
Aku masih diam, detik jam seakan berjalan melambat sampai
aku bisa mendengarkan deru nafas gadis kecil dihadapan ku ini, dan bukan hanya
itu saja bahkan dengan sangat jelas Aku juga bisa melihat air muka gelisah dari
kerutan keningnya dan manik mata yang sudah di penuhi dengan cairan bening
seakan menunjukkan betapa hancur dan juga terluka hati seorang anak yang
melihat sikap Mama yang seharusnya menjadi pembimbing untuknya malah melakukan
hal negatif.
“Mama Sifana, kenapa hanya diam?” tanya Liora padaku,
Cairan bening langsung menganak sungai di pelupuk mata ini
ketika penglihatan ku menangkap bibir Liora yang gemetar dan suara parau serta
cairan bening yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. Anak kecil ini
tertekan, dan aku langsung memeluknya, tangisan Liora terisak di pelukanku
seakan tangisan itu Ia tahan agar tidak membuat semua orang panik melihatnya.
Ya Tuhan … kasihan sekali Liora.
“Sayang, kabar itu tidak benar. Siapa yang sudah bilang jika
Mama Tasya di penjara?” tanyaku pada Liora sembari mengusap lembut kepalanya.
“Liora, melihat sendiri.” Mendengarkan ucapan itu Aku
langsung melepaskan pelukan itu dan menatap manik matanya yang sudah memerah
bahkan hidung dan juga alisnya ikut memerah dengan hidung yang kembang-kempis.
“Melihat apa?” tanyaku sembari mengusap cairan bening di
pipinya dengan mengunakan ibu jari.
“Mama Tasya, menusuk Mama Sifana dengan mengunakan pisau, dan polisi menyeretnya keluar dari rumah ini.”
Ya Tuhan Liora melihat semuanya, tapi kenapa Dia masih bersikap polos seakan
tidak pernah melihat apa yang terjadi. Liora pasti tertekan selama ini dan Dia
menunggu Aku datang untuk mengutarakan isi hatinya.
“Mama Sifa, salah mangkanya Mama Tasya melakukan itu,” bohongku
pada Liora.
“Mama, bohong lagi. Mama Sifa tidak pernah jahat,” ucap
Liora sembari menarik dalam nafasnya. “Mama Tasya selalu menyakiti Mama Sifana
dan Dia juga sering melakukan itu pada Liora.”
Aku tidak tahan dan langsung ikut menitihkan air mata ini.
“Mama, Sifa jangan menangis,” ucap Liora padaku dengan
mengusap air mata ini. Aku malah semakin menangis dan tidak bisa menghentikan
air mata ini, Liora ternyata anak kecil yang tegar dan usianya masih belum
genap 5 tahun akan tetapi dia sudah berpikir layaknya orang dewasa.
Aku mengecup kedua telapak tangannya bergantian sebelum
__ADS_1
berbicara. “Sayang, Apapun yang Mama Tasya lakukan kamu tidak boleh
membencinya. Itu adalah urusan orang dewasa Dan Liora masih kecil jadi tidak
boleh ikut memikirkan urusan orang dewasa,” pintaku padanya, Liora hanya
menatapku saja dengan air mata yang masih mengalir.
“Liora, ikut menjenguk Mama Tasya di penjara. Liora kemarin
mendengarkan perbincangan Mama dan juga Papa bahkan Liora juga berpura-pura
menyudahi makan lebih dahulu padahal ingin mendengarkan perbincangan kalian.”
Aku melihat Liora mengusap air mata menggunakan punggung tangannya.
Kami semua terlalu menggangap Liora polos, akan tetapi
kenyataanya gadis kecil ini bisa berpikir sedewasa ini. Aku kehabisan
kata-kata dan hanya bisa mengganggukkan kepala setuju dengan keinginan Liora
barusan. Percuma juga menyembunyikan semuanya karena pada kenyataanya Liora
sangat pandai sekali dan tidak mudah untuk dibohongi.
Cklek!
“Mbak Sifa dan juga Liora kenapa menangis?” tanya Anggun
sembari melangkah mendekati kami berdua.
Aku melihat Liora berlari memeluk Anggun seakan Ia merasa
tenang jika sudah memeluk adikku itu. “Mbak Anggun, ayo duduk di sofa dulu
nanti kakinya lelah kalau berdiri lama.” Aku melihat Liora mengusap kembali air
sofa.
