
“Sekarang akan aku buktikan jika kau memang wanita tidak suci,” dengan kasar lelaki itu menyatuhkan tubuh kami. Aku langsung merasakan ada yang terbelah dibawa sana dan aku berteriak kesakitan tapi lelaki itu semakin merasa bahagia ketika
melihat aku menderita dan dia malah semakin cepat memacu tubuhnya maju-mundur mengikuti irama dan kini semua yang aku jaga telah diambil paksa oleh suamiku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Setelah puas melakukan apa yang ia inginkan lelaki itu langsung terbaring di sampingku tanpa melepaskan ikatan di tanganku. Aku menangis tersedu-sedu tanpa mau menatap wajahnya. Aku benar-benar benci Mas
Sadam, aku benci lelaki itu karena telah melakukan hal ini padaku apakah sekarang dia sudah puas usai membuktikan jika aku tidak bersalah. Aku hendak berdiri akan tetapi tidak bisa sebab Mas Sadam mengikat tanganku dengan tali lalu mengikat kuat tali itu pada ranjang hingga aku tidak bisa bergerak untuk kabur menjauh darinya.
Aku mulai merasakan pandangan ini semakin kabur dan manik mata ini semakin terasa berat hingga akhirnya aku masuk kedalam alam mimpi setelah menangis cukup lama.
Perlahan aku membuka mata ketika merasakan seseorang telah
berusaha membuka ikatan tali di tanganku, mataku terasa berat mungkin karena bengkak akhibat terlalu lama menangis semalam. Aku langsung meraih selimut untuk menutup tubuhku dari tatapan lelaki itu-suamiku.
“Maaf, maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu semalam,” aku beranjak berdiri dari ranjang akan tetapi aku merasakan kakiku lemas dan rasa nyeri dibawah sana semakin terasa aku meringis kesakitan merasakan sakit bercampur emosi ketika bayangan seberapa brutal lelaki itu selama menyentuhku.
“Lepaskan aku,” usai bicara aku langsung menepis tangan Mas
Sadam yang tadi memegangi tubuhku. Dengan perlahan aku masuk kedalam kamar mandi tanpa menatapnya sama sekali, tapi aku sempat melihat wajahnya merasa bersalah ketika aku baru membuka mata.
“Ma, aku dan juga Sifana akan menginap satu hari lagi di rumah ini apa boleh, tapi tolong Mama pastikan Tasya tidak akan keluar dari rumah,” aku sempat mendengar apa yang lelaki itu katakan sebelum pintu
kamar mandi ini benar-benar tertutup rapat.
Di dalam kamar mandi aku menatap tubuhku yang penuh dengan bekas merah tanpa kepemilikan yang lelaki itu tinggalkan semalam, aku membasuh tubuhku dengan air dari shower lalu mendudukkan tubuh ini di lantai ditaruh kedua tangan bersandar di lutut dan aku benamkan wajahku kemudian kembali menangisi nasib ini, apakah ini waktunya aku meminta cerai? u
Untuk apa aku bertahan jika lelaki itu tidak pernah menggangap aku adalah manusia bahkan dia bisa percaya dengan begitu cepat pada ucapan Mbak tasya dan tidak denganku, ya
karena aku adalah orang yang dibayar oleh Mama Elsa untuk menikah dengannya. Aku membiarkan air mata ini jatuh bersama kucuran air yang keluar dari shower dengan harapan supaya kesedihanku juga ikut lenyap bersama air yang terus mengalir.
__ADS_1
2 jam kemudian.
Suara ketukan di pintu mulai terdengar dan aku tahu jika itu
adalah Mas Sadam, tapi aku tetap diam saja tidak mau menyahuti ataupun membuka pintu itu. Mas Sadam mengatakan jika ia akan mendobrak pintu ini kalau sampai
aku tidak kunjung keluar juga. Mau tidak mau aku beranjak berdiri sembari menahan rasa nyeri di tubuh ini, dengan gila aku keluar tanpa mengunakan satu helai benangpun bukankah lelaki itu mengatakan jika aku wanita murahan maka
sekarang akan aku tunjukkan padanya. Hatiku terasa kaku dan juga hambar aku melangkah keluar dari kamar mandi dan bisa kulihat jika lelaki itu menatapku dengan penuh penyesalan tapi aku tidak merasa kasihan bahkan sekarang yang ada
didalam hati ini bukanlah cinta melainkan amarah.
