
Aku terus saja mengompres kening Liora, selang beberapa waktu Papa Damar melangkah masuk kedalam ruangan kamar ini dengan tangan membawa kresek yang berisikan obat. Mama Elsa mengambil obat itu kemudian melangkah kearah ku.
“Ma, biar Sifa saja yang membantu Liora minum obat,” ucapku pada Mama Elsa dan wanita paruh baya itu mengganggukkan kepalanya setuju.
Setelah selesai membantu Liora meminum obat Papa Damar melangkah mendekatiku begitu juga dengan Mas Sadam. Mereka semua melihat kearah wajah Liora yang masih pucat pasih, kami semua ikut merasakan kesedihan Liora anak kecil ini menjadi korban keegoisan Mbak Tasya.
“Sifana, apakah demamnya sudah turun?” tanya Papa Damar padaku.
“Demamnya sudah mulai turun,” sahutku padanya. Aku melihat wajah semua orang nampak lega usai mendengarkan ucapanku barusan.
“Sifana, kamu tidur saja biar Mama Elsa yang mengantikan kamu mengompres Liora,” pinta Mama Elsa. Mama Elsa merasa kasihan padaku karena sejak tadi aku masih belum beranjak juga dari ranjang ini.
Liora memang hanya anak tiri ku akan tetapi Aku menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Tidak semua ibu tiri itu jahat tergantung pada kepribadian dan juga hati orang-orangnya.
“Ma, biar Sifana saja sebaiknya Mama dan juga Papa pergi untuk istirahat kalian berdua pasti sangat lelah,” ucapku sembari menatap dengan penuh permohonan.
Aku melihat wajah Mama Elsa yang terlihat lelah sekali dan Papa Damar juga terlihat sangat lelah. Aku menatap kearah Mas Sadam meminta lelaki itu mendukung apa yang barusan Aku katakan.
“Ma, Pa. Apa yang Sifana katakan barusan itu benar, sebaiknya kalian berdua beristirahat nanti jika Liora sudah bangun maka Sadam akan memberitahukannya pada kalian.” Mas Sadam mencoba membujuk kedua orangtuanya.
“Tidak, Mama akan tetap berada di dalam kamar ini,” ucap Mama Elsa masih kekeh dengan keinginannya. Hal itu sangat wajar jika mengingat betapa sayangnya Mama Elsa pada Liora selama ini.
Aku menatap kearah ranjang Liora yang kosong. “Kalau begitu Mama Elsa dan juga Papa Sadam tidur saja di ranjang Liora,” pintaku pada keduanya.
“Baiklah,” ucap Mama Elsa.
Papa Damar menemani Mama Elsa tidur disampingnya. Mama Elsa terlihat lelah sekali hingga Ia tertidur dengan sangat cepat. Melihat Mama Elsa yang sudah masuk kedalam.alam mimpi diam-diam Papa Damar beranjak berdiri dari ranjang dan melangkah mendekati Mas Sadam. Keduanya membicarakan masalah perceraian Mas Sadam dengan Mbak Tasya.
"Ya Tuhan ... aku sungguh tidak pernah menyangka jika akan menjadi menantu satu-satunya dari keluarga Erlanga. Rencana yang engkau berikan padaku sungguh indah sampai aku saja tidak pernah berani membayangkan sebelumnya," ucapku sembari mengusap air mata dari sudut mata ini. Aku mengecup pipi Liora perlahan lalu berkata. "Sayang, bangunlah, Mama ada di sini," bisikku tepat di dekat telinga Liora dengan nada suara lirih.
Pukul 05.00, sejak dari semalam Aku terus saja menatap wajah cantik ini, meskipun Aku mengantuk tapi Aku tidak akan menutup mata ini sebab
__ADS_1
jika Liora bangun Aku ingin Ia melihatku dan melihat jika Aku begitu
menyayanginya tidak masalah jika Mbak Elsa tidak menyayanginya karena Aku akan selalu menyayangi Liora dengan sepenuh hatiku.
