Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Ikatan Persaudaraan


__ADS_3

Aku mengganggukkan kepala ini mengiyakan permintaan suamiku, dengan perlahan tapi pasti langit mulai cerah menandakan jika mentari sudah mulai naik ke peraduannya. Bersamaan dengan itu bibir Mas Sadam mendarat lembut di bibirku ini. Aku membalas kecupannya dengan sama antusiasnya, Aku tahu suamiku menginginkan hal itu, tapi Dia tidak ingin menyakitiku.


“Sayang, Aku akan mandi terlebih dahulu untuk meleburkan percikan api ini,” ucap Mas Sadam setelah menyudahi pungutannya.


“ Mas Sadam, maafkan Aku,” ucapku dengan penuh penyesalan.


Mas Sadam membelai lembut salah satu pipiku. “Tidak masalah, Sayang itu bukan salah kamu,” ucapnya padaku. Lalu Ia mengecup keningku dengan sayang sebelum akhirnya melangkah masuk kedalam kamar setelah berbicara.


***


Aku dan juga Mas Sadam kini sedang duduk di restoran yang menjadi unggulan hotel ini. Restoran ini berada di bagian atas hotel menyajikan pemandangan kota Surabaya yang sangat indah. Restoran ini langsung beratapkan langit dan hanya terdapat sebagian dinding kaca transparan setinggi dada orang dewasa.


“Mas, pemandangannya sangat indah sekali,” ucapku padanya setelah berdiri di belakang kaca transparan ini.


“Aku tahu kamu sangat menyukai tempat seperti ini, jadi Aku sengaja memilih hotel ini,” sahutnya padaku. Tidak pernah Aku sangka jika kedatangan kami ke hotel ini bukanlah kebetulan melainkan sudah di rencanakan oleh suamiku tercinta.


“Mas, bisakah kita menelepon Mama Elsa, Aku ingin menunjukkan keindahan dari atas hotel ini pada. Anggun dan juga Liora,” pintaku pada Mas Sadam. Sebab Aku lupa meninggalkan ponselku di dalam kamar tadi.


“Tentu saja, Sayang,” sahutnya padaku. “Jika kamu sudah sembuh maka Aku akan mengajak kalian kemari lagi agar, Anggun bisa melihat permandangan ini karena, Liora sudah sering melihatnya,” sambung Mas Sadam padaku.


“Terima kasih, Mas,” sahutku padanya dengan tersenyum manis. Lelaki ini pandai sekali membahagiakan hati istrinya, dan rasa cintaku padanya tumbuh semakin besar.


Aku melihat Mas Sadam memasukkan tangannya ke saku celana kemudian mengambil ponsel dari dalam sana. Jari tangan Mas Sadam dengan lihai langsung mencari kontak milih mama Elsa.


“Hallo, Ma,” ucap Mas Sadam ketika panggilan video call itu sudah tersambung. Mas Sadam menunjukkan gambarku dan juga Dia di layar tersebut.


“Sadam, Sifana. Ada apa sepagi ini sudah menghubungi Mama?” tanya Mama Elsa pada kami.


“Bicaralah,” pinta Mas Sadam padaku lirih.

__ADS_1


“Ma, dimana Anggun dan juga Liora?” tanyaku padanya.


“Mereka masih ada di dalam kamarnya, Mama baru saja selesai memasak dan hendak menghampiri keduanya,” sahut Mama dari seberang sana.


“Ma, maaf jika Sifa malah merepotkan Mama,” ucapku dengan menatap penuh penyesalan kearah wanita paruh baya itu dari layar ponsel.


“Sifa, Mama tidak ingin mendengarkan kata itu terucap lagi dari bibir kamu. Kita ini satu keluarga bukankah sudah seharusnya saling membantu satu sama lain,” ucapnya padaku. Aku melihat Mama Elsa sedang berjalan keluar dari dapur rumah Erlanga.


“Iya, Ma,” sahutku setuju.


“Sebentar, Mama mau menuju ke kamar Anggun dan juga Liora,” ucapnya padaku.


“Ma, hati-hati dan lihat jalannya,” pintaku padanya ketika Aku mengetahui jika Mama hendak menaiki anak tangga rumah itu.


“Sayang, kau sangat baik sekali pada Mama,” ucap Mas Sadam sembari mengecup kepalaku.


“Ma, kamu sedang berbicara dengan siapa?” tanya Papa Damar pada Mama Elsa. Aku melihat Papa Damar kini sedang duduk di ranjang Anggun sedangkan Liora berada di pangkuannya.