Tidak sengaja aku menatap bercak merah di atas seprai dan aku hanya bisa mencebikkan bibir kemudian memakai baju di tubuhku, Mas Sadam berdiri di hadapanku menatap wajahku tapi aku tidak menatapnya, sebisa mungkin ku tahan air mata ini agar tidak kembali menetes dan membuat aku semakin lemah
karenanya. Aku sudah selesai memakai baju dan kini aku berganti membersihkan sisa percintaan tidak di inginkan semalam tapi Mas Sadam memelukku dari belakang
“Maafkan aku, aku tidak menyangka jika kamu masih belum tersentuh, aku memang lelaki yang bodoh karena bisa segampang itu percaya dengan
apa yang Tasya ucapkan,” suara lelaki itu terdengar parau di telingaku. Jika
kemarin aku akan luluh dengan ucapannya bahkan aku akan bahagia melihat perubahan sikapnya tapi tidak untuk sekarang.
“Semua sudah terlambat,” aku melepaskan tangannya yang
melingkar di pinggangku kemudian aku membawa seprai yang sudah kotor ini untuk di cuci.
“Sifana, aku benar-benar menyesal tolong maafkan aku, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan permintaan maaf darimu,” aku hendak melangkah keluar dari kamar ini akan tetapi aku langsung menghentikan langkah
kakiku lalu memutar tubuh ini menghadapnya.
__ADS_1
Aku menutup mata sesaat sembari memasukkan oksigen melalui hidung kemudian menyembuhkannya dari mulut perlahan. “Tolong, ceraikan aku,” aku menatap bibir lelaki langsung tertutup rapat seakan tidak bisa menjawab permintaanku. “dan tolong bayar biaya pengobatan adikku sampai dia sembuh anggap saja kemarin malam aku telah menjual tubuhku padamu seperti apa yang
pernah, Mas Sadam katakan sebelumnya-bahwa aku adalah wanita murahan."
Tanpa aku menunggu lelaki itu menjawab ucapan ku, aku langsung berbalik arah dan meninggalkannya yang telah mematung menatapku.
Aku baru saja selesai menjemur seprai di halaman belakang rumah kemudian aku membuat makan siang, Mama Elsa mungkin tidak mengijinkan seorangpun untuk mengganggu kami mangkanya semua pelayan juga tidak terlihat di
rumah ini. Aku memang marah pada Mas Sadam akan tetapi aku juga tidak mungkin lalai akan tanggung jawabku untuk membuatkannya makan siang. Aku memasak sayur
sop dan juga ayam goreng serta tidak lupa sambal terasi karena aku tahu lelaki itu menyukai pedas. Setelah semuanya matang aku membawanya ke atas meja makan, aku masih merapikan sendok dan juga garpu di tempatnya. Mas Sadam masuk kedalam dapur dan aku tidak menatapnya sama sekali.
“Makanlah, Mas saya sudah menyiapkan makan siangnya,” ucapku
pelan sembari menarik kursi meja makan untuk aku duduki.
Aku merasakan jika lelaki itu memperhatikanku, lalu beberapa
detik kemudian Mas Sadam ikut mendudukkan tubuhnya di kursi, Aku melahap makanan di dalam piringku tanpa mengangkat pandangan sama sekali, suara sendok dan juga garpu terdengar di piring Mas Sadam lelaki itu makan dengan sangat cepat sekali tidak seperti biasanya, Setelah menghabiskan isian di dalam piring
ini aku mulai membawa piring itu ke wastafel untuk di cuci.
Mas Sadam berdiri di sampingku lalu meraih tanganku akan tetapi aku menepisnya. Entah mengapa emosi ini seakan bertambah besar saat
otakku kembali mengingat kejadian semalam, aku sudah berusaha melupakannya tapi tetap tidak bisa bahkan aku juga mulai memiliki perasaan takut kalau dekat
dengan Mas Sadam.
Lelaki itu mungkin mengetahui apa yang aku pikirkan sekarang hingga dia mundur beberapa kebelakang. “Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kamu, semalam aku dikuasai oleh alkohol jadi tidak bisa berpikir dengan jernih,” aku masih diam menundukkan kepala dan sesaat kemudian aku pergi dari dapur ini tanpa menatapnya.
__ADS_1