Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
ban 3


__ADS_3

Lampu hijau akan segera berahir, sedang mobil tua itu belum juga sampai pada garis putih di depan. Marta kesal, dia langsung tancap gas dan menyalip mobil tua itu dengan kecepatan penuh. Saat dia mencapai seberang jalan, tiba-tiba ...


Brak!!


Mobil Marta menabrak seorang penjual koran. Marta syok, dia mematung di dalam mobilnya.


"Woy! Keluar lu! Keluar!"


"Woy! Tanggung jawab!"


"Sudah tahu lampu merah main terobos aja! Keluar woy!"


Marta semakin ketakutan, semakin lama dia berada di dalam mobil, semakin besar kemarahan warga yang ada di sekitar. Marta segera keluar dari mobilnya.


"Saya minta maaf, saya tidak sengaja," jerit Marta.


"Cepetan bu, bawa korbannya ke Rumah Sakit."


Melihat keadaan korban mengeluarkan darah pada bagian kepala, Marta gemetaran.


"Siapa yang bisa menyetir? Bawa korban dengan mobil saya, saya tidak kuat lihat darah!" Marta menyerahkan kunci mobilnya pada warga yang ada di tempat kejadian, sedang dia mengikuti korban dengan menaiki taksi.


Marta terus berpikir, dia tidak mau namanya tercoreng karena kasus ini, Marta langsung menelepon pengacaranya.


"Halo Pak Idham."

__ADS_1


"Ada apa bu?"


"Pak, saya habis menabrak orang, keadaan korban sangat parah, sangat kecil untuk korban bisa selamat. Saya tidak mau tau, Bapak harus tolong saya."


"Tenang bu Marta, saya akan mengurus masalah ini, pertama ibu bawa korban ke Rumah Sakit, ibu minta semua data-data saksi, juga alamat korban, saya akan urus sisanya."


"Baik, saya akan lakukan."


"Ke Rumah Sakit mana mereka membawa korban?" 


Marta menyebutkan tempat kejadian, dan memperkirakan lokasi Rumah Sakit terdekat.


"Baiklah, secepatnya saya akan kesana, saya akan bantu ibu untuk mengurus semuanya."


Marta berusaha tenang, dia segera menyimpan handphonenya, dan kembali fokus pada jalanan.


Mauren dan Lila masih berkendara di jalan raya. Tiba-tiba handphone Laila bergetar, Laila menepikan motornya. Melihat nama Ayahnya di layar handphone, Laila langsung menerima panggilan.


"Halo, ada apa Pak?"


"Mauren bersamamu?"


"Iya, lagi sama aku, ada apa Pak?"


"Ayah Mauren kecelakaan, cepat kalian ke Rumah Sakit." Ayah Laila menyebutkan nama Rumah Sakit tempat Ayah Mauren dirawat.

__ADS_1


Setelah menyudahi pembicaraannya, Laila bingung darimana dia menceritakan berita buruk ini pada Mauren. Laila tidak mengucap sepatah kata lagi, dia segera melajukan motornya menuju Rumah Sakit.


Saat sampai di Rumah Sakit, Mauren sangat bingung. "Kenapa ke sini La?"


"Ada berita buruk, Bapakmu kecelakaan," ucap Laila.


"Apa?"


Mauren ingin berlari kedalam, namun ditahan Laila. "Kita ke informasi dulu, jangan asal masuk."


Keduanya berjalan bersama, saat menuju meja informasi, Laila hanya sendiri ke sana. Mauren terus menangis dan menyandarkan punggungnya di tembok.


"Bagaimana ini, terima nggak tawaran bu Marta?"


"Terima saja, toh bapak yang kecelakaan juga gak berumur panjang walau menjalani operasi, mending kita terima tawaran tu Nyonya Kaya."


"Tu ibu sepertinya buru-buru, sampai lampu merah diterobos."


"Ya maklum, holang kaya, pastinya mereka buru-buru, kan katanya time is money."


Mauren berusaha menguping pembicaraan orang yang ada di dekatnya.


"Ingat, saat di sidang, kita katakan kalau Pak Dasman yang menabrakan diri ke mobil Nyonya Marta."


"Iya, kita harus kompak menceritakan itu."

__ADS_1


Hati Mauren sangat sakit mendengar kerjasama orang-orang jahat itu.


Laila segera menyusul Mauren. "Bapakmu ada di ruang ICU."


__ADS_2