
Aku langsung mencubit pinggang Mas Sadam dan lelaki itu hanya terkekeh melihatku menatapnya nyalang. Selang beberapa waktu Liora dan juga Anggun sudah puas bermain mandi bola mereka berdua meminta Aku dan juga Mas Sadam untuk mengikutinya lalu Ia berhenti di mainan bianglala. Ketika Liora dan juga Anggun naik keatas bianglala Aku dan juga Mas Sadam menatap mereka dan tidak lupa Aku mengeluarkan ponsel untuk memvideokan keduanya lalu Aku kirimkan pada Mama Elsa melalui pesan WhatsApp.
Liora dan juga Anggun meminta pulang setelah keduanya puas bermain. Sebelum pulang aku dan juga Mas Sadam mengajak mereka makan malam di luar sebab tidak mungkin jika makan didalam restoran yang ada di hotel karena keduanya pasti sudah sangat lelah sekali. Setelah makan malam kami kembali menuju ke hotel.
“Mas, Liora tertidur,” ucapku pada Mas Sadam ketika mobil itu sudah berhenti.
“Biar aku yang gendong,” ucap Mas Sadam sembari menatap kearah belakang.
“Baiklah,” sahutku padanya. “Anggun, ayo kita turun dari dalam mobil terlebih dahulu,” ucapku pada Anggun.
“Baik, Mbak Sifa,” sahut Anggun padaku lalu Ia turun dari dalam mobil.
Mas Sadam berjalan di sampingku sembari mengendong Liora sedangkan Anggun sendiri Aku gandeng. Setelah kami sampai di dalam kamar Mas Sadam langsung membaringkan Liora di atas ranjang dengan perlahan. Aku melihat Mas Sadam melepaskan sepatu yang Liora kenakan kemudian menaruhnya di lantai dan Ia menyelimuti tubuh putrinya kemudian mengecup kening Liora.
“Anggun, kamu lebih dahulu bersihkan tubuh kemudian ikut tidur,” pintaku pada Anggun.
“Iya, Mbak.” Setelah bicara Anggun langsung masuk kedalam kamar mandi.
“Anggun, jika membutuhkan sesuatu.panggil Mbak Sifa saja,” ucapku dari balik pintu kamar mandi.
“Iya.” Setelah mendengarkan sahutan dari Anggun aku langsung keluar dari ruangan kamar ini.
“Mas, biar Aku siapkan kamu air hangat untuk mandi,” ucapku sembari melangkah masuk kedalam ruangan kamar kami.
“Hem,” sahut Mas Sadam.
Aku dan juga Mas Sadam bergantian membersihkan tubuh kami. Aku melangkah ke balkon kemudian berdiri di sana sedangkan Mas Sadam sendiri melihat ke kamar Anggun dan juga Liora apakah keduanya sudah tertidur. Selang beberapa waktu Aku melihat Mas Sadam melangkah menghampiriku lalu memeluk pinggangku dari arah belakang.
“Mas, apakah mereka sudah tidur?” tanyaku sembari memegangi pergelangan tangannya.
“Sudah,” sahut Mas Sadam sembari menaruh dagunya di pundak ku.
__ADS_1
“Lihatlah itu, bintang dan juga bulan mereka selalu bersama, setia menghiasi langit malam terkadang awan hitam datang dan membuat bintang maupun bulan tidak menampakkan wujudnya dari bumi,” ucapku sembari menatap kearah langit. “Cintaku padamu sama seperti bulan dan juga bintang, Aku akan selalu mendampingi kamu dalam susah dan juga senang,” sambung ku sembari menatap kearah suamiku dan kini Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
Mas Sadam menatap mataku lekat, lalu senyuman tipis terlihat di bibirnya. “Aku percaya pada kamu, kau wanita yang baik, kau adalah hadiah terindah yang diberikan tuhan untukku,” ucap Mas Sadam sembari mengarahkan tangannya untuk membelai lembut pipiku.
Aku memeluk Mas Sadam kemudian membenamkan wajahnya di dada bidangnya, aku membiarkan aroma parfum maskulin miliknya menari-nari di hidungku. Sungguh aku menyukai aroma parfum ini, sangat-sangat membuatku candu.
