Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Tidak Mau Kehilangannya


__ADS_3

Setelah selesai makan siang Mas Sadam kembali melanjutkan pekerjaanya sedangkan aku duduk di sofa, aku sibuk bermain ludo di salah satu aplikasi yang sedang hitz sekarang karena selalu kalah dengan lawan main akhirnya aku memilih menyudahi permainan ini karena mulai merasa bosan lalu aku menaruh ponsel di atas meja, kini aku arahkan pandangan ini menatap wajah tampan suamiku yang sedang serius menyelesaikan tugasnya di kantor karena dia akan ikut bersamaku menjenguk Anggun di rumah sakit, aku sudah bilang padanya jika pergi sendiri saja ke rumah sakit tapi Mas Sadam tidak mengijinkannya dan mengatakan tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan berkas yang harus ia tanda tangani. Bahkan Mas Sadam juga sudah menyuruh Pak Rokim pulang lebih awal.


“Pahatan wajahnya sangat sempurna sekali sungguh membuat aku semakin terpesona akan parasnya yang tampan dan juga memikat banyak wanita yang menyukainya jika mengingat akan hal itu aku semakin cemburu sekali,” aku berbicara sendiri tanpa bersuara sembari menatapnya yang sibuk berkerja.


Aku mulai berdiri dari posisi dudukku mengajak kaki ini melangkah mendekatinya perlahan agar tidak membuyarkan fokus suamiku akan berkas dihadapannya, aku berdiri dibelakangnya lalu lelaki itu menoleh ke arahku menatap wajahku sendu dan tanpa disangka Mas Sadam menarik aku kedalam pangkuannya dan aku yang tidak siap jatuh kedalam dekapan suamiku, kini dia


melingkarkan kedua tangannya di pinggangku posesif, aku bisa merasakan deru nafasnya memburu setiap kali berada di jarak dekat denganku bahkan binar matanya terlihat sekali jika dia sangat menginginkanku, ingin mendekap ku dan kembali merasakan malam itu malam dimana aku masih merasa trauma akan sikapnya.


“Sayang, apakah kamu bosan?” tanyanya padaku sembari menatapku tanpa berkerdip.


“Tidak,” jawabku cepat. “apakah aku boleh bertanya sesuatu?” aku memastikan lebih dahulu sebelum berbicara. Ya, aku sudah mencoba untuk menahan rasa penasaran di hati ini akan kehadiran Mbak Tasya tadi, tapi aku tidak bisa melakukannya dan masih kepikiran saja akhirnya memilih untuk membuka suara.


“Tentu saja, bicaralah.”


“Tadi sebelum masuk kedalam perusahaan aku tidak sengaja melihat Mbak Tasya keluar dari perusahaan ini, dia bahkan bersama dengan lelaki


itu,” aku berhati-hati dalam bicara bahkan dengan sengaja aku menurunkan nada bicaraku agar tidak memancing emosinya sebab hal ini terlalu pribadi sekali dan aku takut menyakiti hatinya.


“Ya, aku tahu dia bersama dengan kekasihnya,” aku melihat perubahan air muka Mas Sadam terdengar nada kecewa dari ucapan yang ia lontarkan barusan.


“Lalu untuk apa, Mbak Tasya kesini?” tanyaku dengan sangat hati-hati sekali. Terdengar hembusan nafas kasar lolos dari bibirnya seakan lelaki itu baru saja membuang emosinya bercampur hembusan nafas tersebut.


“Aku memblokir semua kartu kredit dan juga kartu atm-nya dan dia marah padaku meminta aku untuk memulihkan semuanya namun, aku menolaknya,” aku ingin sekali percaya dengan ucapannya akan tetapi aku merasakan ada hal yang masih di sembunyikan oleh Mas Sadam, tapi aku tidak tahu itu apa,


“Mas Sadam, maaf jika aku bertanya seperti ini semoga kamu tidak merasa terganggu dengan pertanyaanku tadi,” aku tidak membahas lebih lanjut karena bisa merasakan kekalutan di manik matanya.

__ADS_1


Lelaki itu membelai wajahku perlahan dan kini manik matanya mengunci tatapanku. “Kamu adalah istriku dan jangan pernah ragu untuk bertanya


padaku.” Aku anggukkan kepala lalu beranjak berdiri dari posisi duduk karena tidak ingin mengganggunya.


1 jam kemudian.


