Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Pelajar Kecil Untuk Tasya


__ADS_3

Aku dan juga Mama Elsa sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Aku mengupas bawang sedangkan Mama Elsa membersihkan ikan yang sempat berada di freezer selang beberapa waktu terdengar suara langkah kaki mengetuk-ngetuk lantai marmer ruangan kamar ini. Aku mengangkat pandangan menatap Mbak Tasya


melangkah kearahku dengan tersenyum manis dan mulai aku mengalihkan perhatian melihat Mama Elsa yang sedang berada di wastafel, pantas saja Mbak Elsa bersikap ramah padaku ternyata Mama Elsa mengamati gerakannya sekarang.


“Sifana, sini biar aku bantu,” ucapnya dengan senyuman manis.


Sekilas aku teringat ucapan Mama Elsa yang menyuruh aku membela diri dihadapan Mbak Tasya dan mulai terlintas pemikiran iseng untuk


mengerjainya. “Mbak Tasya, mengupas bawang merah saja,” sahutku padanya sembari menyodorkan bawang merah berserta pisau dan juga mangkuk kecil padanya.


Aku melihat wanita itu menggaruk kepalanya pelan kemudian melihat kuku tangannya yang lentik dan juga terdapat cat kuku berwarna merah,


senyuman tipis tersungging dari bibirku, “Jika Mbak Tasya takut kalau cat kukunya terkelupas maka biarkan, Sifana saja yang melakukannya,” ucapku padanya dengan senyuman tertahan. Sungguh lucu sekali melihat air muka terpaksa dan juga tersiksa yang kini sedang memenuhi wajah Mbak Tasya bagaimana mungkin aku tidak merasa sangat puas melihatnya seperti ini karena bisanya wanita itu selalu menatapku tajam dan juga memarahiku dengan wajah arogannya itu. Ya, Tuhan kenapa aku jadi jahat begini ya tapi kata Mama Elsa tidak masalah asalkan kita


tidak memulai pertengkaran itu duluan, karena aku anak muda jadi lebih memilih menuruti ucapan orang yang tua saja, ehehe.


“Sifana, apa yang kamu lakukan. Tasya mana mau menyentuh barang yang ada di dapur ini. Nanti kalau sudah matang bisanya dengan tidak


tahu diri dia akan melahap banyak makanan,” aku hampir saja tersedak ludahku sendiri ketika mendengarkan ucapan Mama Elsa yang blak-blakan mengenai sikap Mbak Tasya. Aku mengalihkan tatapan melihat Mbak Tasya yang mencebikkan bibirnya seakan menunjukkan kekesalan yang sudah meledak di ubun-ubunnya.


“Sifana, kemari kan bawang merahnya biar aku saja yang kupas,”

__ADS_1


aku melihat Mama Elsa mengangkat kedua alisnya padaku dan aku mengigit bibir bagian bawah agar tidak tertawa melihat wajah cemberut dan juga tertekan yang kini terpancar dari wajah penuh make up milik Mbak Tasya.


Aku dan juga Mama Elsa menyiapkan bahan lainnya sesekali aku dan juga Mama Elsa melihat kearah Mbak Tasya. Wanita itu kini menangis sembari mengupas bawang merah, pasti dia merasakan pedih karena mengupas bawang merah itu maklumlah wanita cantik itu belum pernah menyentuh bawang merah dan dia tidak tahu jika bawang merah yang masih kecil itu sangat pedih sekali di mata. Sesekali aku melihat Mbak Tasya mengusap air mataya sampai bedak tebal yang ada di pipinya menempel di lengan bajunya dan membuat make up wanita itu


berantakan. Mama Elsa menutupi bibirnya mengunakan kedua tangan karena tidak sampai tawanya menggema disekitar dapur ini.


“Ma, kasihan sekali Mbak Tasya. Lihat itu make up-nya sampai


berantakan seperti itu nanti jika Mas Sadam lihat bagaimana kalau dia marah padaku,” ucapku dengan tidak tenang.


