Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Semua Berduka


__ADS_3

Sadam Pov.


Aku sungguh ketakutan sekali ketika melihat cairan berwarna merah pekat merembes keluar dari baju berwarna pick yang dikenakan oleh istriku. Warna itu membuat seluruh tubuhku seakan lemas karena takut kehilangannya. Baru kali pertama ini Aku merasakan ketakutan yang teramat sangat menjalari sekujur tubuh ini, tanpa membuang waktu lagi Aku langsung membopong tubuhnya lalu mendekapnya erat agar dia tidak sampai jatuh.


“Sayang … sayang biarkan saja wanita itu lenyap dari bumi ini dengan begitu kita akan bersama lagi.” Aku sungguh ingin melenyapkan Tasya mengunakan tangan ini, wanita itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, bagaimana mungkin Aku bisa mempertahankannya selama ini Aku sungguh bodoh sekali.


“Ayo, biarkan polisi saja yang mengurusnya,” ucap Papa Damar padaku.


“Mama, tolong jaga Anggun dan juga Liora. Pastikan mereka berdua tidak mengetahui apa yang terjadi,” ucapku sebelum melangkah pergi. Aku melihat Mama Elsa menangis histeris sekali saat mengetahui wajah Sifana semakin pucat pasih dalam gendonganku.


“Pa, tolong temani Sadam.” Aku masih bisa mendengarkan Samar-samar permintaan Mama Elsa pada Papa Damar. Isak tangis tertahan dari bibir wanita paruh baya itu begitu menyayat hatiku.


“Sadam, Biar Papa saja yang mengemudikan mobil ini.” Aku langsung mengganggukkan kepala tanpa berpikir panjang.


Kini mobil ini sudah melaju keluar dari halaman rumah, Aku melihat para satpam memegangi Tasya yang berontak seperti orang gila. Kini Aku menarik pandangan kearah Sifana, Aku menekan luka di perutnya agar dara tidak terus keluar dari tubuhnya Aku memeluknya dengan sangat erat, berharap pada Tuhan agar tidak memisahkan kami berdua, sungguh Aku ingin menghabiskan sisa waktu ini bersama dengan kamu Sifana. Papa Damar beberapa kali menata kearah belakang dari kaca yang ada di atas kepalanya namun, aku memintanya tetap memusatkan perhatian kearah jalanan meskipun Aku tahu jika Papaku pasti merasa cemas melihat kondisi menantu kesayangannya ini.


Selang beberapa waktu mobil sudah berhenti di halaman rumah sakit. Papa Damar segera membuka pintu mobil ini kemudian Aku keluar sembari membopong tubuh Sifana setengah berlari masuk kedalam rumah sakit.


“Suster … suster tolong istri saya,” teriakku sembari membawa Sifana dalam gendongan.


Beberapa Suster  yang kebetulan sedang melintas di hadapanku segera membawa ranjang pasien. Lalu aku membaringkan perlahan tubuh istriku di atas ranjang.

__ADS_1


“Sayang, bertahanlah mereka akan membantu Kamu, Kau harus ingat jika Ada kami semua dan juga Anggun yang menunggu kamu,” ucapku memberikan motifasi padanya. Aku terus menggenggam tangannya sembari melangkah di samping ranjang ini yang sedang di dorong oleh para Suster.


“Pak, Anda tidak boleh ikut masuk.” Usai bicara Suster tersebut langsung membawa Istriku masuk kedalam sana.


“Suster saya ingin menemaninya,” teriakku sembari mengetok pintu bercat putih tulang yang kini sudah tertutup rapat itu.


“Sadam, biarkan mereka menjalankan tugasnya, Nak. Kita hanya bisa membantu Istri kamu dengan do’a.” Papa Damar memelukku, dan untuk kali pertama Aku menitihkan air mata, mungkin kalian semua akan mengganggap Aku ini lelaki yang lemah karena menangis seperti wanita akan tetapi Sifana sangat berarti bagiku hingga Aku menempatkannya jauh di dalam relung hati ini untuk selalu aku cintai dan aku jaga sampai hembusan nafas terakhir.


“Pa, wanita itu harus diberikan pelajaran yang setimpal,” ucapku pada Papa Damar sembari mengusap kedua air mata yang membasahi pipi.