"Sayang, sebentar lagi Aku membuat acara untuk kita," ucap Mas Sadam padaku." Aku mengerutkan kening tidak mengerti.
"Acara untuk kita? Maksudnya apa, Mas?" tanyaku padanya.
"Aku akan mengumumkan pada semua orang jika kamu adalah istriku, dan mengenai Tasya sudah waktunya semua orang tahu jika aku dan dia telah bercerai," jelas Mas Sadam padaku.
Aku langsung menundukkan kepala bingung dengan pemikiran ku sendiri. Semua orang pasti akan menyalahkan diriku karena telah merebut Mas Sadam dari Mbak Tasya, selama ini tidak ada berita buruk mengenai kehidupan pribadi Mas Sadam, jelas saja jika semua orang akan menganggap aku wanita perusak rumah tangga orang lain.
Kedua tangan Mas Sadam menyangkup wajahku kemudian Ia menyandarkan keningnya di keningku. "Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mas Sadam padaku.
"Tidak ada," sahutku berbohong.
"Kamu jangan bohong," sahut Mas Sadam sembari menatapku.
"Aku akan menjelaskan pada semua orang masalah Tasya, jadi kamu tidak usah takut disalahkan mengenai hal ini," ucap Mas Sadam padaku. Entah mengapa Ia selalu saja berhasil membaca pemikiran ku.
"Kasihan Mbak Tasya, jika semua orang sampai tahu," ucapku padanya.
"Itu suatu kebenaran, dan Tasya pantas bertanggung jawab atas apa yang Ia lakukan. Sayang sekali saja Aku mohon jangan membela orang yang bersalah." Mas Sadam menatapku sendu dan aku hanya bisa mengganggukkan kepala setuju.
***
Mentari pagi masuk melalui dinding hotel yang terbuat dari kaca transparan, Aku mengerjapkan mata
merasakan silau cahayanya. Perlahan tapi pasti manik mata ini mulai terbuka, Aku melihat sosok lelaki yang sangat tampan sekali sedang tertidur lelah di sampingku. Aku mengamati wajah tampannya kemudian manik mata ini mulai
__ADS_1
menatap kearah dada bidangnya yang berotot sungguh lelaki idaman sekali.
Perlahan Aku menyentuh dada bidangnya dengan jari-jariku, tidak aku sangka kedua pelupuk mata Mas Sadam mulai terpecah dan Ia menatapku.
“Sayang,” sapa nya padaku
lalu Ia mengecup sekilas bibirku.
“Maaf, aku tidak bermaksud
membangunkan kamu, Mas,” ucapku padanya.
“Apakah kau menginginkannya lagi?” tanya Mas Sadam.
Buru-buru aku alihkan perhatian ini kearah lain sembari berkata, “Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas,” ucapku padanya.
Mas Sadam mengarahkan tangannya untuk menyentuh wajahku dan kini Aku menatapnya. “Kenapa kamu malu, kita sudah melakukannya berkali-kali bahkan aku sendiri saja sampai tidak bisa menghitungnya,” ucap Mas Sadam padaku dengan senyuman nakalnya. Senyuman ini
seakan menandakan jika perbincangan ini tidak mungkin selesai dengan cepat.
“Ak-aku mau ke kamar
mandi.” Belum sampai aku beranjak pergi Mas Sadam langsung menarik pergelangan tanganku sehingga Aku kembali berbaring disampingnya.
"Sayang, kamu jangan coba menghindari."
Dalam sekejap mata Mas Sadam sudah mengungkung tubuhku. Aku bisa melihat manik mata Mas Sadam mulai gelap itu tandanya lelaki ini sudah mulai dikuasai oleh gairahnya sendiri.
"Mas, biarkan aku pergi ini sudah hampir waktunya sarapan pagi," ucapkan padanya.
"Hanya sebentar saja, aku janji." Belum sempat aku menjawab tapi Mas Sadam sudah menyatuhkan kedua bibir kami.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok.
Waduh lagi asik-asik ada yang ganggu ini.