“Kamu tenang saja, lihat itu ke arah pintu dapur,” aku mengikuti kearah yang Mama Elsa bilang dan benar saja Mas Sadam menatap Mbak Tasya dari depan sana aku segera membuang padangan kearah lain saat Mas Sadam beralih menatapku. Lalu aku kembali meliriknya dan lelaki itu tersenyum padaku kemudian membuyarkan lipatan di kedua tangannya dan berlalu pergi meninggalkan dapur tanpa membantu Mbak Tasya seperti bisanya.


Kini semua sarapan pagi sudah tersaji di atas meja makan dan semua orang juga sudah berkumpul. Kali ini Liora duduk di sampingku dan aku dengan senang hati menyuapinya Liora makan dengan sangat lahap sekali. Mbak Tasya tidak berani memberikan tatapan tajamnya padaku karena ada Mama Elsa yang


“Sayang, apakah makanannya enak?” aku melihat Mama Elsa dan juga Papa Damar menatap kearah Mas Sadam begitu juga dengan aku dan Liora.


“Tentu saja enak,” ini untuk kali kedua aku mendengar jika lelaki itu tidak memanggil Mbak Tasya dengan sebutan, Sayang seperti biasanya.


“Aku tadi membantu, Mama Elsa dan juga Sifana memasak di dapur,” aku melihat wajah Mbak Tasya seperti sedang membanggakan apa yang tadi ia lakukan, wanita ini sungguh berlebihan sekali membantu apaan dia mengupas bawang merah saja belum sampai selesai sudah menangis kayak di gebuki orang satu kapung saja.


“Benarkah kamu mau membatu di dapur?” aku melihat Mas Sadam

__ADS_1


mengangkat alisnya seolah lelaki itu tidak mengetahuinya sendiri tadi.


“Tasya memang membantu di dapur, tapi dia di suruh mengupas bawang merah saja sudah menangis hingga setengah jam lamanya dia hanya bisa


mengupas 5 biji bawang merah, Mama sampai lelah menunggunya selesai hingga akhirnya Sifana yang mengambil alih mengupas bawang merah itu,” wanita paruh baya ini menatapku sekilas dengan salah satu mata yang berkerdip seolah dia mengatakan jika kita berdua sudah berhasil memberikan pelajaran pada Mbak Tasya. “kalau tidak Sifana bantu pasti kita semua akan terlambat melakukan sarapan pagi.”


“Apa benar yang Mama ucapkan?” aku melihat Mas Sadam menatap penuh tanya pada Mbak Tasya.


“Mama, itu namanya bukan membantu, tapi Mama malah membuat nenek dan juga Mama Sifana repot di dapur,” dengan polos Liora mengutarakan pendapatnya. Kali ini Mbak Tasya tidak berani memberikan tatapan tajam penuh


intimidasi pada Liora karena ada banyak orang yang mengawasinya sekarang.


“Aku masih dalam tahap belajar memasak, Mas jadi masih belum


bisa sepandai Sifana,” aku melihat wanita itu menundukkan kepalanya malu yang sedang merayapi tubuhnya.


Akhirnya sarapan pagi itu selesai. Mas Sadam mengajak aku untuk pergi ke rumah sakit sedangkan Mbak Tasya sendiri terlihat pura-pura


bingung seakan dia tidak mengetahui jika aku memiliki adik yang sedang sakit keras. Mas Sadam menceritakan semuanya tentang anggun yang sakit dan akhirnya Mbak Tasya mengerti. Liora meminta ikut karena ia ingin berkenalan dengan Anggun tapi aku melarangnya sebab anak kecil sangat mudah tertular penyakit dan aku tidak ingin jika sampai Liora sakit jadi melarangnya ikut serta. Mama Elsa mengajak Liora bermain dan akhirnya anak kecil itu mau membiarkan aku dan juga Mas Sadam pergi. Aku sangat terkejut sekali ketika mengetahui Mas Sadam


membukakan pintu mobil untukku dan sekilas aku melirik kearah Mbak Tasya yang langsung membulatkan matanya, kedua rahang yang mengeras seakan wanita itu ingin

__ADS_1


mengoyak tubuhku menjadi serpihan tapi aku bersikap acuh dan masuk kedalam mobil.


Jika dulu aku akan mengalah tapi tidak dengan sekarang.


__ADS_2