
Aku melihat Mas Sadam makan dengan sangat lahap sekali. Dia bahkan sampai meminta nambah satu piring lagi sangking enaknya itu nasi pecel. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa rakus suamiku pagi ini, biasanya Mas Sadam akan makan dengan sangat hati-hati bahkan setiap kali menyantap hidangan mewah di restoran bintang lima yang memiliki harga selangit itu Mas Sadam sangat santai sekali tidak menunjukkan wajah Antusias seperti ini.
"Mas, apakah kamu baik-baik saja?" tanyaku padanya.
"Iya, Sayang memangnya kenapa?" balas Mas Sadam masih dengan mengunakan makanan di mulutnya itu.
"Selama Aku mengenal kamu Mas, ini untuk kali pertama Aku melihat kamu sarapan pagi sudah menghabiskan dua piring nasi dan satu gelas es teh." Aku menatap ke arah Mas Sadam dengan bingung. Aku melihat perubahan selera makan suamiku itu sampai kehilangan selera makan ku sendiri.
"Ternyata nasi pecelnya enak sekali, sayang Aku tidak menyangka rasanya sangat lezat sekali padahal di masak di pinggir jalan." Aku melihat wajah Mas Sadam terlihat heran akan hasil masakan yang begitu menggugah selera makannya ini.
"Bukankah tadi aku sudah bilang jika rasa nasi pecel ini sangat lezat sekali, harganya murah lagi," ucapku padanya.
"Memangnya harganya berapa?" tanya Mas Sadam padaku.
"Paling nggak sampai 50.000, Mas semua yang kita makan ini," sahutku padanya.
"Apa, hanya segitu?" tanya Mas Sadam balik dengan air muka yang tidak percaya
__ADS_1
"Iya, Mas. Harganya memang sangat terjangkau, tapi rasanya tidak kalah dengan hotel bintang lima." Aku mengacungkan dua jempol di hadapannya.
"Keira, akhirnya kamu datang juga menemui ibu, Nak. Bagaimana kabar kamu?" tanya Bu Ida pada seorang wanita cantik. Aku melihat Bu Ida langsung memeluk wanita itu tapi sang wanita malah melepaskan pelukan Bu Ida dengan kasar.
"Ibu, jangan peluk-peluk seperti ini. Baju yang Ibu gunakan itu kotor, nanti baju Keira yang mahal ini malah ikut kotor." Aku dan juga Mas Sadam terus melihat kearah Ibu dan juga Anak itu. Siapa sebenarnya wanita itu kenapa bicaranya sangat kasar sekali.
"Keira, Ibu ini sangat merindukan kamu. Kamu sudah tiga tahun pergi entah kemana dan sekarang kembali lagi tentu saja Ibu ingin memeluk kamu untuk melampiaskan rasa rindu." Aku baru tahu jika itu adalah anak yang selama ini Bu Ida ceritakan padaku. Aku dan juga Mas Sadam masih tidak bisa melihat wajah anak dari Bu Ida karena wanita itu berdiri membelakangi kami.
"Bu, Aku ke sini mau minta uang 1 juta, aku kemarin baru saja di pecat dari pekerjaanku." Lagi-lagi Aku mendengar Anak Bu Ida bicara dengan tidak tahu sopan. Sudah pergi selama tiga tahun lamanya kini malah kembali dan meminta uang sudah gitu tidak pakai basa-basi juga.
"Nak, Ibu tidak punya uang sebanyak itu. Ini Ibu hanya punya simpanan uang sebanyak 500 ribu saja, ini bisa kamu ambil." Bu Ida baru saja mengeluarkan uang 500 ribu dari dompetnya lalu memberikannya pada putrinya itu.
Aku melihat putri Ibu Ida bicara seperti itu ketika sudah bisa mengambil uang yang ada di dalam laci tersebut.
"Nak, jangan di ambil itu uang dagangan, besok Ibu belanja pakai uang apa kalau kamu ambil semua." Aku melihat Bu Ida mulai menitihkan air matanya.
Beberapa orang yang selesai makan langsung pergi meninggalkan warung ini mungkin karena mereka merasa tidak nyaman dengan pertengkaran tersebut. Tapi ada juga dua orang ibu-ibu yang sudah selesai makan malah duduk di mejanya dengan berbisik-bisik tetangga dengan ibu lainnya. Kebiasaan Mak-mak kalau ada berita hot mana mungkin dilewatkan begitu saja.
__ADS_1
"Ibu, bisa hutang ke orang lain. Pokoknya yang ini Aku ambil, Aku lagi butuh uang Bu."
"Memangnya kamu di pecat dari pekerjaan karena masalah apa, Nak?" tanya Bu Ida penasaran.
"Ibu, nggak perlu tahu. Sudah ya, Kiera mau pergi dulu." Aku melihat wanita itu hendak membalikkan tubuhnya tapi Bu Ida mencegahnya.
"Nak, kamu tidak mencicipi pecel buatan Ibu?" tanya Bu Ida dengan wajah memelasnya. Aku sungguh merasa geram sekali melihat ada anak yang dengan tega memperlakukan orangtuanya seperti itu padahal Bu Ida sangat baik sekali pada semua orang, tapi kenapa bisa memilih anak tidak punya sopan sepertinya.
"Ibu, Aku tidak suka makanan di pinggir jalan seperti ini. Jadi Ibu makan sendiri saja." Dengan tidak punya hati perempuan itu mengatakan kata pedas itu.
Aku melihat Bu Ida mulai menitihkan air mata bahkan tangan wanita paruh baya itu juga menyentuh dadanya, pasti hatinya hancur ketika melihat anak yang sudah tiga tahun Dia rindukan malah datang padanya dengan cara seperti ini.
Wanita itu berbalik arah sembari membawa banyak uang Bu Ida. Aku dan juga Mas Sadam langsung membulatkan kedua mata kami tatkala seluruh pandangan ini di penuhi dengan sosok tak asing itu.
Ya, Dia adalah kekasih Putra. Siapa sangka dunia ini terlihat sempit sekali. Mas Sadam menatap tajam ke arah Kiera sedangkan wanita itu sendiri berdiri membeku di posisinya bagaikan ada paku yang menancapkan kakinya di aspal hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
Aku melihat Mas Sadam langsung mengeraskan rahangnya dan kini Dia berdiri dengan kasar dari posisi duduknya sampai membuat kursi yang Mas Sadam duduki jatuh membentur aspal.
__ADS_1
Kira-kira apa yang akan di lakukan oleh Mas Sadam ya?
jangan lupa ikuti akun Mangatoon saya serta follow IG Khairin Junior.