Mas Sadam sudah menyelesaikan semua pekerjaanya, dia mengandeng tanganku keluar dari ruangan kantornya. Aku berusaha melepaskan


genggaman tangannya tapi dia malah semakin mempererat genggamannya. Sekilas aku mengedarkan pandangan kearah semua staf di perusahaan ini dan mereka menatapku sembari mengerutkan keningnya seakan merasa aneh melihat aku berada di samping bos mereka dan bukan Mbak Tasya. Aku menundukkan kepala membiarkan suamiku


membimbingku keluar dari perusahaan ini, Mas Sadam menatap lurus ke depan tanpa perduli dengan pemikiran pekerjanya mungkin karena dia sudah biasa menjadi pusat perhatian. Seorang satpam berjalan menghampiri kami kemudian memberikan kunci mobil pada Mas Sadam, lelaki itu langsung menerimanya lalu membuka pintu


mobil mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu kemudian ia sendiri mengitari mobilnya untuk duduk di sampingku.


ini, ada seorang lelaki menatapku ketika kami sedang berada di dalam lift lalu Mas Sadam segera menarik pinggangku lebih dekat dengannya seakan menunjukkan jika aku hanya miliknya seorang lalu lelaki yang menatapku langsung mengalihkan


padangan kearah lain.


Kini kami berdua sudah berdiri di depan pintu ruangan Anggun berada, aku melihat dari kaca berbentuk segitiga yang ada di pintu ini dengan


sangat jelas aku melihat Anggun meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya, aku langsung membuka pintu itu dan dengan kasar berlari kearahnya sedangkan Mas


sadam sendiri memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Anggun. Anggun terkejut melihat kehadiranku lalu aku melihat gadis kecil itu mengigit bibir bagian bawahnya sembari memaksakan senyuman di bibirnya, aku melihat wajahnya pucat


pasih dengan keringat menggembun di jidatnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu merasakan sakit? Tunggu sebentar dokter akan datang untuk memeriksa kamu,” ucapku panik sembari langsung memeluknya, aku merasakan tubuhnya gemetar seolah sedang menahan rasa sakitnya agar tidak bisa aku lihat, dia tidak mau membuat aku cemas dan lebih memilih menahan rasa sakitnya sendiri.


“Mbak Sifa, aku baik-baik saja jangan cemas,” ucapnya dengan suara gemetar.


“Anggun, tidak bisakah kamu membagi rasa sakit ini pada,


Mbak Sifa? Kamu bisa memukul, Mbak agar kita bisa merasakan rasa sakit ini bersama,” aku membentaknya karena tidak tahan melihatnya selalu menahan sakit


sendirian aku menatapnya dia masih tersenyum padaku dengan paksa. Aku menangis melihatnya seperti ini adikku yang aku sayangi lebih memikirkan perasaanku dari pada dirinya sendiri.


“Anggun, nggak mau membuat Mbak Sifa cemas, Mbak Sifa sudah


menanggung banyak penderitaan karena Anggun,” aku melihat wajahnya semakin memucat tapi dia masih tersenyum dengan alis yang berkerut seakan menahan rasa sakit yang semakin menusuknya.


“Mbak Sifa, adakah kakak kamu sudah seharusnya kamu membagi


apapun dengan, Mbak,” aku terisak saat bicara sampai suara ini terdengar tidak jelas.


“Anggun minta maaf, Anggun adalah penyebab semua penderitaan yang, Mbak Sifa alami,” setelah bicara tubuh kecilnya terkulai lemas dan aku berteriak histeris melihatnya bukankah sebelumnya kondisi Anggun sangat stabil lalu kenapa dia jadi seperti ini.


“Dokter … dokter … dokter!” aku berteriak seperti orang gila sembari


mengguncang tubuh Anggun, tapi gadis kecilku masih belum sadarkan diri juga perhatianku mulai tersita setelah mendengarkan bunyi alat deteksi jantung itu ini memenuhi ruangan kamar adikku. Aku menatap garis lurus mulai memenuhi seluruh pandanganku, tubuhku semakin gemetar hebat dan semakin aku dekap erat tubuh Anggun tidak mau kehilangannya, cairan bening ini tidak berhenti berproduksi sampai air mata yang terburai membasahi baju berwarna biru rumah sakit yang tengah adik kesayanganku ini pakai.


‘Jika kamu pergi, lalu apa artinya semua pengorbananku ini!’

__ADS_1


__ADS_2