“Kamu tenang saja, kini Dia sudah berada di kantor polisi,” ucap Papa Damar sembari menepuk pundak ku tiga kali. “Papa benar-benar tidak menyangka jika Tasya akan melakukan hal ini,” sambung Papa Damar sembari mengusap kasar wajahnya dengan tangan.


Aku jatuh berlutut di lantai lalu memegangi kakinya. “Pa, maafkan Sadam karena selama ini selalu mengabaikan Apa yang Papa dan juga Mama katakan,” ucapku penuh penyesalan.


Papa Damar menarik aku perlahan agar kembali berdiri dengan tegap, lelaki itu langsung memelukku kembali dengan erat seakan Ia tidak ingin melihat Aku terpuruk seperti ini, Papa menepuk punggungku mencoba menenangkan ku. “Sadam, Papa sudah memaafkan kamu, Istri kamu sudah menceritakan semuanya pada Mama Elsa waktu itu dan kamu tahu, Mama tidak pernah menyembunyikan apapun dari Papa. Papa bisa mengerti pemikiran kamu waktu itu, dan semua sudah berlalu sekarang yang terpenting adalah kesehatan istri kamu.”


“Pa, terima kasih karena masih bisa memaafkan Sadam atas apa yang telah Sadam lakukan dimasa lalu,” aku menarik nafas dalam lalu mengusap air mata ini. Aku tidak boleh menangis karena, itu akan membuat Istriku cemas jika Dia sudah bangun nanti.


Selang beberapa waktu.


“Sebenarnya Apa yang mereka semua lakukan di dalam sana! Kenapa masih belum membuka pintunya juga,” ucapku sembari beranjak menarik tubuh ini dari kursi stainless yang ada di depan ruangan ini.

__ADS_1


“Sadam, kamu harus sabar. Para Dokter yang sedang ada di dalam sana sedang melakukan tugasnya,” ucap Papa Damar ikut menarik tubuhnya dari kursi lalu berdiri di sampingku.


Pandanganku mulai tersita pada dering ponsel Papa Damar. Aku melihat Papa Damar merogoh sakunya lalu melihat siapa yang meneleponnya.


“Mama.” Papa Damar tahu jika aku penasaran dengan siapa yang menghubunginya dan tanpa diminta lelaki itu langsung memberitahukannya padaku sendiri.


“Hallo, Ma,” ucap Papa Damar setelah menaruh ponsel itu di dekat telinganya.


“Pa, Aku mau dengar,” pintaku padanya. Papa Damar langsung mengganggukkan kepalanya lalu melospeaker panggilan telepon ini agar Aku bisa mendengarkan apa yang Mama Elsa katakan.


“Pa, bagaimana dengan kondisi Sifana, hiks … hiks … hiks. Mama ingin sekali kesana andaikan Ada yang menjaga Anggun dan juga Liora.” Aku bisa mendengarkan jika Mama Elsa menahan isak tangisnya. Suaranya terdengar gemetar Aku sungguh terharu melihat wanita yang telah melahirkan ku itu begitu menyayangi istriku sampai seperti ini.


“Dokter masih berada didalam ruangan UGD, Papa belum tahu bagaimana kondisi Sifana sekarang, kita semua berharap Dia akan baik-baik saja.” Aku melihat kecemasan terpancar dengan sangat jelas dari air muka Papa Damar, tapi Ia mencoba berbicara dengan nada suara teratur agar tidak membuat kepanikan Mama Elsa semakin menjadi-jadi.


“Ma, bagaimana dengan Anggun dan juga Liora.” Aku tidak tahan untuk tidak bertanya mengenai kedua anak itu.


“Mereka baru saja tidur, Mama Akan menganti panggilan ini ke video call agar Kamu bisa melihatnya.”


“Terima kasih, Ma.”


Mama Elsa mengarahkan kameranya ke belakang sehingga kamu bisa melihat wanita paruh baya itu mulai membuka pintu ruangan kamar Anggun dan juga Liora.

__ADS_1


Aku melirik kearah Papa Damar yang mengusap sudut matanya saat melihat Liora dan juga Anggun tidur di satu ranjang yang sama dan mereka berdua berpelukan.


Semoga Sifana baik-baik saja, jangan sampai Anggun masuk rumah sakit kembali jika mengetahui kondisi kakak kandungnya itu.


__ADS_2