
Aku menatap kearah Mas Sadam kemudian melirik Anggun, aku berharap Mas Sadam tahu dengan maksud tatapanku. Selama ini Anggun sangat dekat dengan Gerry dan mungkin saja Ia tidak akan suka jika Mas Sadam bersikap arogan pada Gerry. Lagi pula kita hanya berteman tidak perlu Ia sampai marah seperti ini.
“Mas Sadam, kenal sama Mas Gerry?” tanya Anggun sembari masih memeluk tubuh Gerry.
Aku melihat Mas Sadam mengusap wajahnya sebelum berbicara. “Tentu saja kenal dia adalah teman, Mbak Sifa-kakak kamu.” Aku mendengar dengan sangat jelas jika Mas Sadam menekankan kata teman di dalam ucapannya.
“Iya, dulu waktu Mbak Sifa masih sekolah Mas Gerry sering datang ke rumah,” tutur Anggun. Aku hanya bisa menahan nafas takut jika Mas Sadam marah.
“Gerry, aku dan juga yang lain pamit ke kamar kami lebih dahulu,” ujarku pada Gerry.
Gerry menatapku lalu Ia berdiri di hadapanku. “Jika kamu merasa tidak nyaman dengan hotel ini bisa kasih tahu langsung ke aku,” ujarnya padaku.
“Kami bisa kasih tahu langsung ke menager hotel ini.” Aku hendak membuka suara akan tetapi Mas Sadam langsung menyela kata-kataku lebih dahulu.
Aku melihat Gerry tersenyum tipis lalu berkata, “Hotel ini milik saya, dan kalian merupakan tamu penting untuk saya, jadi bisa langsung memberitahukan pada saya.”
“Gerry, hotel ini milik kamu?” tanyaku dengan tersenyum. Aku senang sekali melihat Gerry bisa meraih mimpinya.
Flashback.
Aku duduk di bangku taman dekat sekolah, Gerry menghampiriku sembari membawa dua bungkus es coklat dan juga dua potong roti rasa coklat. Dia paling tahu apa yang Aku sukai.
“Sifa, makan dan minum ini,” ujar Gerry sembari memberikan satu potong roti dan juga satu bungkus es yang dia pegang padaku.
“Gerry, terima kasih kamu paling tahu apa yang aku sukai,” sahutku dengan menerima pemberiannya tidak lupa aku juga tersenyum manis.
Gerry duduk di sampingku. “Sifa, apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Gerry.
“Maksudnya?” tanya sembari mengunyah potongan roti yang barusan aku gigit.
“Sebentar lagi kita lulus sekolah, dan mungkin kita akan lama tidak bertemu, dan waktu kita bertemu apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Gerry padaku sembari meminum es di tangannya.
Aku menelan kunyahan terakhir di bibir ini kemudian menatap kearah Gerry sembari berkata. “Aku ingin kamu bisa meraih mimpi kamu, aku tahu kau ingin memiliki hotel sendiri, dan aku berdoa agar kamu bisa meraih mimpi itu,” ujarku dengan tulus. Ada perasaan sedih di hati ini ketika mengetahui Gerry yang selalu bersamaku akan melanjutkan kuliah di luar negeri.
__ADS_1
“Aku akan semangat dan meraih mimpiku, jika semuanya terwujud maka itu adalah karena dirimu.” Gerry menatapku dengan lekat, entah apa arti dari tatapan itu aku sungguh kesulitan mengartikannya.
Fleshback selesai.
“Semua ini karena kamu, aku bisa meraih mimpiku,” ujar Gerry sembari tersenyum padaku. Dan tatapan mata ini Aku masih ingat betul, ini adalah tatapan yang sama waktu kami masih seolah dulu.
“Ahem,” suara daheman Mas Sadam membuatku aku tertarik dari lamunanku.
“Gerry, sukses selalu untuk bisnis
kamu. Kami harus membawa mereka ke ruangan hotel,” ucapku pada Gerry.
Gerry mengulurkan tangannya di udara, aku hanya menatap uluran tangan itu lalu melihat kearah Mas Sadam yang masih menatap tajam pada Gerry.
“Mbak Sifa, kenapa tidak mau menjabat tangan Mas Gerry?” tanya Anggun padaku.
