
“Kenapa harus malu, Sayang. Padahal cemburu pada suami kamu yang tampan ini sangatlah wajar loh.” Aku bisa melihat senyuman bahagia terbit dari bibir Mas Sadam, sepertinya Dia sangat bahagia sekali karena Aku cemburu padanya.
“Siapa yang bilang, Mas Sadam tampan?” tanyaku padanya dengan bibir yang mengerucut.
“Pelayan tadi, menatap Mas Sadam dengan terpesona, buktinya Kamu saja sampai cemburu, Sayang bukankah itu sudah menunjukkan jika suami kamu ini memang tampan sekali.” Aku melihat percaya dirinya sudah setinggi langi, biarkanlah asalkan Mas Sadam bahagia.
“Mas, itu makanannya sudah datang,” ucapku padanya mengalihkan perhatiannya.
“Eh, iya. Mas Sadam juga sudah lapar sekali.” Akhirnya Aku lolos berdebat dengannya.
Pelayan ini benar-benar menyebalkan sekali, Dia membuka satu kancing bajunya agar suamiku bisa mengintip ke dalam tubuhnya wanita jaman sekarang benar-benar sudah kehilangan harga diri masak mereka berani melakukan itu dihadapan istri dari lelaki yang mereka incar. Mungkin Aku akan diam jika Mbak Tasya yang menindasku, tapi Aku tidak akan melakukan hal yang sama pada orang lain, termasuk pelayan kecentilan ini.
“Mbak,” panggilku ketika mengetahui pelayan itu hendak pergi setelah menaruh makanan di atas piring kami.
“Ya, Mbak ada apa?” tanya Pelayan itu padaku lalu sekilas Dia masih sempat curi pandang dengan Mas Sadam Benar-benar membuat aku geram sekali.
“Apakah di ruangan ini ac nya mati?” tanyaku pada pelayan wanita itu. Entah siapa namanya karena dia tidak memakai nama dada.
Pelayan itu tersenyum padaku lalu berkata, “Ruangan ini sudah cukup dingin, jadi itu tandanya jika ac-nya menyala,” sahutnya padaku sembari melirik kembali kearah mas Sadam. Sedangkan suamiku itu hanya santai menatapku dengan tersenyum tipis, seolah manik matanya itu menantikan diriku akan berbicara apa lagi.
“Jika di sini cukup dingin, lalu kenapa Mbak harus membuka satu kancing baju yang sedang Mbak kenakan Bukankah itu kesannya seperti Mbak ingin menggoda suami dari pelanggan Mbak sendiri,” ucapku padanya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain. “Bagaimana jika saya adukan pada pemilik restoran ini? Kamu bisa di pecat Mbak.” Aku hanya menggertak nya saja, mana mungkin Aku tega membuat pelayan itu kehilangan pekerjaan hanya karena rasa cemburuku ini.
“Ja-jangan Mbak, saya minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” ucapnya padaku dengan bersungguh-sungguh.
“Saya maafkan, tapi jangan sampai di ulangi lagi,” ucapku padanya.
Pelayan itu pergi dengan ketakutan. Sedangkan Mas Sadam sendiri menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapanku pada pelayan tersebut.
__ADS_1
“Aku semakin mencintaimu, tidak Aku sangka Istriku pandai juga mempertahankan apa yang menjadi miliknya,” ucapnya padaku dengan mengusap punggung tangan ini.
“Mas, Ayo kita ma ….,” belum selesai Aku berbicara Mas Sadam langsung menarik piring berisikan nasi goreng yang ada di hadapanku. “Mas, kenapa diambil nasi goreng ku?” tanyaku padanya.
“Biar, Aku saja yang suapi karena Kamu sedang sakit,” ucapnya padaku.
“Mas, luka tusukan itu di bagian perut. Bukan di bagian tangan, jadi Aku masih bisa makan seperti biasanya,” sahutku sembari mengerutkan kening.
“Tetap saja, kamu sedang sakit.” Aku hendak membuka mulut untuk berbicara namun Mas Sadam sudah menaruh satu jari telunjuknya di bibir kemudian meminta aku untuk diam.
“Terserah, Mas Sadam saja,” jawabku padanya.
