
Aku tersenyum manis melihat suamiku mau menurunkan egonya untuk berfoto dengan kami. Aku memanggil seorang pelayan yang kebetulan sedang lewat di depan kami. “Mbak, tolong ambil foto kami berempat,” pintaku pada wanita tersebut yang usianya tidak jauh beda dariku jika di lihat dari air mukanya.
“Baik,” sahut pelayan wanita itu dengan senyuman manisnya.
Liora dan juga Anggun sudah berpose alai, aku memeluk Mas Sadam. Kami semua sudah berganti gaya beberapa kali di setiap jepretan kamera ponsel kemudian pelayan wanita itu memberikan ponselnya padaku dan tidak lupa Aku juga langsung mengucapkan terima kasih.
“Mama, Liora juga mau lihat,” ucap Liora sembari menarik-narik tanganku.
“Baiklah, tunggu sebentar," ucapku pada Liora.
Aku mensejajarkan tinggiku dengan Liora. Aku tersenyum manis begitu juga dengan Liora dan juga Anggun, kami semua sudah tidak sabar melihat hasil dari jepretan itu. Ketika seluruh padangan kami di penuhi dengan sosok wajah datar tanpa ekspresi Mas Sadam, senyuman di bibirku dan juga bibir kedua bocah itu langsung lenyap seketika. Kami bertiga melihat kearah layar ponsel yang menampilkan pose dengan senyuman manis, sedangkan Mas Sadam hanya memasang wajah datar mirip seperti jalanan beraspal tanpa lubang.
"Papa benar-benar mirip seperti pohon yang berdiri tegang tanpa bergerak," keluh Liora sembari mengerucutkan bibirnya lucu.
"Dek, nggak pa-pa yang penting Mas Sadam sudah mau diajak foto," ucap Anggun menimpali kata-kata Liora tadi.
“Liora, kamu bawa ponselnya.” Setelah memberikan ponsel itu pada Liora aku langsung menarik tubuhku dan berdiri dengan tegap lagi kemudian Aku melangkah mendekati Mas Sadam.
“Mas, kenapa kamu berfoto dengan datar seperti sedang foto KTP,” keluhku padanya sembari mengerucutkan bibir.
“Sayang, aku susah sekali tersenyum pada kamera,” sahut Mas Sadam sembari menggengam tanganku.
“Lain kali Aku akan melatih kamu agar terbiasa dengan jepretan kamera,” ujarku padanya.
“Kamu tidak perlu repat,” sahut Mas Sadam cepat.
“Kalau begitu jangan sentuh aku malam ini dan malam-malam berikutnya.” Setelah bicara aku langsung beranjak berdiri akan tetapi Mas Sadam langsung menarik tanganku pelan sehingga Aku kembali mendudukkan tubuh ini disampingnya.
“Aku akan mencobanya, tapi jangan larang aku,” pintanya padaku. Aku melihat wajahnya memelas sekali Hahaha sekarang aku tahu apa kelemahan suamiku.
***
Mentari pagi sudah mulai nampak di langit. Kami semua baru saja selesai sarapan pagi. Aku sudah membereskan semua barang-barang kami karena rencananya pagi ini kami akan pulang ke rumah sebab siang harinya Mas Sadam harus kembali ke perusahaan. Liora dan juga Anggun masih ingin menginap satu malam lagi akan tetapi Aku membujuknya jika di lain waktu kita akan.kembali berlibur. Liora langsung mengganggukkan kepalanya setuju.
“Papa langsung bekerja setelah mengantarkan kami ke rumah?” tanya Liora ketika kita sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Aku melihat Mas Sadam memasang sabuk pengamannya dahulu kemudian menatap kearah Liora yang kini sedang duduk di baris kedua bersama Anggun. “Tentu saja karena banyak sekali pekerjaan yang harus, Papa selesaikan.” Aku melihat Mas Sadam mengusap kepala Liora dengan gerakan lembut.
“Papa, jangan pulang malam,” ucap Liora pada Mas Sadam. Dan Aku hanya bisa tersenyum saja melihatnya.
“Tentu saja, Papa tidak akan pulang malam.”
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mobil ini berhenti juga di depan halaman rumah keluarga Erlanga. Aku melihat Mama Elsa yang tadi sedang duduk sembari menikmati satu cangkir teh langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya dan menghampiri kami semua.
“Kalian semua sapa, Nenek,” ucapku pada Liora dan juga Anggun.
