Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Apakah Mas Sadam Memanggil Aku Sayang


__ADS_3

“Tunggu,” aku melihat Anggun menatapku saat berbicara lalu


kemudian dia menyentak pandangannya melihat kearah, Mas Sadam yang kini tengah berbalik arah menatap kami berdua secara bergantian.


“Mas Sadam, tetaplah di sini. Anggun meminta maaf jika tadi berbicara tidak sopan, tidak seharusnya Anggun begitu.” Ku usap pelan puncak kepala adik kesayanganku ini dia masih mengingat betul apa yang aku ajarkan


padanya agar tetap bersikap sopan pada orang yang lebih tua darinya dan aku bangga karena Anggun masih mengingat nasehatku padanya tempo hari.


“Apakah, Anggun akan menerima Mas Sadam dan merestui pernikahan kami, karena Mbak Sifa akan bahagia jika hal itu sampai terjadi."


Aku melihat Anggun tidak langsung menjawab, tapi dia lebih dahulu menatapku lalu membuka suara, “Jika, Mbak Sifa mencintai Mas Sadam kenapa, Anggun tidak setuju karena selama ini yang Anggun inginkan hanya melihat Mbak Sifa menemukan kebahagiaannya.” Mungkin karena tekanan hidup


membuat adikku lebih tegar dan bersikap dewasa seperti ini dan aku kurang menyukainya sebab dia kehilangan pemikiran gadis kecil seusianya yang masih banyak bermain tanpa memikirkan banyak persoalan orang dewasa.


“Tentu saja, Mbak Sifa sangat mencintaiku kalau tidak seperti


itu mana mungkin kami menikah.”


“Mas Sadam, duduklah di sini Anggun mau bicara.” Aku melihat Mas Sadam dengan patuh duduk di kursi yang Anggun tunjuk ini baru kali pertama


aku melihat Mas Sadam mau mendengarkan orang lain padahal dia baru mengenal Anggun.


“Anggun, anggap Mas Sadam seperti kakak kandung kamu sendiri jadi mulai sekarang kalau membutuhkan apapun tidak perlu ke Mbak Sifa, tapi


harus langsung ke mas Sadam saja.” Entah mengapa aku senang sekali ketika lelaki itu memanggilku dengan nama kecil seperti apa yang adikku lakukan, ini membuat hatiku terasa hangat.


“Baik,” adikku menjawab sembari menganggukkan pelan kepalanya. “Mas Sadam, tidak boleh membuat Mbak Sifa sedih. Mbak Sifa adalah


orang yang baik dia tidak akan mau menyakiti orang lain. Hanya Mbak Sifa saja yang, Anggun miliki selama ini aku sudah sering merepotkan Mbak Sifa bahkan aku pernah melihat sendiri Mbak Sifa menahan lapar hanya agar bisa membayar biaya

__ADS_1


pengobatan di rumah sakit ini. Tapi sekarang Anggun merasa bahagia karena akhirnya Mbak Sifa menemukan lelaki yang ia inginkan lelaki yang mencintainya.”


Mas Sadam menatapku dengan sendu lalu lelaki itu berdiri dari


posisi duduknya dan memeluk Anggun dengan sangat lembut, aku merasa terharu sampai cairan bening lolos dari manik mata ini, segera aku usap air mata itu.


Ini untuk kali pertama Anggun menangis dihadapan ku, dia menangis bukan karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya tapi anak kecil itu menangis bahagia untukku dan semakin membuat hatiku pilu. Kenapa Anggun harus menyembunyikan kesedihannya


sendiri tanpa mau berbagi padaku, aku adalah kakaknya dan sudah berulang kali aku tekankan padanya jika dia tidak pernah membebani aku.