Aku merasakan jika ada seseorang yang memijat pundak ku lalu aku menengadahkan wajah menatapnya, ternyata itu adalah Mas Sadam, kini lelaki itu mengecup keningku lalu berkata.
“Sayang, jika kamu lelah tidurlah biar Aku yang menjaga Liora,” ucap Mas Sadam padaku.
“Tidak, Mas Sadam aku tidak lelah,” ucapku padanya.
“Kamu tidak pandai berbohong, sayang,” balas Mas Sadam sembari mencubit pelan hidungku.
“Demam Liora sudah turun mungkin sebentar lagi Ia akan bangun,” ucapku pada Mas Sadam.
“Semoga saja, Aku tahu Liora anak yang kuat,” sambung Mas sadam.
Aku menoleh kearah Papa Damar yang ternyata sedang tertidur di sofa. Aku melihat Mama Elsa yang mulai beranjak bangkit dari atas ranjang kemudian melangkah mendekat, wanita paruh baya itu mengarahkan punggung tangannya untuk menyentuh kening cucu kesayangannya ini.
“Iya, Ma benar demamnya sudah turun,” sahutku dengan senyuman
manis.
“Sifana, dari semalam kamu belum tidur sebaiknya sekarang
lekas istirahat dulu,” pinta Mama Elsa.
“Sifana akan istirahat jika Liora sudah bangun nanti,”
sambung ku padanya.
Aku melihat Anggun mulai mengerjapkan matanya. Aku tersenyum padanya sembari mengusap pipinya. Mama Elsa membantu Anggun untuk mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Mbak Sifa, apakah Dedek sudah bangun?" tanya Anggun padamu.
"Belum, tapi sebentar lagi juga akan bangun," ucapku padanya.
Anggun mengecup kedua pipi Anggun lalu menatapku. "Mbak Sifa, Anggun mau mandi dulu," ucapnya padaku.
"Sayang, ini masing terlalu pagi," ucapku pada Anggun.
"Tidak pa-pa, Anggun ingin mandi pagi," sahutnya sembari tersenyum manis.
"Ayo biar Nenek bantu." Aku melihat Mama Elsa mengandeng tangan Anggun dengan suka rela.
"Nenek, Anggun bisa berjalan sendiri. Anggun sudah sembuh." Mama Elsa menatapku dan Aku langsung mengganggukkan kepala menyuruhnya membiarkan Anggun berjalan sendirian ke kamar mandi.
"Apakah perlu, Mas Sadam bantu?" tanya Mas Sadam pada Adikku.
"Anggun bisa sendiri." Aku mendengar Anggun berbicara pelan tanpa mengurangi kesopanannya dan aku bangga sekali pada adikku itu karena nilai moral yang sejak kecil aku tanamkan padanya masih Ia ingat hingga sekarang.
Selang beberapa waktu pelupuk mata Liora mulai bergerak kesana-kemari tetapi manik matanya masih tertutup. Aku dan juga semua orang begitu antusias melihatnya bangun. Liora mulai mengucek kedua matanya kemudian pelupuk matanya terpisah dan Ia mengamati wajah kami semua satu persatu.
"Kenapa kalian semua di sini?" tanya Liora polos. Aku melihat Liora mengarahkan tangannya untuk memegangi kepala, pasti anak dia merasa pusing kepala.
"Sayang, apakah terasa pusing?" tanyaku pada Liora.
"Pusing, Ma. Kenapa Liora terasa berat," ucapnya padaku.
"Biar Nenek buatkan bubur untuk sarapan pagi." Mama Elsa menepuk pundakku meminta aku menjaga cucunya, ya kira-kira seperti itu isyarat mata yang Aku tangkap dari sorot matanya dan aku langsung menganggukkan kepala setuju.
Senang sekali ya, melihat Liora sudah membuka mata.
Jangan lupa ikuti akun Mangatoon saya dan follow IG Khairin_junior agar bisa mengetahui author menulis dimana saja.
__ADS_1