Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Apa Yang Dilakukan Dokter Itu Pada Anggun


__ADS_3

Selesai membuat sarapan pagi, Aku melangkah masuk kedalam kamar untuk membangunkan Mas Sadam.


“Mas, bangun sebentar lagi akan tiba waktunya untuk sarapan pagi,” ucapku padanya sembari mengoyangkan pelan lengan tangannya dengan posisi yang sedikit membungkuk.


Mas Sadam mulai mengarahkan manik matanya kekanan-kekiri dengan posisi pelupuk mata yang masih melekat sempurna. “Sayang, apakah ini sudah pagi?” tanya Mas Sadam padaku setelah ia berhasil mengusir rasa kantuknya. Kini manik mata hitam pekat itu menatapku nanar karena seluruh kesadarannya belum pulih betul.


“Ini sudah pukul 06.00 pagi,” sahutku dengan berdiri tegak.


“Sayang, Aku sarapan pagi di kamar ini saja,” ujar Mas Sadam.


“Mas, apakah kamu sakit?” tanyaku khawatir. Aku langsung menyentuh keningnya dengan punggung tangan. Sontak Aku langsung mengerutkan kening ketika menyadari jika suhu badannya normal.


“Memangnya siapa yang bilang jika, Aku sakit.” Usai berbicara Mas Sadam langsung menarik pinggangku hingga kini Aku jatuh dengan posisi yang berbaring di sampingnya.


“Mas, apa yang kamu lakukan,” keluhku sembari hendak mendudukkan tubuhku akan tetapi Mas Sadam malah kembali menarik ku hingga kini kepala ini berada di dadanya.


“Sayang, aku minta jatah sarapan pagi yang ini,” ucapnya padaku dengan tangannya yang nakal itu sudah bergerilya kemana-mana. Menyebalkan sekali.


“Aku tidak mau, aku sudah lelah,” ucapku sembari beranjak duduk dengan bibir yang sudah mengerucut sebal. Entah dia memiliki tenaga dari mana sampai selalu meminta jatah ranjang, Aku saja sudah kualanan meladeninya lebih lagi ketika ingat ucapan Mama Elsa tadi.m rasanya ingin aku menghilang dari jika bumi ini karena rasa malu.


Mas Sadam akhirnya menyerah dan masuk kedalam kamar mandi ketika melihat wajahku yang kelelahan akhibat ulahnya semalam. Setelah melihat Mas Sadam masuk kedalam kamar mandi Aku segera membersihkan ranjang dan juga menyapu kamar ini. Kini manik mata ini melihat seluruh ruangan kamar yang sudah bersih dan juga rapi. Aku bergegas keluar dari ruangan kamar ini untuk membangunkan Liora di dalam kamarnya.


“Liora, ayo bangun. Waktunya kita sarapan pagi,” bisikku lirih di dekat telinganya.


Gadis kecil ini bergeliat kesana kemari, lalu dia mengucek kedua matanya kemudian kedua pelupuk mata itupun terpecah.

__ADS_1


“Pagi, Mama Sifana,” sapanya padaku dengan tersenyum kecil.


Aku mengecup keningnya. “Pagi juga sayang,” sahutku sembari merentangkan kedua tangan memeluknya.


“Mama Sifana. Kemarin malam Liora bermimpi jika Mama Tasya menangis dia bahkan memeluk Liora dengan sangat erat seakan tidak mau jauh dari Liora,” ucapnya menceritakan tentang mimpinya semalam.


“Sayang, itu bagus tandanya Mama Tasya sangat menyayangi Liora,” sahutku untuk menenangkan hatinya.


“Benarkan apa yang Mama Sifana bilang?” tanya Liora dengan manik mata penuh tanya.


“Tentu saja. Memangnya kapan Mama Sifana pernah berbohong?” tanyaku padanya dengan mengusap rambut panjang Liora.


Selesai berbincang dengan Liora pagi ini. Ia melangkah masuk kedalam kamar mandi sedangkan, Aku sendiri membersihkan kamarnya. Aku mengambil baju yang nantinya akan di gunakan oleh Liora setelah gadis kecil itu selesai mandi. Biasanya Liora akan mengunakan bajunya sendiri, lalu gadis kecil itu akan meminta aku untuk menyisir rambutnya yang panjang lalu mengucirnya menjadi dua, Liora sangat suka di kucir dua dan dia juga terlihat menggemaskan sekali.


