Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Tumbuh Dari Luka


__ADS_3

Aku masih diam, detik jam seakan berjalan melambat sampai


aku bisa mendengarkan deru nafas gadis kecil dihadapan ku ini, dan bukan hanya


itu saja bahkan dengan sangat jelas Aku juga bisa melihat air muka gelisah dari


kerutan keningnya dan manik mata yang sudah di penuhi dengan cairan bening


seakan menunjukkan betapa hancur dan juga terluka hati seorang anak yang


melihat sikap Mama yang seharusnya menjadi pembimbing untuknya malah melakukan


hal negatif.


“Mama Sifana, kenapa hanya diam?” tanya Liora padaku,


Cairan bening langsung menganak sungai di pelupuk mata ini


ketika penglihatan ku menangkap bibir Liora yang gemetar dan suara parau serta


cairan bening yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. Anak kecil ini


tertekan, dan aku langsung memeluknya, tangisan Liora terisak di pelukanku


seakan tangisan itu Ia tahan agar tidak membuat semua orang panik melihatnya.


Ya Tuhan … kasihan sekali Liora.


“Sayang, kabar itu tidak benar. Siapa yang sudah bilang jika


Mama Tasya di penjara?” tanyaku pada Liora sembari mengusap lembut kepalanya.


“Liora, melihat sendiri.” Mendengarkan ucapan itu Aku


langsung melepaskan pelukan itu dan menatap manik matanya yang sudah memerah


bahkan hidung dan juga alisnya ikut memerah dengan hidung yang kembang-kempis.


“Melihat apa?” tanyaku sembari mengusap cairan bening di


pipinya dengan mengunakan ibu jari.


“Mama Tasya, menusuk Mama Sifana dengan mengunakan pisau, dan polisi menyeretnya keluar dari rumah ini.”


Ya Tuhan Liora melihat semuanya, tapi kenapa Dia masih bersikap polos seakan


tidak pernah melihat apa yang terjadi. Liora pasti tertekan selama ini dan Dia


menunggu Aku datang untuk mengutarakan isi hatinya.


“Mama Sifa, salah mangkanya Mama Tasya melakukan itu,” bohongku


pada Liora.


“Mama, bohong lagi. Mama Sifa tidak pernah jahat,” ucap


Liora sembari menarik dalam nafasnya. “Mama Tasya selalu menyakiti Mama Sifana


dan Dia juga sering melakukan itu pada Liora.”


Aku tidak tahan dan langsung ikut menitihkan air mata ini.


“Mama, Sifa jangan menangis,” ucap Liora padaku dengan


mengusap air mata ini. Aku malah semakin menangis dan tidak bisa menghentikan


air mata ini, Liora ternyata anak kecil yang tegar dan usianya masih belum


genap 5 tahun akan tetapi dia sudah berpikir layaknya orang dewasa.


Aku mengecup kedua telapak tangannya bergantian sebelum

__ADS_1


berbicara. “Sayang, Apapun yang Mama Tasya lakukan kamu tidak boleh


membencinya. Itu adalah urusan orang dewasa Dan Liora masih kecil jadi tidak


boleh ikut memikirkan urusan orang dewasa,” pintaku padanya, Liora hanya


menatapku saja dengan air mata yang masih mengalir.


“Liora, ikut menjenguk Mama Tasya di penjara. Liora kemarin


mendengarkan perbincangan Mama dan juga Papa bahkan Liora juga berpura-pura


menyudahi makan lebih dahulu padahal ingin mendengarkan perbincangan kalian.”


Aku melihat Liora mengusap air mata menggunakan punggung tangannya.


Kami semua terlalu menggangap Liora polos, akan tetapi


kenyataanya gadis kecil ini bisa berpikir sedewasa ini. Aku kehabisan


kata-kata dan hanya bisa mengganggukkan kepala setuju dengan keinginan Liora


barusan. Percuma juga menyembunyikan semuanya karena pada kenyataanya Liora


sangat pandai sekali dan tidak mudah untuk dibohongi.


Cklek!


“Mbak Sifa dan juga Liora kenapa menangis?” tanya Anggun


sembari melangkah mendekati kami berdua.


Aku melihat Liora berlari memeluk Anggun seakan Ia merasa


tenang jika sudah memeluk adikku itu. “Mbak Anggun, ayo duduk di sofa dulu


nanti kakinya lelah kalau berdiri lama.” Aku melihat Liora mengusap kembali air


sofa.


