
"Liora, kamu tolong jaga Mbak Anggun, Ya. Mama mau keluar dari kamar ini untuk bergabung dengan Papa dan juga yang lain," pamit Sifana sembari mengusap puncak kepala Liora.
"Mama, tenang saja. Liora akan menjaga Mbak Anggun." Liora berbicara dengan wajah terlihat bersungguh-sungguh dan dari binar matanya gadis kecil itu merasa yakin kalau Ia akan menjaga Anggun. Sikap polos Liora sangat mengemaskan sekali.
Aku sudah berada di lantai bawah rumah ini. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar tapi tidak ada siapapun kemudian Aku melangkahkan kaki ini menuju ruang tengah dan benar saja semua orang sedang berkumpul di sana. Manik mataku menyipit tatkala aku melihat Mbak Tasya yang sedang berlutut dibawah kaki Mas Sadam. Papa dan juga Mama duduk di atas sofa sembari melihat tajam kearah Mbak Tanya seakan kedua orang itu tidak merasa kasihan melihat Mbak Tasya yang sedang bersimpuh di bawa kaki Mas Sadam.
"Sayang, tolong maafkan Aku," suara Mbak Tasya terdengar sangat menyentuh hati. "Aku meminta maaf akan semua kebodohan yang telah Aku lakukan selama ini, Sungguh Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Apakah menurut kamu selama ini, aku hanya diam karena sangat mencintai kamu! Aku mencoba mempertahankan semua demi Liora. Tapi Kau malah semakin menjadi-jadi seperti wanita yang kehilangan akal. Bagaimana mungkin Kau bisa mengabaikan Liora demi lelaki itu."
Aku melihat Mbak Tasya memegangi kaki Mas Sadam yang kini tengah berdiri dengan berderai air mata. "Sayang, Aku tahu, Aku salah dan Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi, demi Liora dan juga demi rumah tangga kita." Aku melihat cairan bening di kedua manik mata Mbak Tasya tidak berhenti berproduksi.
"Pergilah sebelum aku meminta satpam untuk menyeret kamu keluar dari rumah ini." Aku melihat Mas Sadam meninggalkan Mbak Tasya di tengah-tengah ruangan ini lalu duduk di sofa bergabung bersama Mama Elsa dan juga Papa Damar.
Aku hendak melangkah melewati Mbak Tasya ketika melihat Mama Elsa melambaikan tangannya padaku, wanita paruh baya itu meminta Aku untuk duduk disampingnya.
__ADS_1
Aku melihat Mbak Tasya menatapku tajam, kedua tangan wanita itu terkepal kuat seakan ia hendak memberikan aku tinjunya. Pasti wanita itu marah karena secara tidak langsung Aku telah merebut suaminya, sebenarnya Aku tidak pernah merebut Mas Sadam darinya namun, wanita itu sendiri yang membuat kesalahan hingga membuat Mas Sadam berpaling padaku.
Aku berhenti sejenak ketika melihat Mbak Tasya menarik tubuhnya perlahan dari lantai marmer rumah ini. Mbak Tasya melangkah ke arahku dengan wajah memelas, bahkan kedua pelupuk matanya juga terus meneteskan air mata. Hatiku tidak sekeras itu, Aku mulai merasa kasihan pada Mbak Tasya mungkin Aku akan meminta Mas Sadam untuk memberikan kesempatan kedua padanya, walaupun hatiku akan sakit namun, aku juga tidak ingin Liora jauh dari wanita yang telah melahirkannya ini.
"Mbak Tasya, apakah kamu baik-baik saja," tanyaku padanya ketika melihat wanita itu memasukkan tangannya kedalam perut dengan wajah tertunduk.
"Sebenarnya, Aku tidak ingin melakukan hal ini padamu, Sifana. Tapi jika Aku tidak bisa memiliki Mas Sadam maka kamu juga tidak akan bisa memilikinya," ucap Mbak Tasya padaku lirih.
Aku melirik kearah Mas Sadam yang masih duduk di sofa bersama yang lain. Dan ketika aku melihat kearah Mbak Tasya lagi, wanita itu sudah menyerang ku.
Aku tergeletak jatuh di lantai, Aku benar-benar tidak menyangka jika Mbak Tasya akan melakukan hal ini.
"Kepalaku pusing sekali," ucapku lirih sembari meringis kesakitan.
"Kau harus mati, wanita sepertimu tidak pantas hidup di dunia ini." Mbak Tasya berbicara lantang dengan tawa menggelegar seakan dia puas melihat aku tidak berdaya.
__ADS_1
"Kenapa, Mbak Tasya melakukan ini?" tanyaku padanya dengan menahan sakit.
"Karena kamu memang pantas."
Aku melihat Mas Sadam mendorong Mbak Tasya menjauh dariku lelaki itu hendak menampar Mbak Tasya akan tetapi Mama Elsa melarangnya. Tapi tidak di sangka Aku melihat Mama Elsa menampar Mbak Tasya secara langsung sampai berkali-kali.
"Auch, sakit," batinku sembari merasakan ada cairan yang merembes keluar dari bajuku. Aku mengarahkan tangan ini untuk memegang bagian perut dan melihat cairan kental berwarna merah memenuhi telapak tanganku.
Dengan pandangan yang mulai nanar, Aku melihat Papa Damar dan juga Mas Sadam berlari menghampiriku dengan wajah panik.
"Kau benar-benar sudah gila." Aku masih bisa mendengarkan ucapan Mama Elsa sembari terus menampar Mbak Tasya yang kini sudah terbaring di lantai.
"Sayang ... sayang bertahanlah." Aku merasakan pandangan ini mulai nanar hingga Aku merasakan kelopak mata ini mulai berat dan akhirnya aku kehilangan kesadaran.
Tasya benar-benar sudah keterlaluan sekali.
__ADS_1