Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Hukuman Untuk Tasya


__ADS_3

Sadam Pov.


Aku melihat wanita paruh baya itu menampar Tasya beberapa kali. Entah mengapa bayangan dimana Tasya melakukan hal yang sama pada Sifana waktu keduanya berada di dapur rumah kami, dan Aku selalu mengutuk diriku sendiri yang berpura-pura tidak pernah melihat kejadian itu, Aku sungguh lelaki yang bodoh sekali. Memori internal otakku mulai berputar perlahan seperti kaset yang di putar dengan tempo yang lambat. mulai terlintas di benakku seperti kaset yang di putar ulang. Rasa kasihan, kesedihan melihat Istri pertamaku itu di siksa oleh orang lain mulai lebur menjadi partikel kecil bagaikan debu. Ya, mungkin ini yang dinamakan hukum Alam, Tasya di perlakukan dengan cara yang sama seperti dia menyiksa Sifana-istriku yang malang.


“Hahahaha, hajar lagi Bos. Aku dengar Dia masuk ke sini karena mencoba membunuh istri kedua dari suaminya. Dan Aku juga mendengar jika polisi mengatakan kalau istri kedua suaminya adalah wanita yang sangat baik sekali.” Sayup-sayup Aku mendengar perbincangan para penghuni lapas itu.


“Itu tidak benar, wanita itu merebut suamiku Dan aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku saja, tolong jangan lakukan hal ini padaku.” Aku melihat Tasya merengek seperti anak kecil. Tasya bahkan masih menyalahkan orang lain, dia benar-benar tidak berubah sama sekali.


"Jangan pernah berpikir jika Aku akan percaya dengan ucapan kamu! Kau harus mendapatkan salam perkenalan dari kami semua." Aku mendengar gelak tawa memenuhi lapas tersebut bahkan mereka semua juga melayangkan tinjunya ke telapak tangan sendiri seakan sudah siap untuk memberikan bogem mentah itu pada Tasya.


"Tasya, mungkin Sifana terlalu baik hingga Dia tidak pernah menyentuh kamu, tapi lihatlah itu. Tuhan mengirimkan orang lain untuk memperlakukan sama seperti dulu kau memukul Sifa dengan kejam," batinku sembari tidak lepas mengalah kejadian di dalam sel itu.


Aku kembali melangkahkan kaki ini mendekati sel tersebut, Tasya melihatku dan Dia menangis semakin kencang sedangkan wanita paruh baya yang tadi menyiksanya langsung melepaskan jambakan tangannya di rambut Tasya. Semua tahanan lainnya saling berbisik-bisik sepertinya mereka sedang membicarakan tentang diriku.


“Mas Sadam, Mas tolong Aku.” Tasya mulai merangkak mendekati jeruji besi lalu dia mengulurkan tangannya padaku. Aku melihat cairan kemerahan terus menetes dari sudut bibirnya lalu Aku juga melihat jika rambut panjangnya acak-acakan sekali.


“Kenapa, Aku harus menolong kamu.” Aku berbicara dengan nada suara sarkas.


“Mas Sadam, Aku masih istri kamu, tolong kasihani aku, Mas. Aku tidak mau tinggal di dalam sel ini.” Tasya merengek padaku. Bahkan kini dia mulai menyadari posisinya di hatiku sehingga Dia juga menggubah panggilannya padaku.


“Istriku terluka karena ulah kamu, Kau bahkan masih belum menyadari kesalahan kamu itu.” Aku berjongkok dihadapannya, tapi Aku sengaja menjaga jarak diantara kami. Aku membiarkan tangannya menggapai angin, bahkan cairan bening yang terus menetes dari kedua pelupuk matanya seakan tidak bisa meluluhkan hatiku yang sudah mengeras bagaikan batu.


“Mas Sadam, Aku melakukan semua itu demi kita berdua.”


“Kau pantas berada di lapas ini, dan akan Aku pastikan Kau tidak akan pernah menghirup udara bebas lagi.”

__ADS_1


"Mas Sadam, Aku adalah sahabat kamu sejak dari kecil, dan aku juga masih istri kamu. Kenapa Kamu tega seperti ini padaku, Aku sungguh tidak bisa hidup tanpa kamu, Mas." Suara tangisan Tasya semakin kencang sampai menggema ke seluruh lorong penjara ini.


"Ada apa ini, Pak Sadam?" tanya seorang polisi padaku.


