
Aku langsung menundukkan kepala dengan kedua tangan saling
memegang satu sama lain, kini jarak antara aku dan juga Mas Sadam mulai terkikis. Kini lelaki itu sudah berdiri di hadapanku lalu tangannya mengangkat dagu ini perlahan aku menatap manik matanya yang tidak bergerak saat menatapku. Ini tidak benar kenapa jarak diantara wajah kami semakin dekat sampai aku bisa
merasakan hembusan hangat nafas Mas Sadam di wajah ini.
Aku mulai memejamkan mata tidak sanggup melihat manik mata gelap itu dari jarak yang sangat dekat seperti ini. Aku merasakan jika ibu jari
Mas Sadam mulai menyentuh bibir bagian bawahku hingga sesaat kemudian aku mulai merasakan jika kedua bibir kami saling menyatu satu sama lain. Tangan Mas Sadam menyentuh leher bagian belakangku ketika aku hendak menyudahi pungutan ini satu tangan lelaki itu yang lain meraih pinggangku.
Aku tidak pandai berciuman sebelumnya sebab aku tidak pernah
memiliki kekasih, pernah sih suka sama seorang pria akan tetapi itu hanya cinta monyet dan waktu usiaku masih sangat remaja sekali. Aku membuka sedikit mataku dan menatap Mas Sadam memejamkan matanya, aku mulai merasakan ada gelenyar di tubuh ini yang berkumpul di pusatnya bahkan aku juga bisa merasakan jika darah di tubuh ini mulai berdesir hebat seakan seperti ada gelombang panas yang bermain di tubuh ini.
Aku tidak bisa bernafas lalu Mas Sadam menyudahi pungutan
ini, aku menundukkan kepala tidak berani melihatnya tapi aku bisa merasakan jika kini lelaki itu menatapku.
“Maaf, aku …,”
“Kenapa harus meminta maaf, Mas Sadam tidak bersalah karena aku adalah istri Mas Sadam juga,” ucapku dengan terbatas tanpa mengangkat
pandanganku.
Brak!
Entah apa yang terjadi sampai Mas Sadam marah lalu meninggalkanku begitu saja. Aku mengangkat pandangan dengan air mata yang sudah menganak sungai. Kenapa dia marah apakah ada yang salah dengan ucapan ku tadi? Aku masih berdiri mematung di posisiku hingga mulai terdengar suara pintu yang di ketuk oleh seseorang, Aku langsung mengusap cairan bening yang ada di sudut mata dan lekas membuka pintu.
“Sifana, apakah Mama mengganggu kamu?” aku melihat Mama Elsa sudah rapi sembari menenteng tas jinjingnya
__ADS_1
“Tidak, Ma ada apa?” tanyaku pada Mama Elsa.
“Mama dan juga Papa akan menginap di kediaman Sadam. Liora juga ikut bersama dengan kami,” aku mengerutkan dahi bingung usai mendengarkan ucapan Mama Elsa.
“Bukankah tadi, Mama meminta kami untuk menginap di sini?” tanyaku meminta penjelasan.
“Kamu dan juga Sadam tetap berada di rumah ini,” aku hendak menolak permintaan Mama Elsa akan tetapi wanita itu langsung memelukku dan
berlalu pergi begitu saja.
Aku melangkah menuju ke dapur lalu membuat makan malam, entah kemana Mas Sadam sekarang mungkinkah dia meninggalkan aku di rumah sebesar ini sendirian, biasanya di rumah ini banyak sekali pelayan akan tetapi sore ini Mama Elsa meminta semua pelayan itu untuk pulang lebih awal dan menyisakan aku dan juga Mas Sadam saja di rumah ini. Aku tetap membuat makan
malam untuk kami berdua, terima saja nasib jika sampai Mas Sadam pulang ke rumahnya sendiri sebab aku tidak mungkin membantah permintaan Mama Elsa sebab
wanita paruh baya itu sudah baik padaku dan juga Anggun selama ini.
Kini aku aku sudah menaruh dua piring makanan di atas meja makan, aku baru saja mendudukkan tubuhku hendak menyantap makanan itu sendirian karena mungkin saja Mas Sadam tidak akan kembali lagi ternyata aku salah karena kini terdengar langkah kaki mengetuk-ngetuk lantai marmer ruangan dapur ini.
