Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Liora Tahu Tentang Mbak Tasya


__ADS_3

Aku baru saja membacakan dongeng untuk Liora dan juga Anggun dan kini kedua gadis itu sudah masuk ke dalam alam mimpi. Aku menyelimuti tubuh keduanya tidak lupa Aku menaruh guling di sebelah Liora dan juga Anggun dan seperti apa yang Mama Elsa bilang jika keduanya tidur satu ranjang. Aku mematikan lampu kamar ini dan menyalakan lampu tidur mereka sehingga di dalam ruangan kamar ini tidak gelap gulita.


Aku melangkah masuk ke dalam ruangan kamarku. Lampu di dalam ruangan kamar ini masih menyala, Aku mengunci pintu ruangan kamar ini. Manik mataku di penuhi dengan sosok Mas Sadam yang sedang tiduran sembari memainkan ponselnya, Ia menatapku sekilas kemudian menaruh ponselnya di atas nakas lalu mematikan lampu tidurnya. Mas Sadam masih marah dan lihatlah itu kini Ia memeluk guling dengan memejamkan matanya sungguh membuat Aku semakin ingin mengerjainya. Aku melangkah menuju lemari kemudian mengambil piyama tidur yang warnanya sama dengan Mas Sadam.


“Mas, kamu masih marah?” tanyaku padanya setelah selesai mengganti bajuku lalu Aku mengusap pelan lengan tangannya, sengaja sekali gerakan tangan ini Aku buat menggoda supaya memporak-porandakan semua emosi yang masih memuncak di ubun-ubunnya.


Mas Sadam tidak menjawab Ia hanya diam masih dengan posisi yang sama yaitu membelakangi Aku. “Mas, jangan marah, Aku janji besok akan berhati-hati dan bisa Aku pastikan hanya 30 menit saja Aku berbicara dengan Mbak Tasya.” Aku berbicara sembari memeluk tubuh suamikku dan dengan sengaja Aku mengusap pelan perutnya dengan tangan.


Rencanaku berhasil dan lihatlah kini Mas Sadam membalikkan tubuhnya menghadap tatapannya mengunci pandanganku hingga hanya berpusat padanya. Mas Sadam mengecup puncak kepalaku kemudian mengecup bibirku sekilas.


“Sayang, kamu harus berjanji jangan berdiri dekat dengannya, Dia wanita yang sudah kehilangan akal.” Aku bisa melihat kegelisahan yang nampak nyata di wajah suamiku.


“Mas tenanglah, ada pengawal yang akan menjagaku dengan Mama Elsa. Kamu tidak mungkin meragukan kemampuan para lelaki dengan tubuh kekarnya itu kan?” tanyaku pada Mas Sadam sembari mengangkat satu alis ini ke atas.


“Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu.”


tidak akan, Aku janji.” Aku memeluk tubuh kekar suamiku.


“Sayang, bisakah kita melakukannya?” tanya Mas Sadam padaku.


“Ya,” sahutku singkat jelas dan juga padat.

__ADS_1


Kalian semua tahu malam yang panjang akan di mulai adegan ranjang, Nisa skip reader yang baik hati bisa membayangkan sendiri adegan panas membara tapi tidak ada adegan ranjang patah ya, ehehehehe.


***


hari ini Aku sengaja bangun pagi sekali karena ingin membuat banyak makanan yang nantinya mau Aku berikan ke Mbak Tasya agar di makan dengan semua teman satu sel dengannya. Selang 1 jam suara langkah kaki mulai terdengar mengetuk-ngetuk lantai marmer ruangan dapur ini dan itu adalah Mama Elsa.


“Sifana, kamu bangun pagi sekali?” tanya Mama Elsa padaku, Manik mata wanita paruh baya itu melihat sebagian hidangan yang sudah matang di atas meja makan.


“Sifana bangun sekitar jam 04.00, Sifa ingin memberikan ini untuk Mbak Tasya.” Aku kembali memasukkan ayam kedalam minyak yang sudah mendidih.


“Sifana, Mama tidak habis pikir hati kamu itu terbuat dari apa, Tasya tidak pernah bersikap baik pada kamu tapi, kamu masih saja membalas semua kejahatannya dengan kebaikan.” Mama Elsa berdiri di sampingku lalu membantu aku mengupas sayuran yang nantinya akan aku buat SOP.