“Baik,” sahut Liora dan juga Anggun secara bersamaan.
Aku ikut keluar dari mobil kemudian menuju bagasi mobil, hendak mengeluarkan koper kita yang berada dibelakang. Tapi suara Mas Sadam membuatku mengurungkan niat awalku.
“Apa yang akan kamu lakukan, Sayang?” tanya Mas Sadam padaku.
“Tentu saja Aku akan mengeluarkan koper ini, Mas,” sahutku padanya.
“Mana mungkin Aku membiarkan istriku melakukan tugas seperti itu, sudah kamu sana pergi ke Mama biar koper ini di urus oleh satpam rumah kita.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju.
“Apakah Liora dan juga Anggun bahagia?” tanya Mama Elsa pada keduanya.
“Kami sangat bahagia sekali.” Sahut Anggun dan Aku langsung tersenyum manis mendengar jawabannya.
“Kalian lekas masuk kedalam rumah saja.” Setelah mendengarkan ucapan Mama Elsa, Anggun dan juga Liora langsung mengganggukkan kepalanya setuju kemudian berlari masuk kedalam rumah.
“Jangan berlari,” teriakku pada keduanya. Tapi kedua anak itu tidak mendengarkan ucapanku dan masih terus berlari masuk kedalam rumah dengan tertawa.
“Mereka mulai pintar sekarang,” ucap Mama Elsa sembari melihat kearah kedua cucunya.
“Pintar apa, Ma?” tanyaku tidak mengerti.
“Pintar mengabaikan ucapan kamu.” Aku dan juga Mama Elsa langsung terkekeh.
“Apa yang lucu?” tanya Mas Sdam sembari emnatap kearah aku dan juga Mama Elsa secara bergantian.
__ADS_1
“Mas, katanya mau berangkat kerja sudah sana pergi,” pintaku pada Mas Sadam.
“Sayang, kamu mengusir aku?” tanya Mas Sadam sembari menatapku penuh selidik.
“Aku mana mungkin melakukan hal itu, Mas bukankah tadi kamu sendiri yang mengatakan jika ada urusan penting di kantor." Aku mengulangi ucapannya tadi sembari mengusap pelan lengan tangannya.
“Iya, juga. Ya sudah kalau begitu aku langsung berangkat ke kantor saja.” Mas Sadam mengecup keningku kemudian berlalu pergi setelah berpamitan pada Mama Elsa.
Aku dan juga Mama Elsa melangkah masuk kedalam rumah. Mama Elsa sibuk menatap ponselnya dengan tersenyum-senyum sendiri. Aku mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Mama Elsa tersenyum sembari fokus menatap ponselnya.
“Ma, ada apa?” tanyaku pada Mama Elsa.
“Sadam terlihat lucu sekali, lihatlah wajahnya yang datar ini.” Mama Elsa menunjukkan ponselnya padaku. “Dia seakan sedang tertekan sekarang,” sambungnya sembari terkekeh sendiri.
“Eheheh, dia memang lucu seekali, mirip seperti foto KTP,” ucapku Mama Elsa.
Tiga hari kemudian.
Aku sedang duduk di teras rumah selang beberapa waktu Mama Elsa melangkah mendekatiku bersama dengan Liora dan juga Anggun. Aku bingung melihat mereka yang sudah berganti baju dengan rapi sekali.
“Ma, mau pergi kemana?” tanyaku pada Mama Elsa.
“Ke mall,” sahut Mama Elsa.
“Hati-hati, Ma,” sahutku pada Mama Elsa.
“Kamu itu bicara apa, sudah sana ganti baju dan kita akan pergi bersama.” Aku masih diam karena Mama Elsa tidak mengatakan apapun padaku. “Sudah sana pergi, menunggu apa lagi,” sahut Mama Elsa padaku.
“Baik,” sahutku padanya.
“Jangan bilang pada Mama Sifa, apapun.” Sebelum benar-benar berlalu masuk kedalam rumah aku mendengarkan Mama Elsa mengatakan itu pada Anggun dan juga Liora.
Wah-wah kira-kira ada apa ya?
Author dan juga reader itu adalah simbiosis mutualisme jadi kita sama-sama saling menguntungkan. Kalian berikan Author like dan juga vote serta komentar yang posesif sedangkan Author akan berikan update banyak. Follow IG khairin-junior untuk mengetahui author menulis di apk mana aja. Terima kasih.
__ADS_1