“Ini, Pa. Sifa dan juga Sadam mau berbicara dengan Anggun dan juga Liora.” Mama Elsa memberikan ponselnya pada Anggun hingga kini Aku bisa melihat wajah cantik nan polos yang begitu aku rindukan itu.


“Mbak Anggun, Liora juga Mau lihat. Mama dan juga Papa.” Aku dan juga Mas Sadam hanya bisa terkekeh mendengarkan suara Liora yang heboh sendiri.


Anggun mengarahkan ponselnya ke wajah Liora dan kini Aku dan juga Mas Sadam bisa melihat wajah mereka berdua terpampang jelas di layar ponsel ini.


“Mbak Sifa lagi dimana?” tanya Anggun padaku.


“Lihatlah ini,” pintaku padanya. Lalu aku membalikkan posisi kamera ini kearah langit dan juga kearah permandangan yang ada di bawah sana.


Aku sengaja mengarahkan kamera ponsel ini perlahan ketika menampakkan pemandangan kota Surabaya agar Anggun dan juga Liora bisa melihat sekitarku dengan sangat jelas.

__ADS_1


“Mbak Sifa, pemandangannya sangat bagus sekali,” puji Anggun dengan senyuman lebarnya.


“Papa dan juga Mama jahat! Liburan cuman berdua dan tidak mau mengajak Liora,” ucap Liora dengan memalingkan wajahnya kearah lain.


Andaikan Aku ada disampingnya sudah bisa Aku pastikan, akan Aku cubit pipinya itu dengan gemas.


“Dedek. Jangan marah, nanti kalau Mama dan juga Papa bisa mereka pasti mengajak kita,” ucap Anggun dengan penuh pengertian. “Kita nggak bisa ikut karena, Mbak Anggun masih sakit nanti kalau Mbak Anggun sudah sembuh kita semua akan pergi bersama,” sambung Anggun sembari memeluk Liora yang sedang merajuk.


“Papa, bisa mengendong Mbak Anggun sama seperti menaiki anak tangga rumah ini.” Aku melihat Liora menaruh kedua tangannya bersedekap di dada tanpa mau menatap kearah layar ponsel.


“Liora, nanti kalau Mbak Anggun sampai sakit gimana? Apakah kamu tega memaksa Mbak Anggun ikut pergi hanya demi keinginan kamu itu,” ucap Mama Elsa ikut angkat bicara. Aku dan juga Mas Sadam hanya bisa melihat dari layar ponsel.


“Jangan, Nenek. Liora sangat sayang Mbak Anggun, jadi Mbak Anggun tidak boleh sampai sakit lagi, kalau begitu lain kali saja Liora dan juga Mbak Anggun ikut.” Aku mengigit bibir bagian bawahku melihat sikap manis Liora.


“Mbak Sifa, nikmati saja liburannya. Anggun dan juga Liora baik-baik saja.” Aku melihat Anggun menoleh kearah Liora. “Dedek, masih marah dengan Mama dan juga Papa?” tanya Anggun pada Liora sembari mengusap rambut panjang Liora.


“Tidak, Liora sudah tidak marah. Tapi kalau Papa dan juga Mama pulang nanti Liora minta coklat yang banyak dan juga boneka yang besar.”


Aku menyenggol pinggang Mas Sadam pelan memintanya untuk menyahuti permintaan putri kecil kami itu. “Liora, nanti Papa dan juga Mama akan belikan apapun yang Liora inginkan.” Ucap Mas Sadam.


“Anggun, kamu minta apa?” tanyaku pada Anggun yang dari tadi hanya diam melihat Liora yang sedang merajuk.


“Anggun minta, Mas Sadam dan juga Mbak Sifa menuruti keinginan, Dedek saja.” Aku dan juga Mas Sadam saling menatap tidak mengira jika Anggun malah meminta demikian.


“Mbak Anggun, harus minta untuk diri Mbak Anggun sendiri. Liora tadi sudah minta sama, Mama dan juga Papa,” ucap Liora pada Anggun dengan tatapan polosnya.


"Mbak Anggun, hanya ingin Dedek mendapatkan apa yang di inginkan." Aku menitihkan air mata bahagia melihat kedekatan mereka berdua.


'Ikatan persaudaraan yang sangat indah. Bukankah seperti itu, Mas Sadam?'

__ADS_1


__ADS_2