“Jika Sifa melakukan apa yang mbak Tasya lakukan, lalu apa bedanya Sifa dengannya,” ucapku pada Mama Elsa tanpa mengurangi kesopanan ini.


Aku dan juga Mama Elsa memasak makanan, sesekali kami bercanda dan juga tertawa jika merasa pembahasan ini lucu. Aku dan juga Mama Elsa duduk di meja makan setelah selesai menaruh sarapan pagi di atas meja ini. Aku menyandarkan punggung di kursi dan begitu juga dengan Mama Elsa kami berdua saling menatap lalu terkekeh wajah kami di penuhi dengan minyak karena menggoreng banyak ayam.


“Ma, ayo kita mandi dulu masih keburu sembari menunggu jam sarapan pagi,” ucapku pada Mama Elsa.


“Iya kamu benar, tubuh Mama juga terasa lengket sekali dan tidak nyaman,” sahutnya mengiyakan apa yang Aku katakan barusan.


Mama Elsa melangkah masuk ke dalam ruangan kamarnya yang ada di lantai bawah sedangkan Aku melangkah menaiki anak tangga rumah ini. Aku lebih dahulu masuk ke dalam kamar Anggun dan juga Liora.

__ADS_1


“Sayang, kalian berdua sudah bangun,” ucapku setelah melihat Liora di bantu Anggun mengunakan baju atasan.


“Ma, tadi Liora di bangunin mbak Anggun. Tapi Liora mandi sendiri lalu Mbak Anggun membantu mengunakan baju.” Liora berbicara dengan wajah polosnya. Aku melangkah mendekatinya setelah menyambar sisir yang ada di atas meja rias.


“Sini, biar Mama yang sisir rambutnya,” ucapku pada Liora dan si kecil pun langsung berlari ke arahku dengan senyuman manisnya.


“Mbak Sifa, Anggun mau mandi dulu ya,” ucap Anggun padaku sembari beranjak berdiri dari ranjang.


“Biar, Mbak Sifa bantu,” ucapku padanya.


“Mbak Sifa, sekarang Anggun sudah sembuh dan bisa berjalan sendiri jadi tidak usah di bantu,” ucapnya padaku. Dari awal Anggun bukannya nggak bisa berjalan, Ia bisa berjalan hanya saja perlahan karena rasa sakitnya, mungkin tubuh Anggun terasa kaku waktu itu hingga tidak bisa di buat bergerak dengan leluasa karena dia lebih banyak menghabiskan hari-harinya di atas ranjang rumah sakit.


“Kalau butuh bantuan, langsung panggil Mbak Sifa saja,” sahutku padanya. Aku tahu Anggun tidak suka merepotkan orang lain dan Aku menghargai hal itu karena Dia memang anak yang mandiri.


“Mama Sifa. Kenapa Mama Tasya tidak pernah menjenguk Liora lagi, ya?” tanya Liora padaku. Aku langsung menghentikan menyisir rambutnya kemudian membalikkan posisi gadis kecil itu hingga kami saling berhadapan.


“Mama Tasya, pasti sedang sibuk nanti jika sudah ada waktu pasti, Mama Tasya akan menjenguk Liora.” Aku terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat si kecil bersedih. Kasihan sekali Liora dia menjadi korban dari keegoisan Mbak Tasya dimasa lalu.


“Ma, kenapa harus berbohong?” tanya Liora padaku. Aku mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Berbohong masalah apa, Sayang?” tanyaku padanya.


“Mama Tasya, tidak bekerja bukankah Dia di penjara?” tanya Liora padaku.

__ADS_1


Deg!


Seperti ada palu yang langsung menghantam keras jantungku, dari mana Liora tahu akan hal ini karena tidak mungkin ada orang yang memberitahunya. Apakah Liora akan marah padaku karena Mbak Tasya masuk kedalam penjara dan apakah Dia akan membenciku. Tenggorokanku terasa mengering bahkan aku juga seakan tidak bisa berkata-kata hingga hanya menatap wajah polos gadis kecil dihadapan ku ini.


__ADS_2