Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Apakah Liora Akan Membantu Tasya Bebas


__ADS_3

Kantor polisi.


Mas Sadam menghentikan laju mobilnya di kepolisian setempat. Aku, Liora dan juga Mama Elsa turun dari dalam mobil dan begitu juga dengan Mas Sadam, sedangkan Anggun tetap berada di dalam mobil karena Aku tidak memperbolehkannya untuk keluar dari dalam mobil.


“Sayang, kau harus menjaga Liora dan pastikan anak kita tidak dekat dengan wanita itu,” tutur Mas Sadam sembari menatap manik mataku dengan sangat dalam seakan Ia tidak rela untuk meninggalkan kami.


“Mas, lihatlah ada 5 pengawal dengan tubuh kekar yang siap mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi kami bertiga, jadi buang semua kecemasan kamu,” ucapku pada Mas Sadam. Aku tahu Mas Sadam pasti merasa khawatir jika mengingat Mbak Tasya adalah wanita yang licik dan juga penuh ambisi.


Mas Sadam mengusap puncak kepalaku sebelum berbicara, “Aku percaya padaku, Sayang,” ucapnya padaku dengan senyuman tipisnya akan tetapi Aku masih bisa melihat kegelisahan yang nampak nyata dari pancaran indah matanya.


Kini Mas Sadam sedang duduk berjongkok dihadapan Liora, Ia membenarkan poni si kecil yang sedikit berantakan kemudian mengecup kedua pipi Liora dan memeluknya. “Sayang berjanjilah pada Papa jika kamu tidak akan berdiri di jarak dekat dengan, Mama Tasya.” Aku melihat Mas Sadam menatap Liora dan menangkup wajah mungil itu mengunakan kedua tangannya. “Papa tidak pernah ingin membatasi gerakan kamu dengan Mama Tasya hanya saja, sekarang Mama tidak seperti yang dulu dan Papa tidak ingin Dia melukai kamu juga.”


Aku melihat Liora memeluk Mas Sadam kemudian mengecup kedua pipi Mas Sadam dengan lembut, senyuman manis terukir di bibir Liora akan tetapi manik mata gadis kecil itu di selimuti oleh air mata seakan Ia sedang menyembunyikan kegelisahan dari pancaran indah mata itu.


“Pa, Liora akan menjaga jarak dengan Mama dan tidak akan membiarkan Mama Tasya, melukai Mama Sifana lagi.” Liora malah memikirkan keselamatan ku, sungguh gadis kecil yang sangat baik dan aku sangat bahagia sekali bisa memilikinya Dia anakku tersayang.

__ADS_1


“Kamu harus menjaga, Mama, Nenek dan juga diri kamu sendiri,” ucap Mas Sadam. Aku tahu Mas Sadam hanya ingin membuat Liora mengerti siapa Mbak Tasya yang sekarang.


Setelah berpamitan pada Mas Sadam, Aku dan juga Mama Elsa mengandeng Liora. Aku menatap kearah belakang dan Mas Sadam masih tetap berada di posisi yang sama yaitu menatap kami di kejauhan. Semalam Anggun bermimpi buruk dan ternyata Ia kembali teringat akan ancaman Mbak Tasya padanya sebelum kehilangan kesadaran waktu itu. Anggun akhirnya menceraikan padaku jika Mbak Tasya pernah mengatakan akan membunuhku dan wanita itu hampir melakukan ancamannya itu, Aku tidak ingin Anggun trauma dan ketakutan hingga menyuruh Mas Sadam tetap membawanya ke perusahaan saja.


_ _ _


“Liora, nanti jangan pernah mau di peluk atau dekat dengan Mama. Tasya,” ucap Mama Elsa pada Liora.


“Liora akan janji,” sahut Liora dengan tersenyum manis.


Ada dua polisi yang menunggu kami di depan kantor, keduanya adalah teman baik Papa Damar mangkanya mereka menyambut kami. Kelima pengawal masih berjalan di belakang kami bertiga dengan memberikan tatapan siaga. Kami semua mengikuti kemana Pak polisi membawa kami, dan kini kami sudah berada di ruangan tunggu untuk orang yang hendak membesuk para tahanan.


“Kalian tunggu di sini sebentar,” ucap pak polisi dan Aku mengganggukkan kepala setuju.


Para pengawal berdiri di belakang kami namun setelah mereka melihat Mbak Tasya berjalan di hadapan kedua polisi laki-laki itu dengan kedua tangan yang di borgol ke depan. Para pengawal dengan sigap langsung mengambil posisi berada di depan kami dan menyuruh Mbak Tasya berhenti di jarak 2 meter.

__ADS_1


Aku melihat wajah Mbak Tasya terlihat kusam dengan baju tahanan yang terlihat kotor dan bukan hanya itu saja bahkan rambutnya pun terlihat acak-acakan seperti orang yang habis di gebuki banyak orang. Aku melirik ke arah Liora, kini gadis kecil itu sudah menumpahkan kristal bening di kedua pipinya, Liora pasti sedih melihat wanita yang telah melahirkannya itu dalam kondisi yang hancur seperti ini.


"Mama." Aku mendengar Liora memanggil Mbak Tasya. Mbak Tasya yang mulanya menundukkan kepalanya kini mulai mengangkat kepalanya dan Ia melihat Liora dengan wajah datar.


"Jangan dekat dengannya, bicara dari sini saja." Aku melihat Mama Elsa memegang tangan Liora.


Aku menarik pandanganku melihat ke arah Mbak Tasya. Entah mengapa setiap kali aku melihat Mbak Tasya, wanita itu seperti tidak pernah menatap Liora dengan penuh kasih sayang padahal Liora adalah putrinya sendiri.


"Liora kemari, Mama sangat rindu. Kamu lihat sekarang Mama di penjara karena wanita itu." Aku menatap Liora dan begitu juga sebaliknya.


Satu tetes air mata Liora jatuh kembali dengan sangat jelas Aku bisa melihat bibir mungil itu gemetar.


Apakah Liora akan membantu Tasya bebas dari tempat itu? temukan jawaban di episode selanjutnya.


jangan lupa ikuti akun Mangatoon saya dan follow IG Khairin_junior.

__ADS_1


__ADS_2