Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kenapa Kamu Berbohong


__ADS_3

Aku terjingkat kaget ketika mendengarkan suara petir yang


menyambar dengan begitu kencang, aku membuka mata lalu melihat sosok seseorang yang kini tengah duduk di kursi yang berada di sudut kamar ini, padahal tadi aku ingat dengan sangat jelas jika lampu kamar ini menyala sebab aku tidak pernah suka tidur dalam keadaan kamar yang gelap-gulita ataukah ini mati lampu? Lalu apa yang harus aku lakukan, sudah aku coba mengucek mata ini mengunakan kedua tangan akan tetapi sosok yang berada di sudut kamar ini masih belum hilang juga. Apakah itu hantu? Tapi kenapa ada hantu didalam kamar ini


sedangkan bisanya tidak pernah ada.


Bayanganku mulai Travelling kemana-mana aku sungguh takut


sekali. “Ka-kamu siapa?” tanyaku pada sosok yang tidak terlihat jelas, apakah dia manusia ataukah bukan.


Cletarr … dresss … dress …


Baru kali pertama ini aku takut pada hantu, aku sungguh ingin kabur saja dari ruangan kamar ini akan tetapi tubuhku seakan lumpuh dan tidak bisa diajak kompromi. Lelaki itu berdiri dari posisi duduknya kemudian melangkah menghampiriku, aku hanya bisa menutup sekujur tubuh ini menggunakan selimut agar tidak bisa melihat wajahnya dan aku berharap semua ini akan lekas


berakhir. Tidak lupa aku memohon pada Tuhan agar menyelamatkan aku dari hantu apapun itu namanya sebab aku harus menjaga Anggun-adik kecilku.


Kini sekujur tubuhku mulai di selimuti oleh keringat dingin, rasa nyeri akhibat luka benturan tadi tidak aku pedulikan, aku sungguh takut

__ADS_1


sekali sampai gemetar didalam selimut ini akan tetapi beberapa menit kemudian aku langsung membuka mata ketika melihat seluruh ruangan kamar ini


terang-benderang karena lampu didalam kamar ini telah menyala.


“Apakah aku membuat kamu takut?” terdengar suara yang tidak asing di ingatanku. Tanpa ragu aku langsung menjauhkan selimut yang menutupi


wajah lalu menoleh ke asal suara tersebut


Kedua mataku langsung membulat penuh ketika mengetahui jika ini adalah Mas Sadam, tapi kenapa lelaki itu ada di dalam kamarku dan apakah


dia sosok yang berada di sudut kamar. Aku hanya bisa terdiam karena terkejut bahkan sampai tidak menjawab kata-katanya barusan.


dan aku langsung menggoyangkan kepala untuk menjauhkan khayalan aneh tadi.


“Tidak mengganggu,” jawabku gugup sembari mendudukkan


tubuhku.

__ADS_1


“Apakah kepala kamu masih terasa pusing?” lelaki itu melangkah mendekatiku dengan tatapan tidak terbaca. Entah mengapa aku merasa


penasaran dengan isi hatinya, ya walaupun jelas aku tahu jika lelaki itu pasti sangat membenciku.


“Sedikit,” jawabku dengan gugup. Aku menundukkan kepala tidak mau bertatapan dengannya.


“Apakah aku boleh duduk di sini?” Mas Sadam berdiri di samping kursi yang kebetulan berada di dekat ranjang. Tanpa menatapnya aku


langsung mengganggukkan kepala setuju.


“Kenapa kamu tadi tidak mengatakan yang sebenarnya pada, Mama dan juga Papa? Bukankah kamu seharusnya senang karena ada cela untuk menjelek-njelekkan Tasya.” Kudengar tuduhan itu terlontar teratur dari bibir Mas Sadam. Aku merasakan jika kini lelaki itu tengah menunggu jawaban dariku dengan mata tajamnya itu.


Untuk melampiaskan perasaan gugup kedua tangan ini menggengam selimut dan aku mulai merasakan jika kedua tanganku lembab. “Aku tidak ingin jika sampai karena diriku, Mbak Tasya terkena amarah Mama dan juga Papa, karena aku memang salah menikah dengan lelaki yang sudah beristri,” dengan tahu diri aku mengatakan ini. Kedua tanganku semakin menggengam erat selimut yang aku pegang.


"Apakah, Tasya sering melakukannya?" aku yang tadinya tertunduk langsung menengadahkan kepala melihat Mas Sadam, apakah barusan aku salah dengar mana mungkin Mas Sadam meragukan Mbak Tasya, ataukah ini hanya firasat ku saja?


"Ini baru kali pertama," jawabku sembari kembali menundukkan kepala. "sebenarnya, Mbak Tasya tidak salah karena dia mengira aku telah mengadu pada Mama mengenai kepergiannya," sambungku lagi.

__ADS_1


Aku meneguk salivah yang terasa getir, Mas Sadam melirik kearah nakas dan di sana terdapat gelas yang sudah kosong. Ya seharian ini aku hanya berbaring saja di atas ranjang sebab Mama Elsa tidak memperbolehkan aku keluar dari kamar bahkan Mama mertuaku sensi yang mengantarkan makan malam dan terus menjagaku sampai aku tertidur.


'Karena aku bersalah telah menikah dengan lelaki yang sudah beristri. Bukankah seperti itu, Mas Sadam?'


__ADS_2