
Aku sedang sibuk membuat makan malam di dapur, awalnya Mama
Elsa hendak membantuku akan tetapi aku tahu jika sekarang mama mertuaku itu lebih membutuhkan istirahat dan akhirnya aku menyuruh Mama Elsa untuk tetap berada di dalam kamar ini, lagi pula luka di kepalaku juga tidak terlalu parah
walaupun rasa nyerinya masih terasa akan tetapi ini hanya luka ringan saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku sibuk menumis sayuran di atas pengarengan
terdengar suara langkah kaki mengetuk-ngetuk lantai marmer dapur ini, aku menoleh sekilas dan ternyata itu adalah Mas Sadam yang sedang melangkah mendekatiku.
Entah apa yang terjadi jantungku selalu loncat-loncat alai ketika melihat sorot mata gelap dan tidak terbaca itu. Jantungku bisa pensiun dini jika terus seperti ini, aku tidak ingin menaruh harapan besar pada pernikahan kami akan tetapi entah mengapa aku juga ingin mendapatkan cinta dari Mas Sadam walaupun itu semua terlampau mustahil untuk terjadi.
“Dimana, Mama?” Mas Sadam bertanya padaku setelah dia
menghentikan langkah kakinya di sampingku.
“Ma-mama sedang berada di kamar,” jawabku dengan gagu. Entah mengapa aku kehilangan perasaan tenang dan juga damai setiap kali Mas Sadam dekat denganku.
“Jika kepala kamu masih sakit lebih baik beristirahat saja, nanti aku akan pesan makanan dari luar,” ujar Mas Sadam masih dengan posisi yang belum bergeser di sampingku dan ini membuat aku semakin gugup dibuatnya.
“Ini hanya sakit ringan saja,” aku bicara tidak berani menoleh kearahnya karena takut jika lelaki itu tahu perasaanku sekarang.
“Aku baik pada kamu hanya karena ingin menebus kesalahan yang telah Tasya lakukan tempo hari jadi kamu jangan berpikiran macam-macam.”
Kata-kata yang keluar dari bibir Mas Sadam barusan seperti panah yang di
tancapkan tepat ke jantung dan langsung menghancurkan perasaan yang tadinya sempat melambung sedikit lebih tinggi karena perhatiannya.
“Saya tahu,” aku hanya bisa menjawab singkat dengan bibir
bagian bawah yang aku gigit keras agar tidak gemetar ketika mengucapkan kata itu tadi.
__ADS_1
“Bagus jika kamu tahu,” lelaki itu berbalik arah dan melangkah keluar dari dapur ini. Aku hanya bisa tersenyum getir melihat nasibku
yang malang karena telah terbawa perasaan yang tidak semestinya. Aku pantas mendapatkannya, ya aku pantas.
Beberapa hari kemudian.
Mama dan juga Papa sudah kembali kekediaman mereka. Kehidupan Mbak Tasya dan juga Mas Sadam
kembali harmonis seperti biasanya dan aku masih tetap sama-menjadi pelayan di dalam rumah suamiku sendiri sedangkan Liora sendiri menjaga jarak denganku jika
ada Mbak Tasya didekat kita. Aku sibuk menyapu halaman depan dan selesai aku segera membawa sak berisikan sampah dedaunan kering yang berserakan di halaman
rumah. Aku berbalik arah dan langsung terkejut melihat sosok lelaki yang tempo hari menawarkan bantuan di pinggir jalan, ya, ini adalah lelaki yang sama.
“Cantik, apakah kamu masih ingat aku?” tanya lelaki asing ini dengan jari tangan dia buat menyisir rambutnya sendiri. Aku sungguh muak sekali melihat sikapnya yang sok tampan, ya, walaupun dia memang sangat tampan sih di bandingkan dengan Mas Sadam.
