
Sifana Pov.
Aku terbangun dari tidurku usai mendengarkan suara seseorang yang mengetuk pintu ruangan kamar ini berulang kali. Aku menyalakan lampu tidur kemudian mengucek kedua mataku untuk menyingkirkan rasa kantuk yang masih menggelayuti pelupuk mata ini. Ku baca arah jarum jam yang pendek dan ini masih pukul 12 malam.
“Kenapa firasat ku jadi tidak enak,” batinku sembari mengusap dada ini perlahan.
Cklek!
Seluruh pandanganku langsung di penuhi dengan sosok Anggun yang kini berdiri di depan pintu ruangan kamar ini. “Sayang apa kamu sakit?” tanyaku padanya panik. Aku buru-buru mengecek suhu tubuhnya akan tetapi Anggun baik-baik saja.
“Bu-bukan Anggun yang sakit, Mbak ,tapi Liora,” ucapnya dengan gugup.
“Kamu masuk kedalam kamar dan bangunkan, Mas Sadam. Mbak,.akan ke kamar Liora lebih dahulu,” ucapku padanya.
“Iya,” sahut Anggun.
Aku langsung berlari cepat menuju kamar Liora. Jantungku berdetak dengan sangat kencang ketika melihat wajahnya yang pucat dengan tubuh menggigil kedinginan. Aku melihat Liora bergumam pelan, karena penasaran akhirnya Aku mendekatnya telinga ini di bibirnya.
“Jangan-jangan sakiti semua orang.” Aku menghembuskan nafas kasar, ternyata ini penyebab Liora sakit. Liora sangat tertekan sekali sampai Dia ketakutan seperti ini hingga apa yang terjadi di dunia nyata menyelinap masuk kedalam alam bawa sadarnya.
“Sayang, bagaimana dengan konsisi Liora?” tanya Mama Elsa padaku.
Aku melihat Mas Sadam dan juga Papa Damar melangkah terburu-buru mendekatiku wajah keduanya ikut panik sekali. Sejak dari kecil Liora jarang sekali sakit karena Ia anak yang betah menahan rasa sakit. Ketika makan malam tadi Liora tidak banyak bicara bahkan Ia kembali ke kamarnya lebih awal bersama dengan Anggun.
“Ma, badannya demam tinggi sebaiknya kita panggil Dokter.saja,” ucapku memberikan saran.
__ADS_1
“Baik,” Mas Sadam langsung berlari keluar dari ruangan kamar ini untuk menghubungi dokter.
“Anggun, apakah Liora tidak bercerita apapun pada kamu?”.tanyaku pada Anggun.
“Dedek, tidak bercerita apapun tapi waktu mau tidur, Dia minta di peluk oleh Anggun katanya takut bermimpi buruk lagi.” Aku langsung mengerutkan kening mengetahui jika Liora takut bermimpi buruk bukankah itu tandanya jika Liora sering mengalami mimpi buruk dan apakah barusan Dia mengigau itu adalah bagian dalam mimpinya? Entahlah Aku tidak bisa mengambil kesimpulan secepat ini.
“Ini semua pasti gara-gara wanita gila itu, Dia benar-benar melukai batin cucuku.” Aku melihat Papa Damar menekan intonasi suaranya karena tidak ingin membuat kegaduhan di dalam ruangan ini. Aku mendengarkan ada nada gelisah bercampur emosi dari nada ucapan Papa Damar barusan.
“Tasya benar-benar tidak punya hati.” Timpal Mama Elsa dengan mengusap puncak kepala Liora.
“Sebentar lagi, Dokter akan sampai,” ucap Mas Sadam.
Kini lelaki itu duduk di samping putrinya kemudian mengecup puncak kepala Liora dengan penuh kasih sayang. Mata Mas Sadam berkaca-kaca melihat wajah pucat si kecil. Aku keluar dari kamar ini mengambilkan baskom dan juga handuk kecil untuk mengompres Liora agar demamnya lekas turun.
“Mas Sadam, biar Aku kompres Liora,” ucapku pada Mas Sadam.