“Anggun, Mas Sadam berjanji akan mencintai Mbak Sifana dan juga menjaganya, bahkan Mas Sadam berjanji akan sering menjenguk Anggun jika ada waktu senggang,” jantungku berdetak kencang ketika lelaki itu mengatakan kalau dia mencintai aku, ya walaupun aku sudah tahu dengan sangat jelas kalau


Mas Sadam sedang berbohong tapi entah mengapa perasaanku yang bodoh ini masih menghangat dengan sendirinya.


Mas sadam dan juga Anggun berbincang bersama aku tidak


pernah melihat Anggun dengan mudah dekat dengan orang lain. Mas Sadam bahkan memperlakukan Anggun dengan sangat baik contohnya seperti sekarang ini ia


Akhirnya aku dan juga Mas Sadam berpamitan karena siang hari adalah waktunya Anggun untuk beristirahat dan mengecup puncak kepala Anggun


lalu mengatakan padanya jika mulai sekarang aku akan sering kali menjenguknya. Kini giliran Mas Sadam yang berpamitan pada Anggun dan lelaki itu juga melakukan


hal sama denganku mengecup kening Anggun lalu memberikan paper bag yang tadi sempat kami simpan di bawah ranjang pasien karena ingin memberikannya saat kami hendak pulang.


Kulihat binar mata bahagia terpancar sempurna memenuhi kornea mata Anggun. Gadis kecilku itu membuka satu persatu isian di dalam papar


bag dengan senyuman yang tidak luntur walau sedikit saja.


“Mas Sadam, Mbak Sifa terima kasih. Ini sangat bagus sekali, Anggun akan segera sembuh dan berjalan sembari mengunakan baju ini,” aku langsung memeluknya mencium beberapa kali puncak kepalanya ikut bahagia. Ini

__ADS_1


semua berkat Mas Sadam jika saja lelaki itu tidak membelikan baju ini mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa membelikan baju yang bagus seperti ini untuk Anggun.


***


“Mas Sadam, terima kasih karena sudah menggangap Anggun sama


seperti adik, Mas Sadam sendiri,” ucapku setelah duduk di dalam mobil. Aku menggelengkan kepala melihat kearah Mas Sadam yang kini sedang mengurungkan niatnya untuk menyalakan mesin mobil.


“Dia adalah adikku juga mulai sekarang,” sahutnya sembari


menatapku intens. “jika Anggun sudah sembuh aku akan membawanya tinggal bersama


dengan kita selama dia berada di rumah sakit aku akan menyuruh beberapa perawat untuk mengawasinya jadi kamu tidak perlu khawatir,” kecemasan di dalam hatiku


mulai melebur bersama dengan kata terakhir ucapannya, kini aku tidak perlu cemas jika Anggun sendirian di dalam rumah sakit.


“Terima kasih, Mas.”


“Hanya itu.”


Aku mengerutkan kening tidak mengerti dengan arti dari ucapan Mas Sadam barusan. “Maksudnya?” tanyaku dengan manik mata meminta


penjelasan.


“Bisakah jika mengucapkan terima kasih dengan mengecup pipiku,” aku langsung membulatkan kedua manik mataku kaget mendengarkan ucapannya barusan. “kalau tidak mau ya, tidak masalah tapi jangan melotot


seperti itu nanti burung hantu akan merasa malu karena matanya kalah lebar dengan kamu.” Aku melihat lelaki itu tersenyum senang. Apakah dia bahagia melihat aku marah.


“Enak saja, aku disamakan dengan burung hantu,” sanggah ku tidak terima. Entah kenapa aku mulai merasa nyaman bersama dengan pria ini terutama ketika aku tau dia sangat baik dan juga mengganggap anggun persis seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


“Tentu saja, tadi aku hanya bercanda. Kau adalah istriku yang paling cantik. Sayang, kita pergi untuk makan siang lebih dahulu, ya sebelum pulang ke rumah.”


Aku terdiam menatapnya dengan mengerutkan kening. Aku pasti salah dengar mana mungkin Mas Sadam memanggil aku dengan sebutan itu.


__ADS_2