Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Rencana Yang Indah


__ADS_3

Spontan langsung aku jauhkan tangan ini dari bibirnya yang sempat memikat kutadi, kenapa aku bodoh sekali tidak memikirkan lebih dahulu


sebelum menyentuhnya tadi. Aku langsung menundukkan pandangan tidak berani menatap matanya yang nampak sayup, lelaki itu memelukku hingga kini aku bisa merasakan nafasnya menerpa wajahku, hangat dan mampu membuat gelombang panas di tubuh ini. Sekujur bulu halus di tubuhku seakan memang sempurna ketika terpaan hangat nafasnya membelai wajah ini.


“Kau sangat cantik sekali meskipun baru bangun tidur,” aku merasakan pipiku merona merah karena ucapannya di pagi hari. Sedikit aku


jauhkan tubuh ini darinya akan tetapi gagal sebab Mas Sadam semakin membimbing tubuh ini mendekat padanya.


“Mas, aku mohon lepaskan, aku mau membuat sarapan pagi,” aku mencoba melarikan diri dari tatapannya yang mematikan itu entah mengapa aku bergidik lagi ketika mengingat keberingasannya dalam menyentuhku malam itu. Aku tidak siap sangat tidak siap untuk kembali menjadi pelampiasan amarahnya lebih baik segera pergi saja ke dapur-menjauh darinya itu akan lebih baik.


“Kau sudah membangunkan aku, entah mengapa aku tidak bisa


menahan untuk tidak menyentuh kamu,” suara beratnya membuat jantungku berdetak semakin kencang saja.


“Mas, kamu sudah berjanji padaku,” usai mendengarkan apa yang aku katakan lelaki itu langsung melonggarkan cekalan tangannya di pinggang ini.


“Baiklah, pergilah ke dapur aku akan menyelesaikannya sendiri,” aku langsung mengerutkan kening tidak mengerti dengan arti ucapan suamiku.


“Maksudnya apa, Mas?” dengan polos aku bertanya.


“Sayang, lekas lah pergi sebelum aku kesulitan mengendalikan hasrat ini,” aku langsung mengganggukkan kepala mengerti.


Ya, Tuhan seharusnya aku tadi tidak menyentuhnya, sebenarnya aku merasa bersalah karena tidak bisa memberikan apa yang suamiku butuhkan, tapi apa daya aku juga masih merasa trauma dengan sikapnya. Mungkin selama ini


Mas Sadam selalu melakukan hal itu ketika menahan dirinya agar tidak menyentuh Mbak Tasya. Aku baru saja keluar dari kamar mandi ternyata Mas Sadam sudah menunggu aku di samping pintu kamar mandi setelah melihat aku melewati pintu ini dia segera bergantian masuk kedalamnya. Mas aku akan memberikan yang terbaik untuk kamu kalau trauma ini sudah hilang.


Di dapur.

__ADS_1


 Aku masuk kedalam pintu dapur dan melihat Mama Elsa sudah menyiapkan bahan yang nantinya akan kita gunakan untuk membuat sarapan pagi. Aku bisa menebak jika pagi ini Mama Elsa akan membuat sayur sop dengan ayam goreng dan juga soto daging, aku sudah mengenali semua isian yang ada di dalam dapur ini jadi mudah saja untuk aku bisa menebak semuanya dengan mudah. Mama Elsa sedang mencuci ayam di wastafel dia langsung menyambut aku dengan senyuman manisnya-senyuman itu cerah sekali mengalahkan cerahnya senja di pagi ini.


“Pagi, Sifana biar, Mama saja yang membuat sarpan pagi sedangkan kamu temani Sadam saja,” aku melihat Mama Elsa mencuci tangannya lalu menghampiri aku.


“Ma, aku sudah bisa melakukan hal ini justru, Mama yang harusnya keluar dari dapur lalu membiarkan aku memasak untuk kalian semua,” sahutku dengan penuh pengertian.


“Kamu memang menantu idaman sekali, tidak menyesal dulu, Mama menikahkan kalian,” pujinya padaku sembari memegang kedua pipiku.


“Ma, jangan berlebihan dalam memuji.” Aku tidak terlalu bangga jika di puji tak seperti kebanyakan orang bahkan aku merasa malu jika sampai ada orang yang mencoba memujiku seperti sekarang ini.


“Mama bicara jujur,” sahutnya cepat. “kalau begitu kita membuat sarapan pagi bersama.”