Aku memasukkan handuk itu ke air hangat dalam baskom kemudian memerasnya dan menempelkannya di kening Liora. Selang beberapa waktu Dokter yang di hubungi oleh Mas Sadam tadi mulai masuk kedalam ruangan ini. Itu adalah Doker Heru, Dokter keluarga ini.
Dokter Heru langsung mengecek nadi Liora dan juga membuka kedua kelopak mata itu lalu mengarahkan senter ke manik mata tersebut. Kami hanya diam memberikan privasi untuknya agar lekas menyelesaikan tugasnya.
Dokter Heru melangkah menghampiri kami semua lalu memberikan resep obat yang harus di tebus di apotik terdekat. “Liora, merasa tertekan dan hal itu membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang. Bayangan kejahatan Ibu Tasya terus saja berputar ulang di kepalanya dan saya takut jika sampai Liora akan mengalami trauma dan hal itu tidak baik untuk ke depannya, jadi usahakan selalu memperhatikan Liora agar Dia bisa melupakan apa yang terjadi,” ucap Dokter Heru. “Lebih cepat melupakan semuanya itu lebih baik untuknya,” sambung Dokter Heru lagi.
“Dokter, mari saya antar keluar sembari saya menebus obat di apotik,” ucap Papa Damar.
“Pa, biar Sadam saja yang membeli obat itu,” pinta Mas Sadam yang l memang sudah membawa resep dokter di tangannya.
__ADS_1
Aku melihat Papa damar menepuk pundak Mas Sadam dua kali lalu berkata, “Sudah kamu di sini saja temani Liora. Biar Papa yang menebus resep obatnya.” Papa Damar mengambil kertas yang di pegang oleh Mas Sadam.
Mama Elsa menitihkan air mata, hatinya terasa pilu sekali melihat nasib cucu kesayangannya saat ini. Mas Sadam memeluk Mama Elsa sedangan Aku sendiri terus mengompres Liora.
“Anggun, kamu tidurlah jangan sampai ikut sakit juga.” Anggun sejak dari tadi menatap Liora dengan mata yang sudah berkaca-kaca, aku tahu Ia pasti tidak tega melihat hal ini.
“Anggun ingin ikut menjaga, Dedek.” Aku melihat wajah Anggun memelas.
“Kamu bisa tidur di samping Liora. Nanti jika Liora sudah bangun maka Mbak Anggun juga akan membangunkan kamu,” bujukku padanya.
“Baiklah, tapi Mbak Sifa harus janji akan membangunkan Anggun.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju akan hal itu.
“Ma, sudah jangan menangis lagi nanti kalau sampai Liora bangun dan melihat Mama menangis seperti ini maka, Dia akan sedih,” bujuk Mas Sadam. Aku sesekali melihat kearah Mama Elsa dan juga Mas Sadam yang kini sedang duduk di sofa yang terletak di bawah ranjang.
“Mama, takut jika Liora sampai mengalami trauma, Dia masih sangat kecil.” Suara isak tangis Mama Elsa memuat Aku ikut menitihkan air mata.
“Ma, kita semua sangat menyayangi Liora dan tidak akan pernah membiarkan hal itu sampai terjadi.” Aku melihat Mas Sadam masih berusaha membujuk wanita paruh baya itu.
“Sadam, apakah kamu sudah memberikan pelajaran pada wanita itu tadi?” tanya Mama Elsa. Aku hanya bisa mendengarkan perbincangan keduanya.
“Sudah,” sahut mas Sadam singkat.
“Kau memukulnya?” tanya Mama Elsa. Aku tahu Mama Elsa sangat membenci Mbak Tasya akan tetapi Ia tidak pernah setuju jika melihat Mas Sadam memukul wanita meskipun wanita itu bersalah sekalipun.
“Tidak, para tahanan yang membantuku dan Aku memberikan imbalan untuk mereka.” Sebenarnya Aku kasihan melihat nasib Mbak Tasya tapi jika melihat keadaan Liora sekarang. Mbak Tasya emang pantas mendapatkannya.
__ADS_1
“Bagus, Mama bangga pada kamu.”
Jangan lupa ikuti akun Mangatoon saja dan follow Ig Khairin_junior. Dukung karya remahan saya ini dengan memberikan vote, like dan juga komentar ya. Terima kasih