Liora sangat sedih akan tetapi Dia masih memikirkan keadaan


Anggun, ya Tuhan anak kecil ini pandai sekali dan juga memiliki jiwa sosial


yang sangat tinggi.


Setelah selesai berbincang dan Liora menceritakan semuanya


pada Anggun. Tentu saja Adikku itu langsung menangis sejadi-jadinya sungguh ini


untuk kali pertama Aku melihat tangisan memilukan Adik kesayanganku itu. Anggun


yang biasanya tegar dan tidak mau menunjukkan kesedihannya padaku kini malah


menangis dalam dekapanku. Aku menghentikan niatnya untuk membuka baju yang Aku


kenakan akan tetapi Anggun menatap dengan wajah memohon dan Aku membicarakan Dia


melihat luka di perut ini, Anggun kembali menangis.


“Mbak Sifa, kenapa menyembunyikan masalah sebesar itu


dariku? Anggun bisa mati jika terjadi sesuatu pada, Mbak.” Aku langsung menutup


mulutnya dengan kembali memeluk tubuhnya.


“Mbak Sifa, baik-baik saja dan jangan pernah mengatakan kata


menakutkan itu.” Aku melepaskan pelukanku padanya sedangkan Liora menatap kami


dengan air mata masih menetes.

__ADS_1


“Kalian berdua adalah kehidupanku. Jangan pernah bersedih


dan berjanjilah mulai sekarang tidak akan pernah memendam semuanya sendiri dan


akan selalu memberitahukan masalah sekecil apapun pada Mbak Sifa,” pintaku pada


Liora dan juga Anggun yang hanya diam seakan keduanya tidak mau membebani


pikiranku dengan mengutarakan isi hati mereka.


“Berjanjilah,” pintaku untuk kali kedua dengan wajah


memohon. “Kalian berdua akan berjanji jika tidak akan pernah menyembunyikan semuanya dariku,” sambung ku untuk


meyakinkan hati keduanya.


“Liora janji,” ucap Liora sembari memelukku.


“Anggun juga berjanji,” ucap Anggun juga. Dan kami bertiga


saling berpelukan dengan posisi aku berada di antara keduanya.


“Ada apa ini?” tanya Mas Sadam. Aku melihat kearah Mas


Sadam yang langsung mengambil langkah panjang menghampiri kami bertiga dengan


wajah paniknya,


Selang beberapa waktu Papa Damar dan juga Mama Elsa ikut


masuk ke dalam ruangan kamar ini sebab sekarang sudah lewat 15 menit dari jam


sarapan pagi akan tetapi kami bertiga belum juga muncul di meja makan hingga


membuat kedua orangtua itu mencari tahu apa yang terjadi. Dan seperti air muka


Mas Sadam tadi, Mama Elsa dan juga Papa Damar ikut panik.


Mama Elsa langsung memeluk cucu kesayangannya itu. Dan Aku


menceritakan jika Liora melihat semua kejadian itu dan Mama Elsa langsung


menitihkan air mata karena Ia tidak peka menjadi seorang Nenek. Papa Damar


berkali-kali memijat pelipisnya yang terasa pusing sebab Ia juga tidak


menyadari jika cucunya sangat pandai menyembunyikan masalah sebesar ini.


“Nenek pernah bertanya berkali-kali mengenai mata kamu yang


bengkak, apakah kamu menangis karena masalah itu?” tanya Mama Elsa pada Liora.


Aku hanya menatap keduanya dengan ikut antusias sekaligus penasaran dengan


jawaban Liora.


“Iya,” sahut Liora dengan suara parau nya.


“Sayang, kenapa kamu menyembunyikan semuanya. Kamu bisa bercerita


pada Nenek dan juga Kakek.” Mama Elsa mengguncang lembut bahu Liora lalu


memeluknya.


Aku melihat kearah Mas Sadam yang hanya bisa memijat


pelipisnya yang terasa pusing ketika melihat putrinya lebih dewasa dari


usianya. Mungkin inilah yang terjadi ketika seseorang tumbu dari luka.


Kita tidak pernah tahu apa yang anak pikirkan tentang masalah orang dewasa.

__ADS_1


__ADS_2