Mas Sadam menaruh satu kursi untuk ia duduki lalu menyantap makanan di atas piring itu tanpa bersuara, aku hanya diam tidak berani membuka
suara lagi hanya suara garpu dan juga sendok saja yang memenuhi ruangan ini. Lelaki itu tidak mau menatapku sama sekali sepertinya ia benar-benar marah. Aku dan juga Mas Sadam sudah selesai melakukan makan malam tanpa menatapku sama
sekali lelaki itu langsung berdiri dari posisi duduknya kemudian hendak
melangkah pergi. Aku tidak bisa terus seperti ini, usai memutuskan akan
berbicara apa lalu langsung menghentikan langkah kakinya.
“Mas Sadam, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mendiamkan ku
__ADS_1
seperti ini? Jika aku bersalah aku meminta maaf tapi saya mohon setidaknya, Mas Sadam jelaskan apa salah saya,” dengan suara yang gemetar dan kedua tangan memegang erat kain dress yang aku kenakan aku melangkah mendekatinya.
Kini Mas Sadam menatapku tajam tanpa berbicara, sedangkan aku memberanikan diri melihatnya. “Apakah kau selalu menggoda lelaki lain dengan cara murahan seperti ini,” seperti ada benda keras yang langsung menghantam jantung ini, apa yang terjadi kenapa Mas Sadam kembali kasar seperti dulu padahal baru tadi siang lelaki itu baik padaku ataukah karena di rumah ini tidak ada Mama Elsa jadi Mas Sadam menunjukkan sikapnya yang sebenarnya padaku.
“Apakah, Mas Sadam memiliki bukti jika aku melakukan hal itu?” entah kenapa aku mulai berontak saat suamiku mengatakan kata menyakitkan ini, aku juga mulai merasakan sesak di dada saat melihat tatapan menghina
berkobar dari manik mata hitam pekat itu, kenapa rasa bahagia yang aku rasakan cepat sekali memudar bagaikan kepulan asap yang menghilang tanpa bekas sesaat
setelah ditiupkan dari bibir seorang penikmat rokok.
“Kau tidak terima aku katakan begitu,” lelaki itu meraih pinggangku lalu mendekatkan wajah kami kali ini aku melihat tatapan tajam matanya
bagaikan pedang yang siap menghiasi tubuh ini dengan cairan kemerahan. “jika kamu bukan wanita seperti itu, lalu kenapa kau dengan mudah menerima ciumanku.”
Aku baru tahu kenapa tadi Mas Sadam marah apakah karena
lelaki itu cemburu? Tidak dia tidak sedang cemburu tapi lelaki itu marah kalau sampai istrinya lebih dahulu di jamah oleh orang lain.
“Aku tadi diam, karena Mas Sadam adalah suamiku,” aku berusaha membebaskan diri akan tetapi lelaki itu semakin menarik pinggangku
lebih dekat ke tubuhnya sampai tidak ada cela diantara kami berdua.
“Tasya pernah bilang padaku jika kau pernah terlihat bergonta-ganti lelaki, apakah wanita seperti itu masih bisa di anggap wanita baik-baik,” ternyata semua keraguan di hati Mas Sadam selama ini adalah karena fitnah dari Mbak Tasya. “Tasya juga pernah bilang kalau kau pernah menjual
harga diri kamu pada lelaki hidung belang,” aku merasakan kupingku semakin memanas setiap kali mendengarkan nama Mbak Tasya di sebut, nama itu selalu saja berusaha memfitnah dan juga menjatuhkan ku kapan saja.
Memori internal di otak ini langsung berputar perlahan seperti kaset yang di putar ulang, aku ingat dengan sangat jelas ketika berada di dapur Mas Sadam menawarkan uang padaku dan ternyata dia mendapatkan hasutan dari Mbak Tasya. Mungkin ini sudah waktunya untuk aku membela diriku sendiri
aku tidak bisa terus menerus membiarkan harga diriku jatuh dihadapan suamiku sendiri.
__ADS_1
“Mbak Tasya berbohong, dia bahkan sering memukul aku ketika Mas Sadam sudah berangkat berkerja. Dan aku juga pernah mendengar jika Mbak Tasya menyebut nama orang dengan panggilan sayang bahkan wanita itu juga sering kali keluar tengah malam hanya untuk menghubungi seseorang dan aku percaya jika itu adalah selingkuh ….,” belum selesai aku berbicara tapi Mas Sadam sudah mengangkat tangannya pada ku dengan tatapan tajam.
Bersambung