“Ma, apakah Liora sudah terlihat cantik?” tanya gadis kecil itu dengan tersenyum manis.


“Papa, suka sama Mama karena cantik dan juga baik. Jadi Liora ingin terlihat cantik dan juga baik agar semakin di sayang oleh Papa,” ucapnya dengan polos. Aku mencubit gemas kedua pipinya yang gembul itu.


“Kamu bisa berpikir begitu dari mana?” tanyaku penasaran bagaimana mungkin anak sekecil Liora bisa berpikir seperti ini jika tanpa ada sebabnya.


“Papa, bersikap jahat pada Mama Tasya karena Mama Tasya juga jahat pada Papa dan Liora, bahkan Mama Tasya juga jahat pada Mama Sifana,” jelas Liora dengan wajah sedihnya yang begitu mengusik hatiku.


"Sayang, kamu tidak boleh mengatakan jika Mama Tasya itu jatah. Mama Tasya pasti memiliki alasan lain kenapa dia bisa seperti itu," tuturku mencoba berbicara baik agar Liora tidak ikut membenci Mbak Tasya. Aku tidak ingin menghancurkan hubungan Ibu dan anak pada keduanya.


"Mama Tasya, sering telepon dengan orang lain. Aku aku tahu itu adalah cowok, pasti karena itu Papa marah." Liora berbicara dengan manik mata yang sudah diselimuti oleh cairan bening.

__ADS_1


Aku mencoba untuk berbicara dengan ucapan yang mudah di cerna olehnya. Aku juga mengatakan jika Liora tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa, sebab apa yang terlihat buruk belum tentu sama dengan apa yang kita pikirnya. Liora mengganggukkan kepala mengerti meskipun Aku bisa melihat kerutan tidak yakin di keningnya.


***


Aku hendak pergi ke rumah sakit, Mas Sadam mengajak aku berangkat bersamanya. Liora hendak ikut karena ia ingin melihat Anggun dan berbincang dengannya namun, aku tidak memperbolehkannya dan setelah diberikan pemahaman jika anak kecil akan mudah tertular penyakit jika ikut ke rumah sakit akhirnya Liora mengerti dan membiarkan Aku pergi bersama Mas Sadam.


“Sayang, maaf jika Aku tidak bisa mengantar kamu sampai kedalam, Aku ada meeting penting,” ujar Mas Sadam padaku.


“Iya, Mas Sadam. Aku mengerti,” sahutku sembari tersenyum manis.


“Nanti siang jika meeting itu sudah selesai maka aku akan datang menjemput kamu,” ujarnya padaku.


“Mas, tidak usah, kan ada Pak Rokim yang menjemput Aku nanti.” Aku tahu Mas Sadam pasti sangat sibuk sekali.


“Aku akan menjemput kamu, dan aku juga ingin bertemu dengan Anggun.” Aku langsung menganggukkan kepala setuju usai mendengarkan penuturan suamiku itu.


Mas Sadam mencium puncak kepalaku sebelum Aku turun dari dalam mobil. Kini Aku sudah berdiri di depan pintu ruangan Anggun. Tiga pengawal yang selalu berjaga di depan pintu ruangan adikku di rawat segera menggeser tubuhnya ketika mereka menyadari kehadiranku di lorong rumah sakit.


“Silahkan masuk, Mbak Sifana,” ucap salah satu pengawal hendak memutar kenop pintu.


“Jangan di buka,” ucapku padanya. “Saya ingin melihat Adik saya lewat jendela di pintu ini terlebih dahulu sebelum masuk kedalam.”


“Ada seorang perawat dan juga dokter yang sedang memeriksa kondisi, Adik Anda,” ujar pengawal tersebut dan aku langsung menjawab dengan satu kali Anggukan kepala.


Aku melihat kedalam ruangan Anggun dari balik kaca transparan yang menempel di pintu. Aku melihat seorang perawat wanita yang kini tengah berbicara pada Anggun, air muka Anggun terlihat serius mendengarkan perawat itu berbicara dan satu detik kemudian gadis kecilku itu tersenyum lebar.

__ADS_1


“Apa yang sedang perawat itu biarkan sampai Anggun bahagia sekali?” tanyaku pada diri sendiri.


Jantungku mulai berdetak kencang ketika mengetahui kalau infus yang menempel di tangan Anggun di lepas oleh dokter lelaki yang aku yakini itu adalah Dokter Heru.


__ADS_2