sudah tidak tahan melihat sikap polosnya itu langsung mencubit salah satu pipinya gemas.


Spoiler novel Obsesi Tuan Massimo bisa dibaca di Fi*zo gratis genre Action, Romens dan ada campuran komedi juga jadi pasti seru dan bikin ngakak juga.

__ADS_1


“Dimana wanita itu?” tanya Alker. Alker adalah salah satu orang kepercayaan Massimo di dunia mafia, usianya masih 23 tahun tapi sudah memiliki bakat membunuh yang sangat luar biasa semua itu tidak luput dari pelatihan ketat dan juga keras yang Alker lakukan sebelum menjadi orang kepercayaan Massimo.


“Dia pingsan.” Jawab Massimo santai sembari mengusap pistol di tangannya dengan kain berwana hitam.


“Apakah dia masih belum sadar juga dari tadi?” tanya Alker.


“Dia sudah bangun tapi pingsan lagi saat aku menembakkan pistol di udara.” Massimo menjawab santai seolah itu adalah hal yang biasa.


Alker mengusap wajahnya kasar melihat sikap Tuannya ini. “Jelas saja gadis itu ketakutan melihat sikap kamu yang seperti ini, aku tidak yakin


apakah kau benar menyukainya.” Alker berbicara jujur dan juga blak-blakan karena memang itulah karakternya nyablak dan suka jujur dalam bertutur kata.


Alker mendapatkan hadiah tatapan tajam dari Massimo. “Apa kau sudah bosan hidup.” Hardik Massimo dengan tatapan membunuhnya.


Alker langsung meneguk kasar salivahnya sembari berkata, “Bu-bukan seperti itu maksud saya, Tuan Massimo. Jika Tuan begitu menyukai Nona Emine bukankah seharusnya bersikap sabar bukan malah menakutinya seperti itu,” jelas Alker. Ia mengkoreksi ucapannya sebelumnya sebelum benar-benar kehilangan raga dari jasadnya.


“Kau jangan bercanda, aku tidak bisa bersikap sabar.” Massimo menjawab santai masih dengan wajahnya yang tanpa dosa. Tangannya memasukkan kembali pistol ke balik bajunya kemudian menaruh kedua tangannya di saku celana.

__ADS_1


“Kalau begitu, Tuan harus berusaha mulai sekarang.” Usai bicara Alker berpamitan pergi karena ia harus latihan malam.


“Apakah aku harus bersikap sabar demi dia? Apakah hanya dengan cara itu saja gadis pujaan hatiku bisa menerima diriku sebagai suaminya.” Massimo berbicara sendiri dengan mata menatap indahnya langit malah dari jendela di ruangan bawah rumah ini.


__ADS_2