Aku dan juga Mama Elsa sesekali bebincang-bincang renyah mengenai banyak hal dan entah mengapa kami merasa cocok sekali bahkan sudah


seperti teman lebih lagi Mama Elsa berbeda dengan mertua lainnya, dia bahkan menganggap aku seperti menantu dan juga temannya sendiri. Aku dan juga Mama Elsa memasak bersama sesekali kami tertawa jika dianggap ada yang lucu dalam


lebih lagi Papa damar belum melakukan sarapan. Mas Sadam mengajak Papa Damar untuk melakukan aktifitas lari pagi di halaman rumah dan Papa Damar


mengiyakannya sebab keduanya sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama semenjak konflik dengan Mbak Tasya terjadi.


Aku melirik Mama Elsa yang mengusap cairan bening di sudut


matanya, wanita paruh baya itu merasa sangat bahagia karena putranya kembali pada mereka, Mama Elsa mendekati aku lalu langsung memelukku sembari berkata.


“Sayang, terima kasih karena kamu keutuhan keluarga ini kembali lagi. Hari yang selama ini hanya bisa menjadi angan-angan kosong itu


mulai terlihat nyata, Sadam bersikap ramah dan juga mau menganggap kami sebagai kedua orangtuanya,” pelukan ini terlepas dan aku mengusap cairan yang lolos di

__ADS_1


kedua pipi mertuaku. “terima kasih karena kamu sudah hadir di kehidupan kami,” sambungnya lalu mengecup keningku.


“Sifana, lebih beruntung karena memiliki kedua mertua yang baik hati dan juga sangat mengerti keadaan Sifana sejak dari awal.”


Semua sarapan pagi ini sudah matang aku dan juga Mama Elsa


bergantian menaruh semua mangkuk berisikan makanan di atas meja, kami menatanya serapi mungkin. Aku mencuci piring di wastafel sedangkan Mama Elsa memanggil yang lainnya untuk melakukan sarapan pagi, selama berada didalam rumah ini


untuk kali pertama aku merasa tenang karena tidak ada sepasang mata yang selalu menatapku dengan penuh intimidasi. Rencana author sangat indah sekali karena memberikan kebahagian yang sempurna untukku setelah musibah panjang yang sempat terjadi aku sungguh tidak pernah menduga semua ini, selama ini aku selalu


mengira jika hubunganku dan juga Mas Sadam akan berakhir dengan perceraian, begitulah kehidupan kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan namun, yang kita butuhkan.


Aku sudah selesai mencuci semua piring kotor di wastafel lalu aku berbalik arah dan secara kebetulan terlihat Mama elsa mengandeng Liora


masuk ke dalam dapur dan dibelakangnya terdapat kedua pria gagah yang sangat aku sayangi yaitu Papa Damar dan juga Mas Sadam tentunya.


“Mama Sifana, masak apa?” Aku melihat Liora melepaskan genggaman tangannya dari Mama Elsa lalu gadis kecil menggemaskan itu berlari kearahku. Aku melihat rambut panjangnya yang di kucir dua berayun kesana-kemari mengikuti gerak kakinya.


“Mama Sifana, masak makanan kesukaan, Liora,” sahutku sembari menundukkan tubuh untuk membenahi poninya yang sedikit berantakan saat ia berlari menghampiriku tadi.


“Yee …., kenapa Mama Sifana selalu tahu apa yang, Liora inginkan?” binar matanya terlihat penasaran sekali dengan jawaban yang akan aku berikan.


"Karena, Nenek dan juga Mama Sifana menyayangi, Liora. Tadi Nenek menyiapkan bahan untuk membuat sarapan pagi dan Mama Sifana bantu membuatnya," aku menjelaskan perlahan agar gadis kecil ini mengerti.


"Mama Tasya, tidak pernah mengerti apa yang, Liora inginkan apakah itu tandanya jika Mama Tasya tidak menyayangi, Liora?" aku melihat kilatan kesedihan sedang menyeruak manik mata berwarna karamel ini. Liora pasti sedih dan tidak seharusnya aku mengatakan itu tadi jika dari awal aku tahu gadis kecil ini akan memberikan jawaban yang memilukan seperti sekarang.


Jangan lupa berikan like dan juga komentar untuk novel remahan author ini, ya terima kasih

__ADS_1


__ADS_2