Aku melihat Mas Sadam menaruh daging steak daging itu di atas piringku kemudian memotongnya kecil. Mas Sadam menyendok daging bercampur nasi goreng dan juga kubis mentah lalu menyuapi aku dengan senyuman manisnya. Dia sangat tampan sekali, usianya bahkan terlihat jauh lebih mudah seperti yang seharusnya, beruntung sekali Aku memilikinya. Aku melihat beberapa pengunjung lain menatap kearah kami, aku merasa malu sekali dan ingin menolak suapan yang diberikan oleh Mas Sadam akan tetapi ketika melihat wajahnya yang begitu tulus dan senyum manis di bibirnya, aku mengurungkan niatku itu lalu melahap suapan pertama dari suamiku.
"Mas, kamu makan juga. Tadi katanya.lapar," pintaku padanya.
"Tapi," ucapanku langsung terhenti ketika melihatnya menggelengkan kepala. Sudahlah malam saja, lagi pula aku juga sangat lapar sekali.
Hotel.
Mas Sadam mengandeng tanganku memasuki salah satu ruangan hotel, sepetinya hotel ini sangat mahal sekali jika di lihat dari interior bangunan dan juga beberapa vas bunga yang memiliki harga mahal, aku tahu semua itu karena sama persis dengan yang ada di rumah keluarga Erlanga. Aku melihat beberapa wanita berbisik sembari melihat kearah suamiku, sungguh aku tidak menyukai tatapan mereka yang seperti ingin memangsa suamiku ini. Tapi beginilah resiko jika memiliki suami yang tampan seperti Mas Sadam.
“Sayang, semoga kamu betah tinggal di hotel ini,” ujarnya padaku sembari menaruh tangannya di pundak ini.
“Mas, Aku akan betah karena ada kamu,” jawabku padanya. “Andaikan Ada Anggun dan juga Liora, akan semaki menyenangkan sekali,” sambung ku lagi.
“Sayang, sesekali kita juga membutuhkan waktu untuk sendiri. Bukan karena kita tidak menyayangi Anggun dan juga Liora,” Aku langsung menutup bibirnya dengan jari telunjuk untuk menghentikan ucapannya.
__ADS_1
“Mas, Aku tahu maksud kamu, jadi tidak usah memberikan alasan lagi.” Kami berhenti di lorong hotel ini, Aku melihat tempatnya sepi dan aku berinisiatif memeluk suamiku itu. “Mas, terima kasih karena selalu mengerti keadaanku,” ucapku padanya.
“Aku akan menebus kesalahanku yang telah mengabaikan kamu dimasa lalu, dan kini hanya kamu saja istriku. Hanya kamu untuk selamanya,” ucapnya sembari memelukku dengan erat.
“Auch, sakit,” rintihku ketika Mas Sadam tanpa sengaja mengenai luka di perutku.
“Sayang-sayang maafkan aku, Aku sungguh tidak sengaja Apakah perlu Aku bawa ke dokter lagi?” tanya Mas Sadam. Air mukanya terlihat sangat panik sekali ketika mengetahui kondisiku seperti ini.
“Mas, tidak perlu,” sahutku sembari tersenyum padanya. Perut ini masih terasa nyeri sebab lukanya masih basah tapi aku tidak mau melihat suamiku cemas secara berlebihan.
“Baiklah kalau begitu, kita langsung masuk kedalam kamar hotel saja, Aku sudah tidak sabar.” Aku langsung menarik balik tanganku sembari menatapnya nyalang.
“Mas Sadam,” ucapku padanya dengan penuh peringatan.
“Sayang, Aku hanay bercanda. Jika sikap kamu terus mengemaskan seperti ini, maka jangan salahkan Aku jika tidak bisa menahan diri lagi.”
“Kalau begitu kita kembali saja ke rumah sakit,” ucapku sembari berbalik arah.
“Sayang, Aku hanya bercanda kenapa kamu marah,” ucapnya padaku dengan kedua tangan mengubit kedua pipiku, tapi ta pa menyakiti diriku.
"Mas Sadam, bercandanya tidak lucu." Aku langsung melangkah pergi meninggalkannya duluan.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Mas Sadam dari arah belakangku.
"Tentu saja mau ke kemar kita," sahutku padanya tanpa menoleh.
"Sayang tapi kamar kita ada di sini."
__ADS_1
Hahaha bagaimana dengan air muka Sifana ya, ketika mendengarkan suara Sadam.