Liora sangat sedih akan tetapi Dia masih memikirkan keadaan
Anggun, ya Tuhan anak kecil ini pandai sekali dan juga memiliki jiwa sosial
yang sangat tinggi.
Setelah selesai berbincang dan Liora menceritakan semuanya
pada Anggun. Tentu saja Adikku itu langsung menangis sejadi-jadinya sungguh ini
untuk kali pertama Aku melihat tangisan memilukan Adik kesayanganku itu. Anggun
yang biasanya tegar dan tidak mau menunjukkan kesedihannya padaku kini malah
menangis dalam dekapanku. Aku menghentikan niatnya untuk membuka baju yang Aku
kenakan akan tetapi Anggun menatap dengan wajah memohon dan Aku membicarakan Dia
melihat luka di perut ini, Anggun kembali menangis.
“Mbak Sifa, kenapa menyembunyikan masalah sebesar itu
dariku? Anggun bisa mati jika terjadi sesuatu pada, Mbak.” Aku langsung menutup
mulutnya dengan kembali memeluk tubuhnya.
“Mbak Sifa, baik-baik saja dan jangan pernah mengatakan kata
menakutkan itu.” Aku melepaskan pelukanku padanya sedangkan Liora menatap kami
dengan air mata masih menetes.
__ADS_1
“Kalian berdua adalah kehidupanku. Jangan pernah bersedih
dan berjanjilah mulai sekarang tidak akan pernah memendam semuanya sendiri dan
akan selalu memberitahukan masalah sekecil apapun pada Mbak Sifa,” pintaku pada
Liora dan juga Anggun yang hanya diam seakan keduanya tidak mau membebani
pikiranku dengan mengutarakan isi hati mereka.
“Berjanjilah,” pintaku untuk kali kedua dengan wajah
memohon. “Kalian berdua akan berjanji jika tidak akan pernah menyembunyikan semuanya dariku,” sambung ku untuk
meyakinkan hati keduanya.
“Liora janji,” ucap Liora sembari memelukku.
“Anggun juga berjanji,” ucap Anggun juga. Dan kami bertiga
saling berpelukan dengan posisi aku berada di antara keduanya.
“Ada apa ini?” tanya Mas Sadam. Aku melihat kearah Mas
Sadam yang langsung mengambil langkah panjang menghampiri kami bertiga dengan
wajah paniknya,
Selang beberapa waktu Papa Damar dan juga Mama Elsa ikut
masuk ke dalam ruangan kamar ini sebab sekarang sudah lewat 15 menit dari jam
sarapan pagi akan tetapi kami bertiga belum juga muncul di meja makan hingga
membuat kedua orangtua itu mencari tahu apa yang terjadi. Dan seperti air muka
Mas Sadam tadi, Mama Elsa dan juga Papa Damar ikut panik.
Mama Elsa langsung memeluk cucu kesayangannya itu. Dan Aku
menceritakan jika Liora melihat semua kejadian itu dan Mama Elsa langsung
menitihkan air mata karena Ia tidak peka menjadi seorang Nenek. Papa Damar
berkali-kali memijat pelipisnya yang terasa pusing sebab Ia juga tidak
menyadari jika cucunya sangat pandai menyembunyikan masalah sebesar ini.
“Nenek pernah bertanya berkali-kali mengenai mata kamu yang
bengkak, apakah kamu menangis karena masalah itu?” tanya Mama Elsa pada Liora.
Aku hanya menatap keduanya dengan ikut antusias sekaligus penasaran dengan
jawaban Liora.
“Iya,” sahut Liora dengan suara parau nya.
“Sayang, kenapa kamu menyembunyikan semuanya. Kamu bisa bercerita
pada Nenek dan juga Kakek.” Mama Elsa mengguncang lembut bahu Liora lalu
memeluknya.
Aku melihat kearah Mas Sadam yang hanya bisa memijat
pelipisnya yang terasa pusing ketika melihat putrinya lebih dewasa dari
usianya. Mungkin inilah yang terjadi ketika seseorang tumbu dari luka.
Kita tidak pernah tahu apa yang anak pikirkan tentang masalah orang dewasa.
__ADS_1