“Maaf, saya lupa,” bohongku sembari berlalu pergi begitu saja. Aku tidak suka terlibat perbincangan dengan orang asing dan lebih memilih
“Perkenalkan, Namaku, Putra,” aku langsung mundur beberapa langkah kebelakang ketika lelaki itu berada di hadapanku, dia sungguh membuat
aku kaget saja. Aku hanya mengerutkan kening tanpa berniat untuk menjabat tangannya, lelaki itu dengan kurang ajar malah meraih tanganku lalu ia genggam.
“Apa yang kamu lakukan, cepat lepaskan,” teriakku histeris melihat sikapnya. Aku tidak pernah dekat dengan lelaki lain dan tubuhku
langsung gemetar dengan keringat dingin yang sudah menggembun di jidat.
Entah apa yang sekarang sedang di pikirkan oleh lelaki gila ini, karena dia malah menggengam erat tanganku degan tersenyum manis sedangkan
aku sendiri berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya. Wajahku pasti sudah pucat pasih sekarang. Aku mencoba memanggil nama satpam yang biasanya berjaga
__ADS_1
di gerbang akan tetapi tidak ada orang di pos penjagaan itu entah kemana perginya kedua satpam itu tadi Padahal aku ingat dengan sangat jelas ketika aku keluar gerbang kedua satpam itu masih ada di tempatnya.
“Cantik, hanya seperti ini saja kamu sudah berkeringat dingin, tapi tenang saja karena aku semakin suka melihat kamu gugup, kamu makin
bertambah cantik dan berbeda dengan wanita lainnya yang akan dengan mudah tergoda dengan ketampanan aku ini,” sepertinya lelaki ini sudah gila dan harus lekas di bawa ke rumah sakit jiwa.
“Lepaskan aku,” teriakku kencang.
Lelaki itu panik dan langsung melepaskan tanganku dan aku
tidak siap, aku hanya bisa pasrah ketika mengetahui jika tubuhku akan membentur aspal dengan kasar, akan tetapi ada sepasang tangan yang langsung mendekap ku erat hingga aku jatuh dalam pelukannya.
“Lepaskan aku, sudah kubilang menjauh dariku,” teriakku sembari membuka mata. Aku langsung bengong saat melihat jika orang yang
menyelamatkan aku bukan lelaki itu akan tetapi Mas Sadam.
Kenapa tiba-tiba Mas Sadam berada di sini? Apakah dia melihat semua yang terjadi jangan-jangan dia salah paham padaku. Lihatlah itu dia menatapku dengan tajam akan tetapi sikapnya sangat lembut sekali ketika membantu aku berdiri dengan tegap.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Mas Sadam padaku, jika kemarin aku akan mengira kalau lelaki ini sedang perhatian padaku akan tetapi sekarang aku tahu jika dia hanya sedang mencoba menebus kesalahan yang telah Mbak Tasya lakukan selama ini.
“Ya,” aku menjawab dengan suara yang gemetar. Kedua tanganku saling ku genggam erat untuk mengurangi rasa gemetar di tubuh ini.
“Ini semua tidak seperti yang, Anda lihat aku dan juga Sifana saling mengenal satu sama lain,” aku langsung membulatkan kedua mataku tidak percaya dengan apa yang lelaki asing ini katakan, aku bahkan tidak pernah menyebutkan namaku padanya akan tetapi kenapa dia bisa mengetahui namaku ini
sangat aneh sekali. Begitu pikirku.
“Mas Sadam, saya sungguh tidak mengenal lelaki ini, tolong percaya padaku,” aku bicara dengan tubuh gemetar hebat. Mas Sadam menatapku dengan ekspresi yang tidak terbaca, aku hendak membuka mulut untuk meyakinkannya lagi akan tetapi suara Mbak Tasya mulai terdengar dan menghentikan ku membuka suara.
“Sifana, kenapa kamu membuang sampah saja lama sekali?” tanya Mbak Tasya padaku, lalu ia menatap kearah lelaki asing itu sesaat. “apakah kamu mengenal siapa lelaki ini? Atau jangan-jangan kalian berdua adalah sepasang kekasih.”
__ADS_1
'Kenapa lelaki asing ini mengetahui namaku? Seperti ada hal yang ganjil.'