"Jangan biarkan Siapapun menjaminnya keluar dari ruangan ini." Aku melirik Tasya tajam andaikan tidak ada hukum di negara ini sudah Aku pastikan jika tanganku sendiri yang akan menghabisinya.


"Baik, Pak Sadam." Polisi menyanggupi permintaanku dan aku langsung mengganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih padanya.


Aku benar-benar tidak tahan berlama-lama dekat dengan Tasya. Wanita itu masih juga belum menyadari kesalahannya. Dia bahkan masih berdalih ingin menyelamatkan rumah tangga kami. Padahal sejak dari awal Tasya sendiri yang sudah menghancurkan rumah tangga kami, ya hanya dia saja yang membuat masalah.


Dengan mengeraskan rahang ini Aku keluar dari kantor polisi setempat, kemudian Aku membanting pintu mobil dan segera melajukan kendaraan ini menuju ke rumah sakit. setelah menempuh beberapa waktu perjalanan barulah mobil ini sampai di halaman depan rumah sakit, Aku melangkah panjang menuju ruangan istriku berada, Aku sangat ingin memeluknya dan berterima kasih karena Dia sudah hadir di bumi ini dan menjadi pendampingku, Istriku yang sangat baik dan juga penyayang Aku sungguh beruntung memiliki nya.


"Pa, apakah dia sudah sadar?" tanyaku setelah berada di dekat Papa Damar.


"Ya, Dia sudah sadar masuklah," ucap Papa Damar padaku.


"Iya, Rencana Papa juga begitu."


***


Aku melangkah masuk kedalam ruangan ini, manik mataku langsung tertuju ke arah ranjang. Sifana menyadari kehadiranku dan seperti biasa wanita itu menyambut ku dengan seulas senyuman manisnya. Senyuman itu selalu berhasil membuat aku candu.


"Sayang, Apa yang Mau rasakan," tanyaku padanya setelah mengecup keningnya.


"Aku baik-baik saja, jangan cemas, ini hanya luka kecil." Beginilah istriku Dia Tidak pernah mau membuat orang lain merasa cemas akan kondisinya.

__ADS_1


"Maaf, tadi Aku tinggal sebentar," Aku meraih punggung tangannya yang tidak terdapat selang infus lalu Aku mengecup sayang.


"Bagaimana dengan keadaan Mbak Tasya."


"Kenapa Dia bisa tahu kalau Aku pergi ke sana, apakah Papa Damar yang bilang," batinku pada diri sendiri.


"Aku hanya menebak saja, Mas. Dan jika Aku lihat dari air muka kamu ini pasti benar," ucap Sifana padaku lagi.


Aku tidak ingin Dia salah paham. Aku harus menjelaskannya padanya yang sebenarnya.


"Aku hanya ingin memastikan jika Dia di hukum, atas apa yang dia lakukan pada kamu, Sayang." Aku kembali mengecup punggung tangannya.


"Mas, Jangan biarkan Mbak Tasya di penjara, dia melakukan semua itu karena masih mencintai kamu." Dia sungguh baik sekali, Aku mengira jika Sifa akan dendam dengan perbuatan Tasya akan tetapi malah sebaliknya.


"Dia tidak pernah mencintaiku, tapi dia ingin hidup mewah dan serba kecukupan. Dari dulu Tasya tidak pernah mau hidup sederhana." Aku menggenggam tangannya. "Kamu jangan pernah merasa bersalah, karena Tasya hampir saja membuat Kamu terluka, dan aku sudah tidak bisa mentoleransi lagi apa yang Dia lakukan."


"Bagaimana jika sampai, Liora mengetahui akan hal ini, Mas. Aku tidak ingin membuat Liora sedih, kasihan dia," ucap Sifa dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh tulus sekali hati kamu, bahkan Kau menyayangi Liora sudah seperti anak sendiri.


"Kita semua Akan merahasiakannya. Bahkan Papa juga sudah menekan semua media agar mereka tidak menyebar luaskan hal ini ke publik.


"Baiklah, terserah Mas Sadam saja."


"Kamu pikirkan saja kesehatan kamu, Sayang."


"Ini hanya luka ringan, dan aku bisa pulang sekarang." Aku menahannya yang hendak mendudukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Sayang, kita di sini saja selama beberapa hari, Atau mau Aku pindahkan ke hotel saja?" ucapku menggodanya.


Sadam kamu mesum sekali.


__ADS_2