“Bukan seperti itu, Mbak Sifa akan menjabat tangannya,” sahutku pada Anggun.
“Sifa, semoga kamu bahagia, karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaanku juga,” ucap Gerry sembari menggengam tanganku kemudian Aku merasakan jika ibu jadinya mengusap punggung tanganku lembut dengan tatapan sendu.
“Anggun, jaga Mbak Sifa,” ucap Gerry sembari mengusap kepala Anggun.
“Tentu saja, Mas Gerry juga jaga diri baik-baik.” Aku melihat Anggun memeluk tubuh Gerry.
Anggun dan juga Liora berjalan di depan kami dan Mas Sadam langsung memeluk pinggangku posesif. “Aku tidak suka kau menyentuh dan juga berbicara pada lelaki lain,” bisik Mas Sadam padaku
dengan suara penuh penekanan.
“Mas, Aku mohon jangan berlebihan kami hanya berteman,” sahutku lirih pada Mas Sadam.
“Aku seorang lelaki dan aku tahu dia menyukai kamu.” Mas Sadam menatapku tajam.
“Tapi aku hanya menyukai kamu, dia hanya teman masa laluku,” sahutku padanya sembari mengusap pelan dadanya untuk meredam kobaran api dihatinya.
__ADS_1
***
Mas Sadam membuka pintu kamar ini, Liora dan juga Anggun langsung berhamburan berlari memasuki kamar terlebih dahulu.
“Jangan ada yang berlari nanti jatuh,” ucapku pada Anggun dan juga Liora.
“Dedek, kamu dengar apa yang barusan Mama katakan, tidak boleh berlari.” Aku mendengar Anggun berbicara pada Liora.
Liora yang semula berlari langsung berjalan pelan dan kini kedua anak itu melangkah menuju balkon untuk melihat pemandangan yang ada dibawah sana.
Aku hendak melangkah mengikuti Liora dan juga Anggun akan tetapi Mas Sadam langsung menarik ku kedalam ruangan kamar dan sekarang aku baru sadar jika kamar hotel ini memiliki dua kamar di dalamnya tentu berbeda dengan yang sempat kami pesan beberapa waktu yang lalu.
“Mas, ada apa?” tanyaku bingung.
“Mana tangan kamu yang menyentuh lelaki itu?” tanya Mas sadam. Ia menatap dengan rahang yang berkedut dan pandangannya tajam sekali jujur aku takut melihatnya seperti ini.
Aku mengulurkan tanganku. Dia langsung menarik tanganku menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan ini kemudian memberikan sabun dan mencuci tanganku di kucuran air yang keluar dari shower.
“Sayang, aku tidak suka kamu di sentuh oleh lelaki lain dan aku tidak perduli dengan alasan apapun itu.” Suara Mas Sadam penuh penekanan.
“Kamu jangan berlebihan, kau tidak bisa bersikap posesif tanpa asalan,” keluhku padanya,
“Lelaki itu menyukai kamu dan aku tidak ingin dia mengambil kamu dariku. Tidak akan pernah aku biarkan,” ujar Mas Sadam padaku.
“Mas, itu semua tidak seperti yang kamu bayangkan, Aku tahu Gerry dan dia temanku kami dulu selalu bersama,” jelasku padanya.
“Aku tidak perduli dengan masa lalu Yang terpenting sekarang kamu adalah milikku dan selamanya akan begitu,” ucap Mas Sadam padaku.
Aku tahu kenapa Mas Sadam bersikap seperti ini, ia pasti masih merasa trauma jika mengingat semua perlakuan Mbak Tasya dimasa lalu padanya.
Aku memeluk tubuh Mas Sadam kemudian mengusap pelan punggungnya. “Mas, Aku tidak akan meninggalkan kamu sampai kapanpun. Aku mencintai kamu, dan hanya kamu.” Aku melepaskan pelukan ini lalu mengecup bibirnya.
Aku bisa merasakan jika nafasnya tidak beraturan dengan dada yang naik turun. Suamiku sedang emosi dan aku mencoba menyirami api yang sedang berkobar itu dengan air yang akan mendinginkannya.
__ADS_1
Apakah Sifana berhasil melakukan hal itu? Ataukan malah pertengkaran mereka akan diketahui oleh Liora dan juga Anggun?